TABLIGH AKBAR SERIAL SAHABAT "Abu Thalhah Al-Anshari Radhiyallahu 'anhu" SANG KSATRIA NABI
Pemateri : Ustadz DR. Khalid Basalamah, M.A
Tempat : Masjid Nurul Iman Blok M Square Lt.7 (Jakarta Selatan)
Hari/Tanggal : Sabtu, 15 Rabiuts-Tsani 1438 H / 14 Januari 2017 M
***
Resume ini langsung membahas mengenai poin-poin inti kisah sahabat, adapun mengenai Siroh Abu Thalhah Radhiyallahu'anhu tidak tertuliskan di dalam resume ini karena keterbatasan penulis dalam menangkap materi siroh.
Manaqîb / Kelebihan Abu Thalhah :
1. Orang pertama yang masuk islam dari kaum Anshor
2. Ksatria Pelindung Nabi Muhammad ﷺ
3. Bisa membunuh 20 Orang kafir pada perang Hunain dalam "Duel"
4. Memiliki Istri yang shalihah "Ummu Sulaim"
5. Menerima apa yang sudah Allah Ujikan
6. "Karamah" Jenazahnya tidak hancur selama 7 Hari
7. Tidak tertinggal dan telat shalat malam, dan shaum sunnah
8. Mati Syahid
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Abu Thalhah Radiyallahu'anhu :
1. Pentingnya mempelajari kehidupan para sahabat
2. Bagaimana pentingnya seseorang menikah dan memilih istri yang shalihah
3. Bagaimana bolehnya seseorang saat menikah dengan memberikan mahar berupa keimanannya,
4. Bolehnya seseorang berbicara dengan orang yang dia nikahi,
5. Jaminan surga kepada Ummu Sulaim, karena dapat menarik Abu Thalhah menjadi seorang mualaf
6. Fadhilah sabar, bagaimana seseorang bisa sabar dalam menghadapi masalah, Allah ﷻ Berfirman,
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ؕ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ؕ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."
(QS. Az-Zumar: Ayat 10)
Juga Allah ﷻ memuji orang-orang yang sabar,
اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّآئِمِيْنَ وَالصّٰٓئِمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰـفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
(QS. Al-Ahzab: Ayat 35)
Dan juga Allah ﷻ berfirman,
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْا ؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar."
(QS. Al-Anfal: Ayat 46)
Hasan Al-bashri Rahimahullah berkata,
Puncak kesabaran dimana dia bisa menahan lisannya.
Allah ﷻ juga berfirman dalam Ayat terakhir di Surat Ali Imran :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا ۙ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 200)
7. Memilih tempat dan waktu dalam menyelesaikan masalah, Sebagaimana Ummu Sulaim mimilih waktu yang tepat kepada Abu Thalhah tentang anaknya yang meninggal.
8. Tidak bolehnya seorang muslimin dan muslimah mencampuri urusan orang lain, apalagi jika kita mendengarkan satu pihak
9. Memberikan Nasihat kepada orang yang merupakan bidang kita
10. Fadhilah Jihad & Menguasi keterampilan perang :
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا عَبَايَةُ بْنُ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْسٍ هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جَبْرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ
Kedua kaki seorang hamba yg berdebu fi sabilillah tak akan disentuh oleh api neraka. (HR. Bukhari No.2600)
… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ.
“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” Shahih: HR. Ahmad (V/231, 236, 237, 245-246), at-Tirmidzi (no. 2616), ‘Abdurrazzaq (no. 20303), Ibnu Majah (no. 3973), dan yang lainnya.
***
Orang mukmin yang kuat secara fisik itu jauh lebih baik dan lebih dicintai dibanding orang mukmin yang lemah.
Oleh karena itu untuk menjadi muslim yang kuat adalah, jagalah apa-apa yang bermanfaat bagimu.
Dan jika kalian berkata ataupun berdoa tentang sesuatu, maka janganlah bilang "Seandainya" karena itu membuka pintu syaithon.
Maka untuk menjadi mukmin yang kuat haruslah kita mempersiapkan apa yang kita mampu terutama fisik dan mental, sebagaimana Allah ﷻ berfirman :
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَـيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْ ۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمُ ۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْ ؕ وَمَا تُـنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْـتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ
"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)."
(QS. Al-Anfal: Ayat 60)
Mempersiapkan fisik dan mental itu salah satunya bisa didapatkan pada panahan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.
Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullahﷺ bersabda di atas mimbar:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)
Dicatat oleh Al Bazzar dalam Musnad-nya (1048), Al ‘Athar dalam Juz-nya (52), Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (2093), dari jalan Hatim bin Laits,
حَاتِمُ بْنُ اللَّيْثِ الْجَوْهَرِيُّ , قَالَ : نا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ , قَالَ : نا أَبُو عَوَانَةَ ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِيهِ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” عَلَيْكُمْ بِالرَّمْيِ ، فَإِنَّهُ خَيْرٌ لَعِبِكُمْ
“dari Hatim bin Laits Al Jauhari, ia berkata: Yahya bin Hammad menuturkan kepada kami, ia berkata: Abu ‘Awwanah menuturkan kepada kami, dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu) ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘hendaknya kalian latihan menembak karena itu permainan yang paling bagus bagi kalian‘” (Shahih,
diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Ath Thabrani dalam Al Ausath, dan sanadnya jayyid qawiy” (At Targhib, 2/170)).
Adapun keutamaan memanah sebagai berikut :
1. Harus konsentrasi dan membutuhkan kesabaran agar terkena sasaran
Lemparlah panah dan tunggangilah kuda (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari thahawi, Rasulullah ﷺ bersabda :
Ajarkanlah anak kalian berenang dan menunggangi kuda
2. Lalu selanjutnya adalah berkuda
Nabi ﷺ pernah mengikuti lomba kuda yang dikempiskan dari Hafâya sampai Tsanīyatil wada' (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ memberi hadiah kepada sahabat yang menang (HR. Ahmad).
Sebaiknya perlombaan dilakukan pada Unta, Panah dan Kuda.
3. Berenang
4. Lomba lari
dari ‘Aisyah di mana ia pernah berlomba lari bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adanya taruhan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa,
أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ قَالَتْ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَىَّ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِى فَقَالَ « هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ ».
Ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud no. 2578 dan Ahmad 6: 264. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
***
Awal mula kain ihram lengan kanan laki-laki diperlihatkan yaitu pada perjanjian 'udaibiyyah. Saat itu Abu Sufyan belum masuk islam dan mengatakan bahwa orang-orang Muslim terjangkit penyakit kuning. Penyakit kuning pada saat itu tanda kurang berolahraga, lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan umat muslim agar menyingkapkan lengan kanannya dan berlari kecil sambil bertalbiyyah, lalu orang Quraisy menyangka "Tidak mungkin orang yang terjangkit penyakit kuning begini".
5. Mahir menggunakan pedang
6. Gulat
Kisah Rukanah yang beradu gulat dengan Rasulullah ﷺ
Ibnu Ishaq mengatakan, “Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku: Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthallib bin Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling kuat. Suatu hari ia bersama Rasulullah ﷺ di suatu kampung Mekah (sebelum hijrah).
Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: Wahai Rukanah, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dan menerima dakwahku?
Rukanah menjawab: Seandainya aku mengetahui apa yang engkau serukan itu adalah kebenaran, pasti aku akan mengikutimu.
Rasulullah menimpali: Bagaimana kiranya kukalahkan engkau dalam gulat. Apakah engkau akan meyakini kebenaran perkataanku?
Rukanah menjawab: Iya.
Rasulullah berseru: Ayo berdiri. Akan kukalahkan engkau.”
Abu Ishaq melanjutkan kisahnya, “Rukanah pun menyambut tantangan itu. Keduanya pun duel gulat. Rasulullah ﷺ menyergapnya dan berhasil menjatuhkannya. Rukanah pun tak berdaya.
Penasaran dengan kekalahannya, Rukanah berkata: ‘Kita ulangi wahai Muhammad’. Keduanya pun kembali bergulat.
Rukanah kembali berkata: ‘Wahai Muhammad, luar biasa, kau berhasil mengalahkanku!’
Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Yang lebih luar biasa dari ini pun akan kutunjukkan jika engkau mau. Jika engkau bertakwa kepada Allah dan menaatiku’.
‘Apa itu?’ Tanya Rukanah.
Nabi ﷺ menjawab: ‘Akan kupanggil pohon yang engkau lihat itu. Dan dia akan datang kepadaku’.
‘Panggillah’, tantang Rukanah.
Pohon itu pun datang hingga ke hadapan Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepada pohon itu: ‘Kembalilah ke tempatmu’. Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.
Rukanah pun pergi menuju kaumnya. Ia berkata, ‘Wahai anak-anak Abdu Manaf, mereka telah menyihir masyarakat. Demi Allah, aku tidak pernah melihat penyihir yang lebih sakti darinya’. Kemudian Rukanah mengabarkan apa yang ia lihat.” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, tahqiq al-Halabi, 1: 390-391).
Dalam riwayat al-Baladzuri disebutkan bahwa Rukanah-lah yang menantang Rasulullah ﷺ bergulat. Ia dikabarkan tentang Nabi ﷺ. Lalu Rukanah menemui beliau di salah satu bukit di Mekah. Rukanah mengatakan, “Wahai anak saudaraku –karena sama-sama bani Abdu Manaf-, telah sampai kabar tentangmu kepadaku. Aku tidak mengenal engkau sebagai pembohong. Jika engkau mengalahkanku (dalam gulat), maka aku yakin engkau orang yang benar”. Nabi ﷺ pun bergulat dengannya sebanyak tiga kali.
Abu al-Yaqzhan mengatakan: Ketika Rukanah datang kepada Nabi ﷺ untuk memeluk Islam di hari Fathu Mekah, ia berkata, “Demi Allah, aku mengetahui jika engkau bergulat denganku, engkau akan mendapat pertolongan dari langit”. Kemudian ia pindah ke Madinah dan tinggal di sana hingga wafat di awal pemerintahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu (Ansabul Asyraf oleh al-Baladzuri, 1: 155, 9: 392-392. Ia memiliki penguat dalam riwayat at-Tirmidzi 1784, Abu Dawud 4078, dan al-Hakim 5903).
***
9. Fadhilah Syaja'ah (Keberanian)
10. Mengembalikan segala sesuatu kepada ahlinya. (Saat Abu Thalhah telah makan, berhubungan badan dan setelah itu diberi tahu bahwa anaknya telah meninggal, lalu langsung melaporkan kepada Nabi Muhammad ﷺ)
11. Pentingnya membawa anak kepada orang yang shalih untuk mentahniknya, sebagaimana Abu Thalhah langsung membawa anaknya kepada Rasulullah ﷺ setelah dilahirkan, dan diberikan nama oleh Rasulullah ﷺ, dengan nama "Abdullah".
12. Bolehnya perempuan mengikuti jihad, sebagaimana Ummu Sulaim dan 'Aisyah Radhiyallahu 'anha saat membawakan air untuk memberikan minum kepada para prajurit perang saat berkecamuknya perang.
13. Shodaqoh
14. Menjadi Orang kaya sebagaimana Abu Thalhah, dalam islam menjadi orang kaya itu penting dengan niat Karena Allah, dengan memperhatikan :
- Modalnya Halal
- Sistemnya Halal
- Prodaknya Halal
- Selanjutnya Bertawakal kepada Allah ﷻ,
Kita disuruh berusaha dan berikhtiar, karena menjadi kaya dan miskin adalah ikhtiar.
15. Bolehnya mengambil berkah saat Nabi Muhammad ﷺ masih hidup, sebagaimana Nabi ﷺ memberikan rambutnya ke Abu Thalhah.
16. Menggapai ridho Allah, sebagaimana Abu Thalhah tidak pernah telat dan terlewat dari Shalat Malam dan Shaum Sunnah.
17. "Karamah" saat seseorang telah mencapai puncak keimanannya. Dan dimana karamah Abu Thalhah adalah Setelah 7 Hari jenazahnya belum dikubur dan belum rusak juga mengeluarkan aroma harum dari tubuhnya.
18. Selalu menggunakan kalimat Optimis dan Positif yang bisa diambil dari Sahabat Nabi yang mulia, Abu Thalhah Radhiyallahu'anhu.





Komentar
Posting Komentar