BUAH ILMU ADALAH AMAL
[Ilmu Syar'i Hunter]
Oleh: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc
Tempat : Masjid Al - Ukhuwah Bandung
Tanggal : 1 Rabi'ul Akhir 1438H
Resume oleh : Naufal Syahrial Hidayat - Agroteknologi 2016
[Muqaddimah]
Menuntut ilmu itu memiliki tujuan. Tujuan yang paling utama adalah beramal. Karena amal adalah hal yang dicintai Allah. Pada mulanya kita itu dilahirkan tanpa Ilmu. Maka diperlukan Ilmu untuk mengangkat ketidaktahuan tersebut. Kita diberikan perangkat oleh Allah yang dengannya kita dapat menuntut ilmu. Diantara perangkat itu adalah:
1. Pendengaran
2. Penglihatan
3. Hati
Selain itu, menuntut ilmu adalah jalan paling besar untuk menggapai hidayah Allah untuk diri kita dan lingkungan kita. Syari’at islam akan terjaga dengan menuntut ilmu.
[Pembahasan Kitab]
Tidak perlu diragukan lagi keagungan ilmu dalam agama ini. Ilmu adalah asas agama ini. Tidak mungkin syari’at maupun ibadah ditegakkan kecuali dengan ilmu. Maka ilmu itu adalah asas yang wajib dimiliki setiap muslim. Dalam salah satu ayatnya, Allah ﷻ mendorong kita untuk mengetahui sesuatu.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka KETAHUILAH, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal." (Muhammad:19)
Bahkan diantara do'a Nabi ﷺ setiap pagi setelah Sholat Fajr adalah meminta ilmu :
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)." (HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Dari do'a tersebut diatas, dapat digarisbawahi 3 perkara yang diminta oleh Nabi ﷺ :
1. Ilmu yang bermanfaat
2. Rizki yang baik
3. Amal yang diterima
Nabi ﷺ mengedepankan ilmu yang bermanfaat diatas rizki yang baik dan amal yang diterima. Mengapa demikian? Karena seorang hamba tidak akan bisa membedakan rizki yang baik & buruk serta bagaimana amal diterima kecuali dengan ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dan penerang untuk berjalan diatas petunjuk. Allah ﷻ berfirman:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu CAHAYA, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk KEPADA JALAN YANG LURUS." (Asy-Syuro: 52)
Perumpamaan seorang 'alim (orang yang berilmu) diantara ummat seperti sekelompok manusia dalam kegelapan. Diantara manusia itu ada seseorang yang membawa penerang. Dia memberikan cahaya bagi yang lainnya untuk penerangan jalan yang akan mereka lalui, sehingga mereka selamat. Oleh karena itu banyak dalil dari Al-Quran maupun As-Sunnah yang menjelaskan ketutamaan ilmu. Diantaranya:
1. Orang yang berilmu diberikan derajat yang tinggi. Dalam ayatnya, Allah ﷻ menggandengkan kesaksian-Nya dengan kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian Tauhid. Allah ﷻ berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia; yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang BERILMU (juga menyatakan yang demikian).Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia (Tauhid), Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali-Imran : 18)
2. Orang yang berilmu itu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Allah ﷻ berfirman:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (Az-Zummar:9)
3. Hadist yang agung tentang keutamaan penuntut ilmu. Rasul ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”
Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu.
4. Orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat. Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: 'Berdirilah kamu', maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (Mujadilah:11)
Orang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan beberapa derajat diatas orang yang beriman namun tidak didasari dengan ilmu.
"Kemuliaan manusia terletak pada ilmunya, bukan fisiknya" -Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc-
Wallahua'lam.
#ResumeKajian
___________________
©HUNTER UNPAD 2016
Oleh: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc
Tempat : Masjid Al - Ukhuwah Bandung
Tanggal : 1 Rabi'ul Akhir 1438H
Resume oleh : Naufal Syahrial Hidayat - Agroteknologi 2016
[Muqaddimah]
Menuntut ilmu itu memiliki tujuan. Tujuan yang paling utama adalah beramal. Karena amal adalah hal yang dicintai Allah. Pada mulanya kita itu dilahirkan tanpa Ilmu. Maka diperlukan Ilmu untuk mengangkat ketidaktahuan tersebut. Kita diberikan perangkat oleh Allah yang dengannya kita dapat menuntut ilmu. Diantara perangkat itu adalah:
1. Pendengaran
2. Penglihatan
3. Hati
Selain itu, menuntut ilmu adalah jalan paling besar untuk menggapai hidayah Allah untuk diri kita dan lingkungan kita. Syari’at islam akan terjaga dengan menuntut ilmu.
[Pembahasan Kitab]
Tidak perlu diragukan lagi keagungan ilmu dalam agama ini. Ilmu adalah asas agama ini. Tidak mungkin syari’at maupun ibadah ditegakkan kecuali dengan ilmu. Maka ilmu itu adalah asas yang wajib dimiliki setiap muslim. Dalam salah satu ayatnya, Allah ﷻ mendorong kita untuk mengetahui sesuatu.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka KETAHUILAH, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal." (Muhammad:19)
Bahkan diantara do'a Nabi ﷺ setiap pagi setelah Sholat Fajr adalah meminta ilmu :
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)." (HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Dari do'a tersebut diatas, dapat digarisbawahi 3 perkara yang diminta oleh Nabi ﷺ :
1. Ilmu yang bermanfaat
2. Rizki yang baik
3. Amal yang diterima
Nabi ﷺ mengedepankan ilmu yang bermanfaat diatas rizki yang baik dan amal yang diterima. Mengapa demikian? Karena seorang hamba tidak akan bisa membedakan rizki yang baik & buruk serta bagaimana amal diterima kecuali dengan ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dan penerang untuk berjalan diatas petunjuk. Allah ﷻ berfirman:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu CAHAYA, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk KEPADA JALAN YANG LURUS." (Asy-Syuro: 52)
Perumpamaan seorang 'alim (orang yang berilmu) diantara ummat seperti sekelompok manusia dalam kegelapan. Diantara manusia itu ada seseorang yang membawa penerang. Dia memberikan cahaya bagi yang lainnya untuk penerangan jalan yang akan mereka lalui, sehingga mereka selamat. Oleh karena itu banyak dalil dari Al-Quran maupun As-Sunnah yang menjelaskan ketutamaan ilmu. Diantaranya:
1. Orang yang berilmu diberikan derajat yang tinggi. Dalam ayatnya, Allah ﷻ menggandengkan kesaksian-Nya dengan kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian Tauhid. Allah ﷻ berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia; yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang BERILMU (juga menyatakan yang demikian).Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia (Tauhid), Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali-Imran : 18)
2. Orang yang berilmu itu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Allah ﷻ berfirman:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (Az-Zummar:9)
3. Hadist yang agung tentang keutamaan penuntut ilmu. Rasul ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”
Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu.
4. Orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat. Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: 'Berdirilah kamu', maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (Mujadilah:11)
Orang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan beberapa derajat diatas orang yang beriman namun tidak didasari dengan ilmu.
"Kemuliaan manusia terletak pada ilmunya, bukan fisiknya" -Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc-
Wallahua'lam.
#ResumeKajian
___________________
©HUNTER UNPAD 2016



Komentar
Posting Komentar