UST. ABDULLAH ZAEN - KEDUDUKAN AKHLAH #2
Kedudukan Akhlak - 2
Abdullah Zaen, MA
Masjid Jenderal Soedirman, Purwokerto
Jumat, 10 April 2015
Disusun oleh: Pradipta Prayoga
Bandung, 14 Jumadil Awwal 1438H/11 Februari 2017
Dengan pengubahan seperlunya
MUQODDIMAH
Alhamdulillahirobbil ‘alamin wa bihi nasta’inu ‘ala ‘umuri dunya waddin wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Amma ba’du.
Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah ﷻ tabaroka wa ta’ala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, kita kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, dan taufiq dari Allah ﷻ sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin malam Sabtu di Masjid Jenderal Soedirman di Purwokerto ini. Kita berharap semoga Allah ﷻ berkenan untuk melimpahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap ke Allah ﷻ. Aamiin.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, kepada para sahabatnya, keluarganya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga hari akhir nanti.
Para hadirin yang kami hormati dan para pemirsa yang senantiasa dirahmati Allah ﷻ… Pada pertemuan yang lalu, kita mulai pembahasan tentang klasifikasi akhlak di dalam Islam. Bahwa akhlak di dalam agama kita cakupannya sangatlah luas. Tidak seperti akhlak di ajaran-ajaran yang lainnya. Di dalam agama kita, akhlak sangat sempurna. Di antara bentuk kesempurnaannya adalah cakupannya yang sangat luas. Dan kemarin, kita sudah memulai pembahasan bahwa akhlak itu secara garis besar terbagi menjadi dua:
- Akhlak kepada Allah
- Akhlak kepada makhluk, terbagi menjadi 2:
- Akhlak kepada diri sendiri
- Akhlak kepada makhluk yang lainnya, ada yang bersifat kepada selain manusia, malaikat, jin, dan binatang.
Kemarin ada pertanyaan, ketika kita menjelaskan akhlak kepada binatang, kita sampaikan bagaimana Nabi ﷺ marah kepada seorang yang membakar sarang semut. Ada yang bertanya, “Ustadz, bagaimana dengan binatang yang mengganggu (tikus), apakah boleh untuk dibunuh?”, jawabannya, pertama, perlu disampaikan bahwa kajian kita itu judulnya itu adalah klasifikasi akhlak, jadi sedang menjelaskan sampel-sampel akhlak, jadi bukan sedang kupas tuntas. Makanya kita cuma memberi satu atau dua hadits karena kalau kupas tuntas nanti ada waktunya, kita baru muqoddimah, tapi tidak apa-apa ketika ada yang bertanya seperti itu, Nabi ﷺ membolehkan untuk membunuh binatang-binatang menganggu, seperti binatang-binatang jahat yang membahayakan. Di antaranya disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,
خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ، وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ.
“Ada lima binatang jahat diperbolehkan untuk dibunuh di tanah halal dan tanah haram (sebagian kota Mekah dan Madinah), yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing buas.”
Dari sini, para ulama menjelaskan, kesimpulannya dari hadits ini, bahwa seluruh binatang yang menganggu dan membahayakan boleh dibunuh. Berarti selain lima ini ada yang boleh dibunuh seperti ular. Jadi inilah adab yang kaitannya dengan binatang.
MATERI INTI
Berikutnya adalah akhlak kepada tetumbuhan. Di dalam agama kita, ada adab yang diajarkan oleh Nabi ﷺ untuk masalah tetumbuhan. Di antaranya adalah motivasi bagi kita untuk rajin menanam tumbuhan atau pohon. Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَة ٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian pohon/ tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.”
Lihat bagaimana Nabi ﷺ memotivasi kita untuk menanam supaya diambil manfaatnya, makanya bagi yang punya sawah yang mulai menguning, ditunggui tidak apa, tapi jangan berlebihan.
Selanjutnya, etika terhadap air. Di antara etika yang diajarkan dalam agama kita terhadap air adalah larangan untuk boros menggunakan air. Jadi 14 abad yang lalu, Nabi ﷺ sudah mengajarkan SAVE WATER. Orang barat baru saja sekarang-sekarang ini, Nabi ﷺ 14 abad yang lalu sudah mengajarkan supaya kita tidak boros dalam menggunakan air. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan sanadnya dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan, “Pada suatu hari, Nabi ﷺ lewat, ada seorang sahabat yang sedang wudhu yang bernama Sa’ad dan air yang digunakan banyak. Maka Nabi ﷺ langsung menegur, ‘Mengapa engkau boros seperti ini?’ Kemudian Sa’ad bertanya, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, apakah ada boros di dalam wudhu?’ Kata Nabi ﷺ, “Ya. Wahai Sa’ad ada yang namanya boros dalam menggunakan air sekalipun engkau wudhu di sungai yang mengalir”. Jadi kalau kita wudhu di sungai yang mengalir itu juga ada borosnya. Sekarang saat air sedang banyak kita malah boros, tapi nanti ketika sedang tidak ada air baru terasa. Kalau seandainya di sungai kita tidak boleh boros apalagi kalau di kran. Ada sebagian orang kalau wudhu kalau tidak maksimal krannya, tidak puas. Padahal yang digunakan satu telapak tangan dan yang lainnya terbuang. Mengapa harus membuka kran besar? Kan kita bisa buka kran kecil, sesuai dengan tuntunan. Ibadah itu dinilai benar atau tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Jadi kalau misalnya air itu cukup untuk sedikit, maka sedikit saja bahkan disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Rasulullah ﷺ pernah wudhu hanya dengan satu mud atau dua mud. Masalahnya kita belum terbiasa, makanya kalau kita belum bisa berwudhu dengan air segitu, minimal kalau kita menggunakan kran jangan terlalu besar.
Ada lagi akhlak terhadap air yang lainnya adalah larangan untuk buang air di air yang tergenang. Air yang tergenang itu seperti sumur, telaga, pokoknya di air yang tidak mengalir. Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ.
“Dari Jabir, dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau melarang untuk buang air kecil di air yang tergenang.”
Berarti buang air kecil tidak boleh, apalagi buang air besar, lebih tidak boleh lagi. Jadi agama kita itu, sebelum orang berbicara masalah pencemaran lingkungan hidup, agama kita itu sudah 14 abad lalu berbicara masalah itu. Makanya sering dikatakan bahwa seorang muslim kalau paham ajaran agamanya bener-bener kemudian diamalkan, bumi ini insyaa Allah akan awet. Akan tetapi, karena banyak di antara kaum muslimin yang tidak paham, kadang-kadang sudah paham tapi tidak peduli akhirnya bumi ini cepat rusak. Inilah adab terhadap air.
Lalu kalau misalnya airnya mengalir bagaimana? Itu boleh tidak? Kata sebagian ulama, dalam kitab Kifayatul Akhyar, kalau misalnya debit airnya itu kecil tidak boleh (makruh hukumnya, karena nanti nyantol ‘itunya’) dan kalau debit airnya besar, kalau tidak terpaksa sebaiknya dihindari karena buka aurat di depan umum. Apalagi kalau airnya menggenang. Dan dari sini pun kita paham bahwa buang sampah pun dilarang di dalam agama kita kalau sembarangan buangnya. Ada sebagian orang membuang benda apapun dibuang ke sungai, dan ketika ditimbang atau diukur sampahnya bisa sekian ratus ton sampah. Allahu akbar.
Jadi ini belum semua, masih ada akhlak yang lain yang bisa kita gali lagi, seperti akhlak kepada udara, dan masih banyak lagi, ada pembahasannya di dalam kitab-kitab para ulama. Kita melanjutkan ke makhluk yang kedua, yaitu manusia.
- Akhlak kepada manusia
Dan tentunya manusia ini mendapatkan porsi perhatian yang sangat besar di dalam agama kita karena merekalah makhluk-makhluk di antara makhluk-makhluk yang mendapatkan beban untuk mengamalkan syariat (mukallaf), pembahasannya luas dan bermacam-macam. Di antaranya adalah:
- Akhlak kepada Nabi Muhammad ﷺ
Nabi ﷺ kita adalah salah satu sosok yang paling berhak untuk kita sikapi dengan akhlak yang mulia karena jasa beliau yang sangat besar kepada kita. Tidak mungkin kita mengenal Islam kalau tidak karena hidayah dari Allah kemudian jasa dari Nabi Muhammad ﷺ. Makanya sebagian ulama mengatakan bahwa jasa Rasulullah ﷺ kepada kita itu lebih besar dibandingkan jasanya orang tua kita sendiri kepada kita karena Nabi ﷺ mengantarkan kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Kita jadi tau jalan menuju ke surga karena yang mengajarkan adalah Nabi Muhammad ﷺ. Maka wajar saja kalau beliau memiliki hak yang sangat besar, harus kita sikapi dengan etika yang paling mulia, di antaranya adalah kewajiban untuk mencintai beliau. Bahkan kecintaan kita kepada beliau harus lebih besar dibandingkan kecintaan kita kepada selain beliau sekalipun itu adalah orang tua dan anak kita sendiri. Rasulullah ﷺ berkata dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau mengatakan,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Kalian tidak dianggap beriman kecuali setelah diriku (Rasulullah ﷺ) lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
Iman kita tidak akan sempurna kalau kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ masih kalah porsinya dengan kecintaan kita kepada orang tua atau anak kita sendiri. Padahal orang tua dan anak itu yang paling kita cintai. Coba perhatikan di surat ‘Abasa,
وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ , وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ , يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
“Pada hari itu, seorang hamba akan meninggalkan saudaranya, ibunya dan bapaknya, istrinya dan anaknya,” lihat Allah mengurutkan dari yang paling disayang atau dari yang tingkat kecintaanya di bawah yang lainnya. Kalau kita lihat, yang pertama disebutkan adalah saudara, kemudian ibu, bapak, istri, dan anak. Yang paling dicintai adalah dari bawah ke atas. Saudara ini bisa kita tinggalkan, lalu bisa kita tinggalkan ibu, bapak, istri, kemudian anak. Bahkan sampai anak kita ketika hari kiamat kita tinggalkan. Padahal dia adalah orang yang paling kita cintai.
Nah, kalau kecintaan kita kepada anak mengalahkan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ, iman kita belum sempurna. “Ustadz, insyaa Allah cinta saya ke Rasulullah ﷺ lebih besar dibandingkan cinta saya ke orang tua dan anak.” Itu kan klaim, harus ada buktinya. “Ustadz, kecintaan saya ke Rasulullah ﷺ lebih besar daripada kecintaan saya kepada toko saya.” Coba buktikan, bagaimana? Kalau sebutlah dari pagi sampai menjelang dzuhur tidak ada orang yang mau beli. Ketika adzan, ternyata ada 10 orang mau beli. Buktikan kecintaan Anda kepada Nabi! Bagaimana membuktikannya? Diajak shalat itu 10 orang. Nah di situlah pembuktiannya, kecintaannya kita kepada dunia atau Rasulullah ﷺ, mana yang lebih besar? Ketika ada gesekan kepentingan, mana yang kita dahulukan? Maka di situ pembuktiannya! Kalau tidak ada gesekan, semuanya bisa mengklaim bahwa dia cinta kepada Rasulullah ﷺ. Artinya cinta kepada Rasulullah ﷺ itu bukan sekedar klaim yang diucapkan dengan lisan, akan tetapi harus kita buktikan bagaimana membuktikannya, yaitu dengan hati, lisan, dan anggota tubuh kita.
Dengan hati bagaimana? Dengan mengagungkan Nabi ﷺ, menghormati Nabi ﷺ, meyakini bahwa Nabi ﷺ adalah utusan Allah, meyakini jasa beliau yang sangat besar kepada kita, ini semua dengan hati.
Dengan lisan bagaimana? Di antara buktinya kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ adalah sering membaca sholawat kepada beliau. Semakin kita banyak membaca sholawat maka itu pertanda bahwa kita cinta kepada Rasulullah ﷺ terutama ketika kita mendengar nama beliau disebut. Yang penting lisan kita menggerakan dan membaca shollallahu ‘alaihi wasallam. Itu bukti kalau kita cinta dengan Rasulullah ﷺ. Ketika mendengar nama Rasulullah ﷺ maka sebutkan sholawat kepada beliau. Termasuk ketika kita menulis, tulislah shollallahu ‘alaihi wasallam jangan disingkat saw.
Buktikan bahwa kita cinta kepada Rasulullah ﷺ, buktikan dengan tulisan, ucapan, sholawat yang lengkap. Jangan pelit-pelit, itu yang mengawali singkatan-singkatan seperti itu adalah orang-orang orientalis, yaitu orang-orang yang berusaha yang merusak Islam atau orang barat yang mempelajari Islam untuk merusak Islam dari dalam. Kita umat Islam jangan mengekor kebiasaan orang-orang yang tidak suka dengan ajaran agama kita. Ini dengan lisan.
Kemudian dengan anggota tubuh, yaitu saat beribadah, teladanilah Nabi Muhammad ﷺ, sering kita mendengar firman Allah dalam surat al Ahzab: 21,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Telah ada di dalam diri Nabi Muhammad ﷺ suri tauladan yang baik,” sering kita baca ayat ini dan diulang di mimbar, di pengajian, buktinya mana kalau kita menedalani Nabi Muhammad ﷺ?
Ada di antara kita yang sudah shalat 60 tahun, 70 tahun, 80 tahun, ngga tau shalatnya apakah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah ﷺ atau tidak. Padahal beliau mengatakan,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatkan kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Apakah shalat kita sudah seperti apa yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ? Mana ayat yang tadi? Jadi meneladani Rasulullah ﷺ adalah konsekuensi dari ucapan kita,
“رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً”
Itu konsekuensinya, “Aku ridho Allah sebagai tuhan, aku ridho Islam sebagai agama, aku ridho Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabiku.” Buktinya mana? Buktinya kita menedalani Nabi ﷺ, kalau kita ridho Nabi ﷺ sebagai nabi, maka contohlah beliau di dalam beribadah. Kalau kita ga nyontoh Nabi, lalu apa fungsinya Nabi ﷺ diutus ke muka bumi? Apa gunanya Nabi ﷺ diutus ke muka bumi kalau kita beribadah, caranya semaunya sendiri. Kalau kita tidak mencontoh Nabi ﷺ dalam beribadah, lalu Nabi ﷺ diutus ke muka bumi, misinya apa?
PENUTUP
Ini yang kaitannya dengan masalah makhluk yang lain. Insyaa Allah kita akan lanjutkan di pertemuan yang akan datang. Selanjutnya adalah akhlak kepada keluarga dan keluarga ini ada orang tua, suami, anak, dan seterusnya. Semoga bermanfaat. Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangannya. Kita tutup dengan membaca
Subhanakallahuma wabihamdik, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Komentar
Posting Komentar