"Bisa Menyenangkan Bisa Menyelamatkan" (Husnul khatimah)
Pemateri : Ustadz Abu Umar Indra, S.S (Hafidzahullah)
Hari/Tanggal : Jum'at, 14 Rabi'ul Akhir 1438 H/ 15 Januari 2017 M
Tempat : Masjid Darul Ihsan, Telkom Corporate University.
Resume Oleh : Revi Rizki Ahmad ( Sastra Arab 2016 )
[Ilmu Syar'i Hunter]
***
Ketika diberikan nikmat mereka bersyukur, mereka pula bersabar ketika diberikan musibah, maka mereka diberikan janji Allah ﷻ.
Sesungguhnya orang yang sabar diberi pahala tanpa batas, dijadikan orang orang yang bersegera dan sungguh-sungguh dalam keta'atan mereka memiliki jasad di bumi, namun derajatnya diangkat.
"Ditinggikannya derajat orang-orang di surga karena ibadah mereka".
Ibnul Qayyim Rahimahullah : Pertolongan pertama Allah adalah diberikan kemauan untuk beribadah, tahapannya yaitu :
1. Bisa beribadah
2. Diterima ibadahnya, setelah mereka mampu ; Ikhlas dan Ittiba'
***
Tidak dengan ke bid'ahan. Apa itu bid'ah?
Bid'ah menurut salah seorang 'ulama : Cara dalam agama yang baru yang menyerupai syari'at, tetapi dilakukan berlebih lebihan, meskipun diniatkan untuk bertaqarrub kepada Allah ﷻ.
Padahal dengan tidak Ittiba', maka sejatinya kita menjauh kepada Allah ﷻ.
َإِيَّاكَ نَسْتَعِين :
1. Orang yang ikhlas dan Ittiba' pada Nabi ﷺ
2. Tidak keduanya
3. Ikhlas saja tanpa Ittiba'
4. Ittiba' saja tanpa Ikhlas
Namun dalam kehidupan hamba, akan mendapatkan kesenangan maupun kesengsaraan. Maka itulah 2 pintu ujian Allah agar nampak pada dirinya kesungguhan dalam keta'atan pada Allah ﷻ
2. Diberikan nikmat, maka Allah tenangkan hatinya.
Itulah 2 ciri orang yang berhasil di hadapan Allah ﷻ. Maka, tidak hanya cukup dengan satu kriteria saja.
Namun, yang paling dikhawatirkan adalah ketika Allah ﷻ menguji kita dengan kesenangan.
Dari Amr Bin ‘Auf al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ mengutus Abu Ubaidah Bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Rasulullah ﷺ telah menerima permintaan damai dari penduduk Bahrain dan beliau mengangkat al-Ala’ Bin al-Hadhrami untuk menjadi ‘amir (pemimpin) di sana.
Ketika Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa harta jizyah itu, para sahabat kaum Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah ini. Maka merekapun berkumpul untuk menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah ﷺ. Ketika telah selesai shalat, Rasulullah ﷺ langsung keluar. Namun mereka berusaha merintangi beliau ﷺ. Ketika melihat mereka, Rasulullah ﷺ tersenyum kemudian berkata, “Saya mengira kalian telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah membawa sesuatu dari Bahrain?”
Mereka berkata, “Benar wahai Rasulullah ﷺ .”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.”(Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)
***
2. Jika diberi musibah, ia sabar
3. Jika dia melakukan dosa, ia istighfar
Bagian manusia di dunia ini adalah umurnya, bila ia membaguskan hidupnya dengan perkara yang bermanfaat di akhirat, maka dagangannya tidak akan gugur.
Nabi ﷺ bersabda :
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan(tidak pernah merasa cukup) (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allâh tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya, maka Allâh akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”. [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani]
Setelah mati mikirin apa? Cuma apa yang didepan, apakah adzab atau nikmat
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hashr : 18)
"Hisablah diri kalian sebelum diri kalian dihisab"
"Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran". (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan yang lainnya)
Dan berkata 'Abdullah bin Mas'ûd Radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ جَالِسٌ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَنْقَلِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ لَهُ: هَكَذَا فَذَهَبَ، وَأَمَرَّ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ
"Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung, dia takut apabila gunung tersebut menimpanya, dan seorang fasiq melihat dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di atas hidungnya, maka dia singkirkan seperti ini, yaitu diusir dengan telapak tangannya" (HR. Al Bukhari).
Banyak yang melakukan dosa kecil namun tidak memikirkan dzat yang ia langgar
Dan berkata 'Abdullôh bin Mas'ûd Radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ جَالِسٌ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَنْقَلِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ لَهُ: هَكَذَا فَذَهَبَ، وَأَمَرَّ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ
"Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung, dia takut apabila gunung tersebut menimpanya, dan seorang fasiq melihat dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di atas hidungnya, maka dia singkirkan seperti ini, yaitu diusir dengan telapak tangannya" (HR. Al Bukhari)
Bagaimana agar bisa mendapatkan Husnul khatimah
Firman Allah ﷻ :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran : 102)
Firman Allah ﷻ :
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
"dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (Al Hujurat : 99)
Yang senantiasa harus dijaga agar mendapatkan Husnul khatimah; Bertaqwa dan beribadah.
Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi ﷺ pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.
Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)
Dalam riwayat lain disebutkan,
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)
Nabi ﷺ juga bersabda,
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)
Diantara yang paling utama untuk beristiqamah ialah senantiasa belajar, memahami ilmu syar'i
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu pernah berkata : "sesungguhnya hakikat ilmu itu ketakutan pada Allah subhaanahu wa ta'ala"
***
2. Berziarah kubur,
3. Ikut memandikan dan menguburkan jenazah,
4. Banyak mendatangi orang-orang shaleh.
***
2. Panjang angan-angan,
3. Cinta maksiat dan membiasakannya,
4. Memiliki aqidah yang buruk,
5. Berpaling dari keistiqamahan,
6. Lemahnya iman yang akan membuatnya cinta dunia.
Allahu walīyuttaufiq
Semoga Bermanfaat
Barakallahu fiikum
#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g
Hari/Tanggal : Jum'at, 14 Rabi'ul Akhir 1438 H/ 15 Januari 2017 M
Tempat : Masjid Darul Ihsan, Telkom Corporate University.
Resume Oleh : Revi Rizki Ahmad ( Sastra Arab 2016 )
[Ilmu Syar'i Hunter]
***
Ketika diberikan nikmat mereka bersyukur, mereka pula bersabar ketika diberikan musibah, maka mereka diberikan janji Allah ﷻ.
Sesungguhnya orang yang sabar diberi pahala tanpa batas, dijadikan orang orang yang bersegera dan sungguh-sungguh dalam keta'atan mereka memiliki jasad di bumi, namun derajatnya diangkat.
"Ditinggikannya derajat orang-orang di surga karena ibadah mereka".
Tafsir ayat :
إِيَّاكَ نَعْبُدُIbnul Qayyim Rahimahullah : Pertolongan pertama Allah adalah diberikan kemauan untuk beribadah, tahapannya yaitu :
1. Bisa beribadah
2. Diterima ibadahnya, setelah mereka mampu ; Ikhlas dan Ittiba'
***
Tidak dengan ke bid'ahan. Apa itu bid'ah?
Bid'ah menurut salah seorang 'ulama : Cara dalam agama yang baru yang menyerupai syari'at, tetapi dilakukan berlebih lebihan, meskipun diniatkan untuk bertaqarrub kepada Allah ﷻ.
Padahal dengan tidak Ittiba', maka sejatinya kita menjauh kepada Allah ﷻ.
َإِيَّاكَ نَسْتَعِين :
1. Orang yang ikhlas dan Ittiba' pada Nabi ﷺ
2. Tidak keduanya
3. Ikhlas saja tanpa Ittiba'
4. Ittiba' saja tanpa Ikhlas
Namun dalam kehidupan hamba, akan mendapatkan kesenangan maupun kesengsaraan. Maka itulah 2 pintu ujian Allah agar nampak pada dirinya kesungguhan dalam keta'atan pada Allah ﷻ
Bentuk rahmat Allah ﷻ :
1. Diberikan musibah, maka Allah kokohkan hatinya,2. Diberikan nikmat, maka Allah tenangkan hatinya.
Itulah 2 ciri orang yang berhasil di hadapan Allah ﷻ. Maka, tidak hanya cukup dengan satu kriteria saja.
Namun, yang paling dikhawatirkan adalah ketika Allah ﷻ menguji kita dengan kesenangan.
Dari Amr Bin ‘Auf al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ mengutus Abu Ubaidah Bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Rasulullah ﷺ telah menerima permintaan damai dari penduduk Bahrain dan beliau mengangkat al-Ala’ Bin al-Hadhrami untuk menjadi ‘amir (pemimpin) di sana.
Ketika Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa harta jizyah itu, para sahabat kaum Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah ini. Maka merekapun berkumpul untuk menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah ﷺ. Ketika telah selesai shalat, Rasulullah ﷺ langsung keluar. Namun mereka berusaha merintangi beliau ﷺ. Ketika melihat mereka, Rasulullah ﷺ tersenyum kemudian berkata, “Saya mengira kalian telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah membawa sesuatu dari Bahrain?”
Mereka berkata, “Benar wahai Rasulullah ﷺ .”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.”(Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)
***
3 tanda kebahagiaan seseorang :
1. Jika diberi nikmat, ia syukur2. Jika diberi musibah, ia sabar
3. Jika dia melakukan dosa, ia istighfar
Bagian manusia di dunia ini adalah umurnya, bila ia membaguskan hidupnya dengan perkara yang bermanfaat di akhirat, maka dagangannya tidak akan gugur.
Nabi ﷺ bersabda :
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan(tidak pernah merasa cukup) (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allâh tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya, maka Allâh akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”. [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani]
Setelah mati mikirin apa? Cuma apa yang didepan, apakah adzab atau nikmat
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hashr : 18)
"Hisablah diri kalian sebelum diri kalian dihisab"
"Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran". (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan yang lainnya)
Dan berkata 'Abdullah bin Mas'ûd Radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ جَالِسٌ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَنْقَلِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ لَهُ: هَكَذَا فَذَهَبَ، وَأَمَرَّ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ
"Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung, dia takut apabila gunung tersebut menimpanya, dan seorang fasiq melihat dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di atas hidungnya, maka dia singkirkan seperti ini, yaitu diusir dengan telapak tangannya" (HR. Al Bukhari).
Banyak yang melakukan dosa kecil namun tidak memikirkan dzat yang ia langgar
Dan berkata 'Abdullôh bin Mas'ûd Radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ جَالِسٌ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَنْقَلِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ لَهُ: هَكَذَا فَذَهَبَ، وَأَمَرَّ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ
"Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung, dia takut apabila gunung tersebut menimpanya, dan seorang fasiq melihat dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di atas hidungnya, maka dia singkirkan seperti ini, yaitu diusir dengan telapak tangannya" (HR. Al Bukhari)
Bagaimana agar bisa mendapatkan Husnul khatimah
Firman Allah ﷻ :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran : 102)
Firman Allah ﷻ :
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
"dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (Al Hujurat : 99)
Yang senantiasa harus dijaga agar mendapatkan Husnul khatimah; Bertaqwa dan beribadah.
Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi ﷺ pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.
Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)
Dalam riwayat lain disebutkan,
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)
Nabi ﷺ juga bersabda,
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)
Diantara yang paling utama untuk beristiqamah ialah senantiasa belajar, memahami ilmu syar'i
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu pernah berkata : "sesungguhnya hakikat ilmu itu ketakutan pada Allah subhaanahu wa ta'ala"
***
Amalan yang dapat mendorong keinginan untuk senantiasa Husnul khatimah :
1. Terus menerus mengingat mati,2. Berziarah kubur,
3. Ikut memandikan dan menguburkan jenazah,
4. Banyak mendatangi orang-orang shaleh.
***
Diantara sebab-sebab Su'ul khatimah :
1. Menelatkan taubat,2. Panjang angan-angan,
3. Cinta maksiat dan membiasakannya,
4. Memiliki aqidah yang buruk,
5. Berpaling dari keistiqamahan,
6. Lemahnya iman yang akan membuatnya cinta dunia.
Allahu walīyuttaufiq
Semoga Bermanfaat
Barakallahu fiikum
#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g



Komentar
Posting Komentar