UST. ABU UMAR INDRA - FANATISME GOLONGAN


Minggu, 22 Jumadal Ula 1438 H. / 19 Februari 2017
Bertempat di Studio 2 Rodja Bandung, Jalan Jurang, Cipaganti – Bandung.
Pemateri : Ustadz Abu Umar Indra حفظه الله


Fanatik (Ta'ashub)
Identik dengan konotasi yang negatif, hal ini merupakan hal yang dicela dalam islam.


Dari ‘Amr bin Dinar rahimahullah dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:



كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ الأَنْصَارِىُّ يَا لَلأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِىُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ. فَقَالَ « دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ »


"Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Gaza, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul bokong seorang lelaki dari kaum Anshar.
Maka orang Anshar tadi pun berteriak: 'Wahai orang Anshar (tolong aku).' Orang Muhajirin tersebut pun berteriak:'Wahai orang muhajirin (tolong aku).'
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Seruan Jahiliyyah macam apa ini?!'
Mereka berkata:'Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.' Beliau bersabda: "Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk." (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)


Dalil tentang pernah terjadinya perkara fanatisme di golongan sahabat dan mendapat teguran dari rasululullah. Ini menunjukan fanatisme kesukuan termasuk perkara yang terlarang, dan nabi mengkategorikan nya sebagai seruan jahiliyah.


Definisi Ta'asub
Secara Bahasa : keras, mengikat, berkumpul mengelilingi sesuatu dan menolongnya.
Berasal dari kata 'Ashobiyyah : seseorang membela/menolong kerabatnya dan menghadapi orang yang memusuhi mereka, baik kerabat tersebut zalim ataupun terzalimi.


Secara Istilah : sikap keras dan mengambil sesuatu dengan keras, dan kasar dan tidak mau menerima pendapat orang yang berbeda pendapat dengannya dan menolaknya serta enggan mengikutinya sekalipun benar.


Bentuk-Bentuk Ta'ashub di masyarakat:
1. Ta'ashub Hizbi : Fanatik Golongan
Sikap fanatik terhadap kelompok, atau golongan, perkumpulan yang seseorang berafiliasi kepada perkumpulan, dan membelanya baik kelompok tersebut benar atau salah. Menyifati kelompok dengan kesempurnaan, serta menyebutkan kelebihan-kelebihannya dan menyerang selain golongannya dengan menyebutkan keburukan mereka. Mengagungkan kelompoknya dan merendahkan lainnya.


2. Ta'ashub Qaumi : Fanatik Kesukuan
Membela suku yang ia menisbatkan diri kepadanya dan ia berasal darinya, hanya karena kesukuan semata, sebagaimana yang terjadi sebagian kabilah-kabilah arab. Menyebabkan peperangan antar suku bahkan negara.


3. Ta'ashub Madzhabi : Fanatik Madzhab
Sering memecah belah kaum Muslimin. Dahulu ketika fikih pada zaman keterpurukannya, ada empat mimbar di Masjidil Haram. Seorang dengan madzhab berbeda saling melarang untuk sholat berjamaah bersama. Fanatisme tersebut menjadikan pintu ijtihad tertutup.


4. Tamyiz 'Unshuri : Membeda-bedakan Keturunan
Dapat disebabkan karena jenis kelamin, contohnya mengistimewakan golongan laki-laki tanpa dalil; perbedaan warna kulit, contohnya mengistimewakan warna kulit putih di atas kulit hitam; atau membeda-bedakan antara imigran dengan penduduk asli


5. Ta'ashub Fikri : Fanatik Pemikiran
Menolak pemikiran lain, tidak menerima dan mendengarkannya, serta enggan bersikap netral. Bersikap keras dalam berinteraksi dengannya, mengkritiknya dengan sangat pedas, membuatkan rupa dengan gambaran yang telah bercampur dengan banyak kesalahan dan kekeliruan, karena dibangun di atas pondasi fanatisme.


Sebab-sebab Ta'ashub :
1. Percaya Diri Yang Berlebihan


Seperti perkataan Fir'aun (yang diabadaikan dalam al-Qur'an):



…. مَآأُرِيكُمْ إِلاَّ مَآأَرَى وَمَآأَهْدِيكُمْ إِلاَّ سَبِيلَ الرَّشَادِ {29}


"….Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukan kepadamu selain jalan yang benar". (QS. Ghafir/al-Mu’min: 29)


Perasaan seperti ini terkadang dimiliki oleh pribadi, atau kelompok atau bangsa.


2. Kebodohan dan Keterbelakangan Wawasan
Permusuhan terhadap Islam pada hari ini, dan serangan yang dilakukan oleh sebagian bangsa Barat disebabkan karena kebodohan mengenai dasar-dasar Islam, dan ketidaktahuan tentang hakekat Islam yang sebenarnya.
Perusakan citra Islam, dan pelemparan syubhat-syubhat yang dilakukan oleh sebagian media komunikasi.


3. Pengkultusan Individu Dan Sikap Ghuluw


Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ … {31}


"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah…" (QS. At-Taubah: 31)


Sikap pengkultusan dan ghuluw ini terkadang sampai kepada batas memberikan sifat ma'shum kepada seseorang.


4. Tertutup Dan Wawasan Sempit
Kebanyakan kelompok bersifat tertutup, tidak meyebarkan sesuatu kecuali untuk anggotanya saja dan melarang pengikutnya untuk mendengar dari kelompok lain. Tidak jarang mereka mengkafirkan kelompok lain bila fanatisme ini terbentuk pada kelompok keagamaan.


Dalil yang sering digunakan :
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً


“Barangsiapa yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada ikatan bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah”. (HR. Muslim 4899).


Maka tampilah imam-imam kelompok yang membaiat anggotanya. Padahal banyak dalil lain yang menjelaskan kekeliruan mereka dalam mengambil kesimpulan.


عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ


Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”
Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”
Beliau berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”
Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”
Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”
Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”
Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.


Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’ Hadits ini telah diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no. 3992.
2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.
3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah I/113 no. 149.


Ibnu Mas’ud berkata,


الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك


“Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13).


5. Pendidikan Keluarga Yang Salah
Tumbuh di keluarga yang membeda-bedakan akan menghasilkan manusia-manusia yang fanatik, tertutup, dan ekstrim. Keluarga adalah benih masyarakat, dan dampak pendidikan keluarga pasti nampak terlihat di masyarakat tersebut, dan terkadang dampak pendidikan yang salah tersebut mendominasi perilaku masyarakat.


6. Pemahaman Agama Yang Salah
Seperti Fanatik Madzhab yang berakibat pada penolakan terhadap madzhab lain di dalam.


7. Hilangnya akhlak dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Allah subhanahu wa taalla berfirman,


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾


"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."


Q.S. Al Hujuraat : 13


Penting bagi kita mengetahui sebab-sebab fanatisme untuk mengerem diri dari ciri sifat tersebut yang dapat membawa perpecahan pada kaum muslimin.
Ketika bicara tentang sifat fanatik, tidaklah berarti kita lantas tidak mempertahankan kebenaran yang kita bawa terutama saat melawan kesyirikan, kekufuran dan kebid'ah-an. Kita memang tidak boleh fanatik tapi bukan berarti kita tidak memiliki prinsip, tinggal metode kita dalam menyampaikan hujjah untuk menegakan prinsip yang kita percaya.
Konsisten, istiqamah dengan agama tidak sama dengan fanatik. Jangan menilai seseorang berdasarkan hawa nafsu kita, memberi penilaian negatif pada seseorang hanya karena dia berbeda dengan diri kita adalah benih-benih fanatik.

Komentar

Postingan Populer