UST. FIRANDA ANDIRJA - HAKIKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID
Dauroh Kitab Tauhid
Bab 1 - Hakikat dan Kedudukan Tauhid
Bab 1 - Hakikat dan Kedudukan Tauhid
Ustadz DR. Firanda Andirja, M.A
Resume oleh : Revi Rizki Ahmad (Sastra Arab 2016)
[MUQADDIMAH]
10 kurun setelah masa Nabi Adam 'alaihissalam baru timbul kesyirikan. Timbulnya kerusakan di beberapa sisi tauhid maka dibagilah tauhidFirman Allah subhaanahu wa ta'ala :
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)". (Q.S Yusuf : 106)
Mereka dari sisi tauhid rububiyah tidak menyimpang, masih mengakui Allah subhaanahu wa ta'ala sebagai satu-satunya tuhan, akan tetapi mereka menjadikan perantara peribadahan mereka dengan sesuatu, maka mereka syirik dari sisi tauhid uluhiyah
Para ulama terdahulu membagi bagi tauhid untuk mengelompokan penyimpangan (kesyirikan) di masanya. Maka diantara mereka ada yang membagi menjadi 2 atau 3 dan lain sebagainya.
Benarkah Pembagian Tauhid Merupakan Perkara Bid'ah?
Adapun pembagian tauhid memang tidak pernah ada di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Akan tetapi, untuk memudahkan umat muslim memahami konsep tauhid, maka dibagi-bagi lah tauhid. Namun, pembagian ini hanya sebagai sarana tanpa mengubah apapun konsep tauhid sendiri, sama seperti halnya hukum dalam Islam yang terbagi menjadi ; Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh maupun Haram.
***
[BIOGRAFI PENULIS]
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah dilahirkan di tengah keluarga Ulama yang bila ditinjau dari sisi kedudukan, berasal dari keluarga terpandang, dan bila ditinjau dari sisi ekonomi juga bukan dari keluarga miskin, karena orang tua maupun kakeknya adalah Qadhi. Beliau dilahirkan di ‘Uyainah pada tahun 1115 H, atau kurang lebih tahun 1703 M
Di zaman beliau muncul kesyirikan dalam tauhid uluhiyah yang luar biasa, maka beliau paling banyak menulis kitab tauhid yang di fokuskan kepada uluhiyah. Adapun pada masa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah penyimpangan tauhid banyak dari sisi tauhid asma wa sifat, maka beliau banyak menulis kitab-kitab tauhid yang berfokus pada tauhid asma wa sifat
Diantara ulama-ulama yang menulis kitab tauhid (selain Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) :
1. Syaikh Imam Taqiyyuddin Ahmad bin ‘Ali Al-Maqrizi rahimahullah dalam kitabnya TAJRIDUT TAUHID AL-MUFID (تجريد التوحيد المفيد) berkata:
والناس في هذا الباب ( أعني زيارة القبور )، على ثلاثة أقسام:
– قوم يزورون الموتى فيدعون لهم وهذه الزيارة الشرعية
– وقوم يزورونهم يدعون بهم، فهؤلاء هم المشركون في الألوهية والمحبة
– وقوم يزورونهم فيدعونهم أنفسهم، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد
Manusia dalam permasalahan ziarah kubur, terbagi menjadi tiga golongan:
1. Golongan yang menziarahi kubur, dan mendo’akan kebaikan bagi penghuni kubur, dan ini merupakan ziarah yang disyari’atkan.
2. Golongan yang menziarahi kubur, dan mereka memohon sesuatu kepada penghuni kubur, golongan ini adalah golongannya orang-orang musyrik di dalam uluhiyah Allah.
3. Golongan yang menziarahi kubur, dan berdo’a/beribadah kepada para penghuni kubur tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد
“Ya Allah janganlah jadikan kuburanku sebagai berhala yang diibadahi.”
Imam Asyaukani (Yaman) menukil tentang haramnya meninggikan kuburan dalam kitabnya Syarhus Shudur
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibenci karena beliau rahimahullah meratakan kuburan yang dipugar tinggi dan besar. Yang penghuni kuburnya, dipintai selain Allah ﷻ. Di antaranya kubur Zaid bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu di Jubailah. Usaha lainnya adalah menebang pohon yang dikeramatkan. Pohon keramat yang diyakini sebagai lantaran jodoh bagi perempuan yang belum menikah dan sebagai ‘pengasih’ anak bagi mereka yang mandul.
***
[PEMBAHASAN INTI]
Istilah tauhid sudah ada di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
• Hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman beliau bersabda : “sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahlul kitab, maka jadikanlah yang pertamakali engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala, jika mereka telah mangetahuinya maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sholat lima kali sehari semalam….” (Disadur dengan sedikit perubah dari kitab qowaidul mustla syaikh utsaimin cet darul aqidah)
• Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Abu Rofi' dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan dari beberapa orang dari Al Hasan dan Ibnu Sirin dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ada seorang laki-laki pada masa sebelum kalian, dia tidak pernah beramal satu kebaikkan pun selain tauhid, maka ketika ajal menjemputnya dia berkata kepada keluargannya; 'perhatikanlah jika aku mati hendaklah mereka membakarnya dan membiarkannya sehingga menjadi arang, kemudian hendaklah mereka menghancurkannya (menjadi abu hitam) dan membuangnya ke udara terbuka.' Maka ketika ajal benar-benar telah menjemputnya mereka melaksanakan wasiat tersebut. Maka ketika Allah telah menggenggamnya, Allah Azza Wa Jalla berfirman: 'Wahai anak Adam apa yang mendorongmu untuk berbuat begitu? ' dia menjawab; 'Wahai Rabb, aku melakukan begitu karena rasa takutku kepada-Mu.'" Nabi bersabda: "Lalu Allah mengampuninya karena rasa takut tersebut, padahal ia tidak pernah melakukan perbuatan baik kecuali tauhid". (HR. Ahmad no.7679)
• Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, bernama Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ketika menjelaskan sifat haji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah dengan tauhid, yaitu:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ. رواه مسلم
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanyalah kepunyaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”. (HR Muslim dalam sebuah hadits yang panjang, Lihat Shahîh Muslim Syarh Nawawi, Kitab al-Hajj, Bab: Hajjatun-Nabiyyi Shallallahu ”alaihi wa sallam . VIII/402 dst. Lafazh di atas terdapat pada halaman 405 – Tahqîq: Khalil Ma’mun Syiha, Dârul-Ma’rifah – Beirut, cet. II – 1415 H/1995 M)
Dalil-dalil :
Firman Allah subhaanahu wa ta'ala :
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Faedah :
• Tauhid bukan hanya pada manusia
وَأَلَّوِ ٱسْتَقَٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَٰهُم مَّآءً غَدَقًا
"Dan bahwasanya: jikalau mereka (para jin -pen) tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)" (QS. Al-Jin : 16)
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُون
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (QS. Al-A'raf :179)
وَأَنَّا مِنَّا ٱلصَّٰلِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda". (Al-Jin : 11)
Diriwayatkan dari Al-A’masy, beliau berkata: “Jin pernah datang menemuiku, lalu kutanya: ‘Makanan apa yang kalian sukai?’ Dia menjawab: ‘Nasi.’ Maka kubawakan nasi untuknya, dan aku melihat sesuap nasi diangkat sedang aku tidak melihat siapa-siapa. Kemudian aku bertanya: ‘Adakah di tengah-tengah kalian para pengikut hawa nafsu seperti yang ada di tengah-tengah kami?’ Dia menjawab: ‘Ya.’
‘Bagaimana keadaan golongan Rafidhah yang ada di tengah kalian?” tanyaku. Dia menjawab: ‘Merekalah yang paling jelek di antara kami’.”
Ibnu Katsir t berkata: “Aku perlihatkan sanad riwayat ini pada guru kami, Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi, dan beliau mengatakan: ‘Sanad riwayat ini shahih sampai Al-A’masy’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 4/451)
Riwayat & dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa jin juga dibebani ibadah kepada Allah subhaanahu subhaanahu subhaanahu wa ta'ala, akan tetapi, yang menjadi pembahasan para ulama adalah mengenai sama atau tidaknya ibadah mereka dengan manusia
***
• Ibadah = rendah/ketundukan.
Ibnu taimiyah membagi definisi ibadah menjadi 2, yakni :
1. Berkaitan dengan ibadah sendiri. Yakni "Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)
2. Berkaitan dengan Pelaku ibadah. Yakni, kesempurnaan ketundukan dan puncak kehinaan kepada Allah subhaanahu wa ta'ala. Maka, jika beribadah hanya karena rasa cinta tanpa disertai dengan ketundukan, maka beliau rahimahullah mengatakan itu bukanlah ibadah, begitupun sebaliknya.
• Termasuk ibadah, jika segala kegiatan mubah diniatkan untuk Allah subhaanahu wa ta'ala (ibadah) Ibnu Taimiyah rahimahullah membawakan hadits,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ؛ تَعِسَ عَبْدُ الْقَطِيفَةِ ؛ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ
“Celakalah wahai budak (hamba) dirham. Celakalah wahai budak (hamba) dinar. Celakalah wahai budak (hamba) qothifah (pakaian). Celakalah wahai budak (hamba) khomishoh (pakaian).” (Lihat I’aanatul Mustafid, Syaikh Sholih Al Fauzan, 2/93)
2.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ
"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)". (QS. An-Nahl : 36)
• Thaguut : semua yang disembah selain Allah dan dia Ridha dirinya disembah
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda "Sesungguhnya seluruh para nabi agama kami satu, dan para nabi adalah saudara sebapak beda ibu”. (HR. Bukhari Muslim)
Maksud hadits tersebut adalah tauhid
3.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (QS. Al-Isra' : 23)
إِحْسَٰنًا
Maf'ul muthlaq = Berbakti (sebakti-baktinya)
Barangsiapa mengaku bertauhid, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tua
Allah juga menyandarkan tauhid dan berbakti pada orang tua kepada Bani Israil. Firman Allah subhaanahu wa ta'ala
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًا...
Dan (ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak..". (QS. Al-Baqarah : 83)
Begitupun perkataan Nabi Isa alaihissalam tatkala masih bayi yang Allah abadikan dalam firman-Nya :
وَبَرًّۢا بِوَٰلِدَتِى وَلَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا
"Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka". (QS. Maryam : 32)
#Tafsir Ibnu katsir : tidak jadikan aku sombong untuk berbakti
Fokuslah berbakti ketika ortu tua (tak mampu)
عِندَكَ : Di sisimu
Maksudnya kata para ulama, adalah perintah Allah subhaanahu wa ta'ala agar tinggal bersama orangtua, karena merekalah pintu surga kita
أُفٍّ : "ah"
• Kalimat paling rendah yang menunjukkan kejengkelan
• Seluruh perbuatan yg menunjukan kejengkelan dengan pandangan atau apapun
• Seandainya ada kata yang lebih rendah yang menunjukkan kejengkelan selain "ah(uff)" maka Allah akan katakan dalam firman-Nya.
وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا : ucapkanlah kata-kata halus
• harus memilah milih kata, lebih daripada kita berbicara kepada ustadz, karena kedudukan mereka lebih mulia dibandingkan ustadz atau lainnya
* Seorang ulama bernama Muhammad ibn Munkadzir pernah menceritakan dirinya yang memijit kaki ibunya semalaman bahkan tidak mau gantian dengan saudaranya meskipun untuk shalat malam sekalipun
* Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)
4.
وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ ..
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.." (QS. An-Nisa : 36)
• Ushul Fiqih : Isim nakirah dalam larangan (َلَا) memberikan faedah keumuman. Maka :
A. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan syirik model apapun, baik itu perkataan, perbuatan atau yang lainnya
B. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, entah itu malaikat, batu, atau yang lainnya.
5.
قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُم مِّنْ إِمْلَٰقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)". (QS. Al-An'am :151)
• Yang pertama kali harus dicegah adalah kesyirikan, baru setelah itu kemaksiatan-kemaksiatan yang lain.
6. Tidak ada nash yang menyatakan Nabi shalallahu alaihi wasallam mewasiatkan sesuatu, akan tetapi disebutkan dalam satu riwayat bahwa Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu pernah berkata :
"Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Muhammad, yang tertera di atas cincin stempel milik beliau shalallahu alaihi wasallam, maka hendaklah ia membaca firman Allah "Katakanlah (Muhammad): 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia ...' dan seterusnya, sampai pada firman-Nya: "Dan (kubacakan): 'Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus ...' dan seterusnya." (Atsar ini diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Al-Munzir dan Ibnu Abi Hatim)
7. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallahu ta’ala dalam kedua kitab shahihnya dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ, , أ تدرى ما حقهم عليه ؟) قال : الله و رسوله أعلم, قال : (أن لا يعذبهم) و فى لفظ لمسلم : ( و حق العباد على الله عز و خل أن لا يعذب من لا يشرك به شيأ )
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallambersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (dan) tahukah engkau hak hamba terhadap Allah ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “Dia tidak akan mengadzab mereka”,
Dan dalam lafadz Imam Muslim : “bahwasanya Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya
Faedah :
1. Allah subhaanahu wa ta'ala mewajibkan diriNya pada hamba bahwa yg tidak syirik tidak akan diadzab
2. Nabi shalallahu alaihi wasallam sangat tawadhu sampai-sampai beliau shalallahu alaihi wasallam mau naik himar dan membonceng sebagian sahabat
3. Keringat himar tidak najis, begitu pula bekas minum kucing
4. Jika tidak tahu katakan "Allahu 'Alam"
* Imam malik bin annas rahimahullah pernah pernah ditanya dengan 22 pertanyaan, akan tetapi beliau hanya bisa menjawab 2 pertanyaan saja, sisanya dia katakan "Laa Adrii (aku tidak tahu)
Bahkan beliau rahimahullah pernah ditanya dengan seratus pertanyaan, akan tetapi hanya 5/10 pertanyaan saja yang beliau jawab.
• Maka, jangan sekali-kali menjawab sesuatu yang belum diketahui ilmunya. Jawablah dengan jawaban "Wallahu'alam", maka itu sudah menyelamatkan diri dari tanggung jawab hari kiamat.
5. Adapun perkataan "Allahu wa Rasuuluhu 'Alam" : hanya ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam masih hidup, setelah wafat ada khilaf mengenai boleh atau tidaknya, tapi yang lebih aman adalah cukup dengan "Wallahu'alam"
6. Bolehnya menyembunyikan ilmu jika ada maslahat
"Sampaikan kepada manusia sesuai nalar mereka, apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu)
***
• Akan tetapi jangan hanya fokus terhadap tauhid saja sehingga melalaikan hak hamba yang lainnya, karena telah jelas sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam riwayat yang mutawatir bahwa ada ahli tauhid, yang masuk ke dalam neraka jahanam.



Komentar
Posting Komentar