BENTENG SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI TIPU DAYA SYAITHON #4
Pemateri : Ustadz Abu Umar Indra, S.S (Hafidzahullah)
Hari/Tanggal : Kamis, 13 rabi’uts-Tsani 1438 H/ 12 januari 2017 M
Tempat : Masjid Agung Al-Ukhuwah Bandung
Hari/Tanggal : Kamis, 13 rabi’uts-Tsani 1438 H/ 12 januari 2017 M
Tempat : Masjid Agung Al-Ukhuwah Bandung
***
Bila tidak ingin dimasuki oleh syaiton, maka harus menutupi pintu pintu yang dimasuki oleh syaiton.
Beberapa bentuk penyamaran/pengkaburan yang dilakukan oleh iblis. Yang menyangka bahwa amalan yang dia kerjakan itu ialah benar, tetapi pada hakikatnya hal tersebut merupakan kesyirikan yang dibungkus sedemikian rupa.
Pengkaburan yag dilakukan oleh iblis kepada majelis-majelis ilmu. Penutup kitab pengkaburan iblis terhadap wanita, terutama di zaman sekarang, betapa kuatnya fitnah tersebut , kecuali ada fitnah wanita terhadap laki laki.
Pengkaburan iblis kepada orang orang yang menghadiri majelis dzikir/ilmu, Iblis sungguh telah menancapkan pengkaburannya kepada orang awam
Ketika mereka menghadiri majelis ilmu, maka ketika mereka hadir, berapa banyak yang menangis. Arena persangkaan dari mereka bahwa maksud dari kehadiran tersebut yaitu menumpahkan air mata. Mereka mendengar keutamaan menghadiri majelis ilmu, akan tetapi tidaklah yang mereka maksudkan adalah untuk beramal. Tetapi tujuan mereka hadir itu hanya untuk menumpahkan air mata yang dilampiaskan, tidak mengambil ilmu yang didapat dari majelis ilmu tersebut.
Sesungguhnya ada orang-orang, mereka tiap kali menghadiri majelis dzikir hanya untuk menangis bersama dan merasa ketakutan, akan tetapi itu tidak menggubah sedikitpun kebiasaan buruk yang dihadapkan pada mereka. Yaitu mereka tidak menghentikan amalan amalan riba, menipu para pembeli, tidak meninggalkan sikap bodoh, tidak meninggalkan sikap ghibah mereka, tidak meninggalkan perbuatan buruk.
***
Rasulullah ﷺ bersabda :
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”. (HR. Baihaqi, 2/298)
Bagi dia, cukuplah dia sholat, bersedekah, tanpa memperdulikan apa ilmu yang didapat di majelis tersebut, inilah salah satu bentuk wujud, iblis masuk melalui pintu menangis di majelis dzikir/ilmu.
Mereka ini orang-orang yang telah dikaburkan oleh iblis. Menangis dan berharap menghapuskan dosa dosa mereka, dan menunda taubatnya kepada Allah ﷻ.
Dengan sering kumpul dengan orang shaleh, ulama, berilmu, menganggap dapat / cukup baginya untuk dapat menghapuskan dosa dosanya, dan menunda taubat kepada Allah ﷻ dan itu merupakan pintu tipu daya iblis.
***
[TIPU DAYA IBLIS KEPADA ORANG YANG MEMILIKI HARTA, MEMILIKI 4 CARA]
Tak peduli darimana dia memiliki harta tersebut sehingga usahanya dipenuhi dengan riba dan dibuat orang tersebut tidak peduli dengan riba.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. [HR Bukhari].
Iblis menanamkan kebakhilan terhadap harta tersebut. Maka diantara manusia ada yang tak pernah sama sekali mengeluarkan zakat dan sering berdalih untuk menunda nunda atau mengecek zakat.
Diantara mereka, ada yang tidak mengeluarkan sebagian hartanya, namun secara umum dia bakhil.
Yaitu ada seseorang, dimana dia membayar zakat sebagai pengganti upah karyawannya (membayar upah karyawan sebagai niat untuk berzakat).
Adalagi orang yang sudah mengeluarkan zakat sesuai dengan syariat, lalu datanglah iblis. Lalu iblis berupaya untuk membisikan agar tidak mengeluarkan shadaqahnya.
Pada hakikatnya ini adalah kebakhilan, sehingga menampakan cinta atau tidak kepada hartanya. Tidaklah dia bersedekah kecuali kecintaan kepada Allah ﷻ.
Allah ﷻ menggambarkan orang yang terjaga dari kebahilan. Barangsiapa yang terjaga dari sikap bakhil , maka merekanya pada hakikatnya orang orang yang beruntung,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.
(Al-Hasyr : 9)
***
Tiap pagi ada 2 malaikat yang berdoa,
"Ya Allah gantikan orang yang berinfak hari ini dan hancurkan orang yang tidak berinfaq".
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.
***
Pintu ketiga, yaitu selalu ingin memperbanyak dan menambah pertanyaan
Keutamaan seseorang dilihat dari keadaan jiwanya.
Nabi ﷺ bersabda,
Bukanlah yang kaya itu orang yang hartanya banyak, tetapi orang yang kaya itu ialah hati dan jiwanya tenang. (HR. Muslim)
Orang yang memiliki jiwa qanaah, sejajar dengan orang yang paling kaya di muka bumi ini, itulah orang yang memiliki kekayaan jiwa.
Kemuliaan bukan pada keadaan, tetapi kemuliaan berada pada sisi kejiwaan.
Maka, seorang yang kaya yang bakhil, yang digunakan untuk maksiat, maka dia lebih buruk, dibanding dengan orang miskin yang selalu taat kepada Allah ﷻ.
Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Yang bertakwa itulah yang berhak menyandang kemuliaan, yaitu lebih mulia dari orang yang tidak memiliki sifat takwa. Dialah yang paling mulia dan tinggi kedudukannya (di sisi Allah).
Jadi, kalian dengan saling berbangga pada nasab kalian yang mulia, maka itu bukan menunjukkan kemuliaan. Hal itu tidak menunjukkan seseorang lebih mulia dan memiliki kedudukan utama (di sisi Allah).” (Fathul Qodir, 7: 20)
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bukankah manusia di masa tabiin, yaitu Uwais, seseorang yang bukan pejabat dan miskin, yaitu Uwais al-Qarni.
Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.
"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais termenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit.
Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh".
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."
Subhanallah, itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah ﷻ pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah ﷺ untuk mengenali Uwais.
Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah ﷺ berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong kepada dia, untuk kamu berdua."
***
Dalam islam, miskin bukan masalah sosial, pada zaman dahulu, orang miskin tidak nampak kemiskinannya secara terang-terangan, tetapi pada zaman sekarang, orang miskin menampakan kemiskinannya secara terang terangan.
Pintu yang ke empat, iblis menampakannya melalui sisi keinfaqannya.Yaitu memboros boroskan dalam menghabiskan hartanya.
Seperti, menambah hiasan hiasan, sedangkan hal tersebut tidak dibutuhkan saat ini.
Allah pun kelak akan bertanya, darimana harta tersebut didapatkan dan untuk apa harta tersebut digunakan. Maka, pakailah harta yang kita punya sesuai dengan kebutuhan.
Terkadang, pemborosan dari harta itu dari sisi pakaian, banyak orang yang tiap hari pakaiannya berganti ganti yang menggambarkan hartanya saat ini. Kadang kadang setan masuk dari pintu makanan yang berlebih lebihan
***
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946).
***
Muslim di indonesia mayoritas, tetapi tidak Berjaya.
Didiklah wanita-wanita di Indonesia untuk menjadi wanita muslimah yang terbaik sehingga melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang terbaik.
Ada seseorang yang diluar negeri safar pergi ke Indonesia karena mendengar kabar Indonesia merupakan negara mayoritas terbesar penduduk muslim di dunia, setelah sampai di Indonesia dan berkunjung dari satu kota ke kota lain, dia pun berkata, tidak ada bedanya suasana Indonesia dengan negeri-negeri kafir.
negeri kita mayoritas muslim, tetapi masih membutuhkan bimbingan-bimbingan untuk mempelajari islam secara menyeluruh?
Media-media massa itu minim untuk mengajarkan bimbingan bimbingan islam, sehingga orang-orang asing melihat orang yang menjalankan Sunnah.
***
Ketika orang-orang menampakan sedekahnya( riya ), maka orang tersebut telah memperlihatkan 2 keburukan
keburukan terhadap perbuatan riya dan
keburukan menghinakan orang miskin. Karena dilihat oleh orang lain
diantara mereka, ada yang rajin bersedekah kepada orang, tetapi pelit kepada keluarga
sebagian lagi, dia mengeluarkan zakat ke orang miskin tetapi tidak memberikan bantuan kepada saudaranya, karena memiliki masalah diantaranya.
Iblis melakukan pengkaburan kepada orang orang miskin/fakir, bentuknya ada yang menampakan dirinya sebagai orang miskin, padahal dia adalah kaya, dengan tujuan mendapatkan harta melalui orang.
***
Hadits Pertama
Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.
“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”. Muttafaqun ‘alaihi. HR al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103)).
Hadits Kedua
Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ.
“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api”
Telah ddishahihkan oleh Al imam al bani ( buku yang dibahas). Shahîh. HR Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul-Kabîr (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish-Shaghîr, no. 6281
***
Dan tipu daya lainnya merasa orang miskin lebih baik dari orang kaya, dengan menganggap bahwa orang miskin lebih zuhud dari orang kaya.
Zuhud = mengambil harta kekayaan untuk kepentingan akhirat.
Barakallahu fiikum,
Semoga bermanfaat.
#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g



Komentar
Posting Komentar