UST. ABU HAIDAR - KAJIAN KITAB BULUGHUL MAHRAM (Bab Harta dan Badzadzah)
🔊 Pemateri: al Ustadz Abu Haidar as Sundawy –hafizhahullāh–
📍 Lokasi: Masjid Besar Cipaganti, Jalan Rd. A. A. Wiranatakusumah no. 85 (Cipaganti) – Bandung
📆 Hari, Tanggal: Sabtu, 7 Jumadil Ula 1438 H. / 4 Februari 2017
Resume Oleh:
-Yudhistira (Teknik Geologi Unpad 2016)
-Abu Utsman (Kimia Unpad 2016)
_____________________________________________________________________
X: "Ih, kamu mah sombong mentang-mentang kaya jadi segala dipake."
Y: "Apaan ih da ga sombong."
Harta merupakan kenikmatan yang diberikan Allah kepada manusia. Tiap-tiap orang memiliki kadar harta yang berbeda-beda. Resume ini menjelaskan adab-adab dalam memanfaatkan harta (pakaian, makanan, rumah, kendaraan) menurut Islam.
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
“Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.”
(HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Aku mendatangi Rasulullah ﷺ dengan pakaian yang bagus, Rasul ﷺ bertanya "apakah kamu punya harta?" "Naam" "darimana kamu dapatkan?" "Hasil dari memiliki unta, kambing"
(HR. Abu Daud, HR. Imam Ahmad. Shahih)
Syaikh Sholeh Al-Fauzan menjelaskan bahwa hadist ini menjadi dalil disunnahkannya menampakkan nikmat yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Baik berupa makanan, pakaian, minuman, maupun kendaraan dan nikmat nikmat yang lainnya. Allah senang saat Allah memberikan nikmatnya kepada seorang hamba dan hamba tersebut menampakkan nikmat tersebut.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah menyukai hamba yang memperlihatkan bukti nikmat yang diberikan Allah. Adapun orang yang tak memiliki harta namun berusaha untuk meminjam-minjam untuk menunjukkan harta yang dimilikinya bukan termasuk dalam kategori ini.
Abu Umamah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya badzadzah adalah sebagian dari iman, sesungguhnya badzadzah adalah sebagian dari iman."
Syaikh Albani memasukkan Hadist ini ke dalam silsilah Hadist Shahih.
Imam Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa badzadzah merupakan sikap sederhana dan tawadhu dalam berpakaian. Sederhana dalam berpakaian termasuk akhlak dari orang-orang yang beriman.
Hadist di awal terdengar seperti bertentangan dengan hadist di atas. Syaikh Sholeh Al-Fauzan menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan dari kedua hadist tersebut. Badzadzah merupakan sikap yang ditunjukkannya dalam satu yang tetap agar dirinya tak khawatir dirinya sombong. Yang terlarang adalah Syukhrah, memakai pakaian yang menonjol diantara yang lain, maupun pakaian yang tak layak dalam keadaan kaya raya dalam sekumpulan orang-orang kaya untuk menunjukkan ketawadhu'annya maupun kezuhudannya. Karena ini akan mengundang apresiasi orang lain agar memuji dirinya yang 'tawadhu'.
Badzadzah berlaku saat seorang yang berkecukupan menemui fakir miskin. Barulah kita memakai pakaian yang sederhana agar fakir miskin tak merasa down, ataupun direndahkan karena pakaian yang digunakan orang yang berkecukupan tersebut. Sehingga badzadzah termasuk ke dalam iman jika dilakukan dalam situasi yang tepat. Kenakan pakaian yang sesuai untuk setiap kondisi dan situasi yang tepat.
Syaikh Sholeh Al-Fauzan Rahimahullah menyatakan bahwa perbuatan tawadhu dengan menyembunyikan nikmat, walau tak secara lisan padahal dirinya serba berkecukupan, merupakan bahasa tubuh yang mewakili bahasa lisan. Seharusnya dirinya menampakkan nikmat nikmat yang Allah berikan dengan beberapa batas, yaitu:
-Tak berlebih-lebihan (israf)
-Tidak meniatkan untuk berbangga-bangga dan sombong dengan kekayaan.
-Tidak bermaksud merendahkan dan menghina fakir miskin dengan hartanya.
***
Enam poin yang dapat diambil dari Hadist diatas :
1. Disunnahkan menampakkan nikmat yang Allah berikan kepada hambanya dan si hamba menampakkan bukti nikmat yang Allah berikan tersebut berupa pakaian, rumah, kendaraan, makanan, maupun hal-hal lainnya yang diperbolehkan maupun yang telah disyariatkan. Ini merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah subhanahu wa ta alla. Dia tidak bersikap seolah olah dirinya tawadhu', maupun sama dengan orang fakir dan orang tidak punya.
2. Yang dimaksud menampakan nikmat Allah kepada hamba tanpa ada niat sombong, takabur, berbangga-bangga dan tidak ada niat menghinakan orang miskin dan orang tidak punya.
3. Adapun orang yang tidak memiliki harta maka dia jangan memaksakan diri dalam menampakan. Hendaklah orang itu berpakaian, memakan makanan, berkendaraan, dan melakukan aktivitas lainnya dalam batas kemampuan hartanya.
4. Menampakan nikmat Allah yang Allah berikan kepada hamba adalah perkara yang dicintai oleh Allah. Ini merupakan sebuah bukti syukur seorang hamba kepada Tuhannya. Allah memerintahkan untuk menampakkan nikmat yang Allah berikan.
5. Sifat "mahabbah". Allah suka mencintai. Mencintai di sini diartikan dengan makna cinta yang layak bagi keagungan Allah, yang tak dapat diingkari maupun disetarakan dengan cintanya suatu makhluk.
6. Penghambaan 'Ubudiyyah
- Penghambaan umum
Seluruh apa apa saja yang ada di langit dan di bumi adalah hamba Allah semua tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Bahkan tubuh orang kafir tunduk dan patuh kepada Allah pula. Semuanya bertasbih dan bertahmid kepada Allah, menunjukkan bahwa mereka adalah hamba Allah. Namun kita tak memahami tasbih mereka.
- Penghambaan khusus
Inilah merupakan bentuk penghambaan seorang mukmin. Orang-orang ini berjalan di atas bumi dengan rasa tawadhu'.
Alhamdulillah.
____________________________________________



Komentar
Posting Komentar