CUMA DICIBIR



Sunnah merupakan suatu perkara yang jika kita lakukan mendapat pahala, sedangkan jika kita tinggalkan maka kita akan merugi. Sedangkan kewajiban dalam beragama islam adalah sesuatu yang harus kita jalankan akan tetapi jika kita tinggalkan maka kita berdosa dan diancam oleh adzab Neraka yang amat pedih.

Sama halnya dalam menampakkan syiar islam di khalayak umum, tentulah tidak mudah. Kita hidup di Negara Indonesia yang mayoritasnya muslim tetapi sudah menjadi rahasia umum jika terkadang ada seorang muslim dicibir ataupun dicela oleh sesama muslim.

Terlepas dari kata "Muslim" sikap itu merupakan cerminan dari ketidaktahuan dari seseorang dan bisa jadi adalah khilaf pribadi yang dilakukan, karena sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara dan tentunya saling bersikap kasih, lemah lembut dan saling menolong dalam kebaikan.

Sama halnya dalam menampakkan syiar-syiar agama. Tidak bisa dipungkiri jika kita, teman kita atau siapa saja pernah mengalami hal ini. Ya, hal ini adalah "Dicibir".

Ada seorang akhwat yang atas Izin Allah mulai berhijrah dan ingin menerapkan syariat agama dengan memulai memakai kerudung panjang, sontak orang terdekatnya keheranan dengan apa yang terjadi pada akhwat ini. "Yang dulu begitu kok sekarang begini, awas hati-hati kamu sama ajaran sesat" atau mungkin "Ngapain pake kerudung panjang-panjang gak gerah napa(?) Kaya ibu-ibu lagi". Ada pula seorang ikhwan yang atas izin Allah mulai berthabul ilmu dan berusaha untuk mengamalkan yang dia telah dia dapat dari majelis ilmu. Dimulai dengan menaikkan celana di atas mata kaki dan membiarkan tumbuhnya jenggot, orang-orang terdekatnya pun merasa keheranan dan malah orangtuanya sendiri berkata "Awas kamu harus hati-hati sama aliran sesat atau kelompok radikalisme". Lah itu masih mending ya, baru diperingati. Tetapi apakah pernah kita dianggap aliran sesat atau mungkin yang paling ekstrim teroris (?)
Hmm.. penulis yakin pasti ada yang merasakan pengalaman demikian.

Itu hanya dicibir yaa akhii yaa ukhtii, dicibir loh. Lantas mau apa(?) Apakah hanya dengan dicibir membuat kita memanjangkan lagi celana, apakah hal itu membuat kita frustasi dan meninggalkan kewajiban dan sunnah-sunnah ini(?).

Sungguh cobaan ini belum seberapa, ya... Belum seberapa. Apakah kita mendengar kisah Ashabul Ukhdud yang dibakar hidup-hidup karena mempertahankan keimanannya (?), Lantas bagaimana dengan kisah Khobbab Ibn Al - Arrat yang dipanggang di atas arang yang tidaklah arang itu padam melainkan air yang menetes dari punggungnya yang terbakar. Selanjutnya kisah Sumayyah yang disiksa lalu ditusuk dari duburnya hingga mati. Atau bagaimana dengan Bilal Ibn Rabbah yang dijemur di tengah-tengah padang pasir yang membakar disertai terik matahari  sambil ditimpa oleh batu besar. Dan semua kisah itu memiliki latar belakang yang sama, yaitu mempertahankan Islam.

Lah kita hanya dicibir!, Dicibir saja sudah frustasi, tidak mau bersosialisasi lagi dengan orang lain atau lebih parahnya meninggalkan semua syariat ini.

Sabar, ini ujian. Bukanlah masalah cinta kepada manusia yang mengecewakan. Tapi ini adalah masalah kecintaan kepada Allah ﷻ dan Rasulnya ﷺ, yang membuahkan nikmat yang indah disertai pahala yang besar, yang bisa kita petik dan nikmati nanti hasilnya di akhirat.

Bandung, 2 Jumadil Awwal 1438 H.
Oleh Abu Abdillah (Unpad 2016)

Referensi : Kajian Ustadz Riyadh Ibn Badr Bajrey (Hafizahullah)

_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer