UST. ABDULLAH ZAEN - KEDUDUKAN AKHLAK


MASJID JENDERAL SOEDIRMAN, PURWOKERTO
JUMAT, 3 APRIL 2015
Disusun oleh: Pradipta Prayoga (UPI 2016)
Bandung, 8 Jumadil Awwal 1438H/5 Februari 2017
Dengan pengubahan seperlunya

Klik di sini untuk catatan yang lebih baik
https://goo.gl/qQhWkm




***

MUQODDIMAH



Pada pertemuan terakhir kita, membahas tentang kedudukan akhlak di dalam Islam. Saat itu kita membawakan salah satu hadits yang menunjukkan betapa tingginya akhlak dalam Islam yang berbunyi, “Sesungguhnya aku (Rasulullah ﷺ) diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Kemarin kita jelaskan, dari hadits ini, kita bisa memahami bahwa sebelum Nabi ﷺ diangkat menjadi rasul, orang Arab jahiliyyah sudah kenal yang namanya akhlak.
Jadi jangan dipikir akhlak itu hanya ada di dalam agama Islam. Sebelum Islam datang mereka sudah kenal akhlak. Lalu apa fungsinya Islam datang? Fungsinya untuk menyempurnakan akhlak. Jadi yang lebih sempurna adalah akhlak yang dibawa oleh Islam. Dan ini tidak menafikan bahwa orang Arab jahiliyyah punya akhlak.

***

MATERI INTI


Di dalam Islam, akhlak itu cakupannya luas sekali. Secara garis besar, akhlak bisa terbagi menjadi 2:

1. Akhlak kepada Allah ﷻ.

Ini yang sering orang tidak tahu. Dikiranya akhlak itu hanya kepada manusia. Hal ini sering diabaikan di zaman kita. Mereka terlalu mendewakan apa yang dinamakan dengan HAM (Hak Asasi Manusia), mereka lupa bahwa ada hak asasi yang lebih tinggi dari itu, yaitu hak asasi Allah ﷻ.

Di dalam agama kita, yang namanya perilaku kita kepada Allah ﷻ harus dijunjung tinggi, etika kita kepada Allah ﷻ harus kita perhatikan sebagaimana kita memperhatikan etika kepada makhluk bahkan etika kita kepada Allah ﷻ harus lebih diperhatikan daripada etika kepada manusia. Karena jasa Allah ﷻ kepada kita lebih besar daripada jasa manusia kepada kita. Contoh:

► Kita sama bos beretika ga? Beretika lah, kalau tidak dipecat. Kalau dipecat sama manusia, gampang, cari perusahaan yang lain. Bagaimana kalau dipecat sama Allah ﷻ? Mau cari tempat tinggal dimana? Seluruh bumi ini milik Allah ﷻ. Kalau mau pindah ke langit, langit juga kepunyaan Allah ﷻ. Makanya amat disayangkan, orang di zaman kita ini, begitu memperhatikan akhlak kepada manusia tapi tidak memperhatikan akhlak kepada Allah ﷻ. Yang paling penting akhlak kepada Allah ﷻ adalah bagaimana kita mentauhidkan Allah ﷻ. Mentauhidkan Allah ﷻ adalah memurnikan semua ibadah hanya kepada Allah ﷻ. Inilah etika terbesar yang harus dipenuhi seorang hamba kepada Allah ﷻ. Yaitu kita hanya mempersembahkan seluruh ibadah kita tanpa terkecuali hanya untuk Allah ﷻ.

► Di dalam doa iftitah, kita sering mengucapkan, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah ﷻ tuhan semesta alam”. Inilah yang namanya tauhid. Jadi etika terbesar yang harus dipenuhi seorang hamba kepada Allah ﷻ adalah bagaimana ia mengikhlaskan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah ﷻ.

► Contohnya orang yang tidak beretika kepada Allah ﷻ adalah orang yang mendua yang tidak bisa ditolerir dalam agama kita, yaitu mendua dalam beribadah. Menyembah Allah ﷻ iya, tapi menyembah selain Allah ﷻ juga iya. Ini namanya mendua dan ini tidak bisa ditolerir di dalam agama kita. Karena orang yang seperti ini tidak beretika kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ yang memberi segala sesuatu kepada kita kok malah menyembah juga selain Allah ﷻ. Shalatnya untuk Allah ﷻ tapi setiap malem Selasa kliwon tidak pernah terlambat memberi sesajen untuk pohon beringin. Ini orang yang kurang beretika kepada Allah ﷻ.

Etikanya, seluruh ibadah yang kita lakukan, entah itu doa, shalat, puasa, zakat, haji, semuanya ini harus kita persembahkan kepada Allah ﷻ SAJA. Ini akhlak kepada Allah ﷻ.

2. Akhlak kepada makhluk.
Inilah yang sering dibahas dimana-mana, tapi akhlak kepada Allah ﷻ jarang dibahas. Padahal keduanya penting. Ini dibagi lagi:

a. Akhlak kepada diri sendiri.
Ini kadang kurang diperhatikan oleh sebagian orang. Kita diberikan oleh Allah ﷻ tubuh, fisik, hati, otak, dan seterusnya, kewajiban kita adalah beretika dengan nikmat tersebut.

b. Akhlak kepada makhluk yang lain. Maksudnya selain diri kita. Ini terbagi lagi secara garis besar menjadi 2:

1) Malaikat, jin, binatang, tetumbuhan, batu, dan lain-lain (selain manusia).

Apakah kita dijarkan untuk beradab kepada malaikat? Ya. Karena malaikat adalah makhluk yang sangat mulia. Bagaimana adabnya?

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menggambarkan kepada kita bagaimana kita seharusnya beretika kepada malaikat, kata Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang setelah makan bawang merah, bawang putih, daun bawang dan yang serupa, janganlah ia dekati masjid kami. Karena malaikat merasa terganggu dengan sesuatu yang mengganggu bani Adam.”

► Jadi kalau orang makan bawang pergi ke masjid, mengganggu malaikat. Sebelum mengganggu manusia. Berarti kesimpulannya etika kepada malaikat tidak boleh mengganggu malaikat. Di antaranya adalah mengeluarkan bau-bau yang tidak sedap, segala macam yang berbau tidak sedap mengganggu malaikat. Selama itu mengganggu manusia maka itu mengganggu malaikat.

► Bau tidak sedap lainnya adalah kaus kaki (yang bau), ketiak (yang tidak mandi), rokok (ini termasuk mengganggu malaikat). Ini etika dengan makhluk selain Allah ﷻ.

Lalu ada jin. Ada etikanya. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ada seorang tabi’in yang bernama Al Qomah, bertanya kepada sahabat Nabi ﷺ yang bernama Ibnu Mas’ud, “Wahai Ibnu Mas’ud, apakah engkau beserta Nabi ﷺ di malam jin?”

Kata Ibnu Mas’ud, “Tidak ada di antara kami yang beserta Nabi ﷺ, hanya saja kami pada malam itu kehilangan Nabi ﷺ. Kami cari di lembah, padang pasir, tidak ketemu Nabi ﷺ. Sampai-sampai kami kira Nabi ﷺ diculik atau dibunuh atau dibawa oleh jin. Akhirnya malam itu kami tidur dalam keadaan gelisah dan sedih kehilangan Nabi ﷺ. Ketika kami bangun pagi-pagi, tiba-tiba Nabi ﷺ datang maka langsung para sahabat senang dan bertanya, ‘Dari mana saja engkau, wahai Rasulullah ﷺ?’ Kata Rasulullah ﷺ, ‘Tadi malam saya didatangi oleh da’inya jin. Maka akupun pergi bersama da’inya jin itu untuk mendakwahi jin dan saya bacakan Alquran kepada mereka.’ Maka Nabi ﷺ mengajak kami (para sahabat) ke tempat beliau mengisi pengajian di hadapan para jin. Kemudian Nabi ﷺ memperlihatkan bekas-bekasnya berupa api-api tempat mereka duduk (bekas-bekas bakaran). Ketika selesai pengajian, para jin itu meminta bekal kepada Nabi ﷺ, maka Nabi ﷺ berkata, ‘Saya akan memberi kalian sebuah bekal, setiap tulang sisa makanannya bani Adam yang sebelum makan dia baca bismillah, maka di tangan kalian tulang itu akan penuh lagi dengan daging . Adapun makanan untuk binatang tunggangan kalian adalah kotoran-kotoran . Maka jangan sekali-kali kalian berintinja’  dengan tulang atau kotoran karena keduanya makanan saudara kalian.” Inilah etika, etika yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada jin.

Lalu etika dengan binatang. Etika dengan binatang banyak, bahkan binatang mendapatkan porsi yang khusus oleh Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah sebuah hadits yang diceritakan oleh Abdulllah ibn Mas’ud ra dalam Sunan Abi Daud dan isnadnya dinilai shohih oleh Imam al Hakim bahwasanya pada suatu hari para sahabat bepergian dengan Rasulullah ﷺ. Di tengah jalan Rasulullah ﷺ ada kebutuhan untuk menunaikan hajatnya. Maka Nabi ﷺ pergi. Ketika Nabi ﷺ sedang pergi, ada di antara para sahabat yang melihat sarang burung yang ada anak-anak burung. Mereka iseng dan diambil anak-anak burung tersebut. Beberapa saat datang induknya mengepak-ngepakkan sayapnya, kehilangan anaknya. Ketika induk itu sedang mengepak-ngepakkan sayapnya, Nabi ﷺ datang. Begitu Nabi ﷺ datang melihat hal tersebut, beliau berkata, “Siapa di antara kalian yang menyakiti induk burung ini? Kembalikan anak burung ini di sarangnya.” Lihat, etika kepada binatang.

Kemudian setelah itu, Nabi ﷺ lihat, ada bakar-bakaran. Kemudian Nabi ﷺ bertanya, “Apa ini?”, mereka menjawab, “Ini ada sarang semut kami bakar.” Langsung Nabi ﷺ menegur mereka, “Ketahuilah bahwasanya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali pencipta api (Allah ﷻ).” Lihat, Nabi ﷺ mengajarkan etika kepada binatang, satu-satunya yang berhak untuk menyiksa dengan api adalah Allah ﷻ yang menciptakan api. Kalau manusia tidak boleh.

► Dari sini kita tahu di Youtube, yaitu ISIS yang membakar manusia yang tertangkap oleh mereka, ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Semut saja tidak boleh dibakar, apalagi manusia. Makanya ketika kita mempelajari hadits Nabi ﷺ, kita akan mudah dengan izin Allah ﷻ menilai fenomena di sekitar kita sehari-hari. Hanya orang-orang yang minim ilmu yang akan terjerumus dalam penyimpangan tersebut. Makanya kunci utama setelah taufik dari Allah ﷻ untuk selamat dari aliran-aliran dan gerakan-gerakan yang menyimpang adalah berilmu. Seorang yang punya ilmu yang mumpuni dengan izin Allah ﷻ akan selamat dari perilaku kelompok-kelompok yang menyimpang.

2) Manusia.

Terima kasih atas perhatiannya, kita cukupkan sampai di sini. Akan kita sambung lagi. Semoga bermanfaat.

Wallahu ta’ala a’lam. Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangannya.

Subhanakallahuma wabihamdik, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer