ISLAM TANPA ARAB



Akhir – akhir ini sepertinya tidak asing lagi ditelinga kita dengan ucapan “Kalo beragama islam gak usah jadi orang Arab”, “Kamu pake cadar, kerudung panjang dan berjenggot ke Arab aja sana, ini Indonesia bro”, dan ucapan lainnya yang serupa.

Sungguh ikhwah wa akhwati fillah sekalian, zaman ini merupakan zaman yang penuh fitnah bagi seorang hamba yang erat memegang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tak heran rasanya jika kerap kali dicibir sebab kita berusaha menjalankan sunnah – sunnahnya. Janganlah hal ini dijadikan alasan bagi kita untuk meninggalkan syariat yang Allah perintahkan dan sunnah yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam contohkan. Kita hanya dicibir saja! Iya betul kita ini hanya dicibir saja!. Apakah kita pernah diancam untuk dibunuh gara – gara kita berjenggot(?) apakah kita pernah diancam untuk dideportasi dari negeri ini dikarenakan kita berkerudung panjang(?), tentu jawabannya adalah belum dan tidak akan pernah.

Pernahkah kita mendengar kisah – kisah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disiksa dengan begitu beratnya karena mereka mempertahankan keislamannya. Ma syaa Allah sungguhlah cobaan yang kita hadapi ini tidak seberat cobaan para generasi terbaik islam saat mempertahankan keislamannya.

Lalu bagaimana dengan ungkapan yang nyeleneh ini, wajarlah jika sesaat kita tersinggung atau kurang mengenakkan hati dengan ucapan ini. Bahkan baru – baru ini ada seorang tokoh politik yang tersohor di Indonesia, dalam sebuah acara di partainya menyebutkan bahwa “kalau Islam, jangan jadi orang Arab”.

Sebetulnya tidak perlu mempertentangkan antara islam dan Arab. Karena kenapa(?), Al-Qur’an itu diturunkan di Jazirah Arab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu orang Arab. Jika kita tahu seluruh bacaan sholat harus dibaca dalam bahasa Arab, dzikir pun berbahasa Arab. Serta wirid dan shalawat juga bahasa Arab. Bahkan ucapan salam pun harus dalam bahasa Arab.

Terlepas dalam hal peribadatan, pernahkah kita tahu atau mungkin kita tahu bahwa banyak kalimat – kalimat Bahasa Indonesia yang diadaptasi dari Bahasa Arab. Bukan hanya satu atau dua kata tapi banyak ikhwah fillah sekalian. Ya, banyak.. mulai dari kata yang masih “berbau” bahasa Arab seperti, Shalat ; Zakat; Ied; Hawa; Nafsu. Bahkan dalam Pancasila seperti adil, beradab, rakyat, hikmah, permusyawaratan, perwakilan dan masih banyak lagi.

Tetapi ada saja orang yang menampik semua ini, seakan tidak rela bahwa budaya (secara khusus Bahasa Indonesia) ini begitu “berhutang” atau “meminjam” Bahasa Arab. Ini adalah sikap mendua, kebayang dong di duain itu gak enak men. Kita juga tahu dalam sejarah penduduk bangsa ini sudah menjalin hubungan sejak lama, salah satunya melalui jalur perdagangan dan disitulah terjadi pertukaran budaya, menikah, persebaran agama islam di Nusantara dan hal lainnya.

Selanjutnya kita tahu bahwa dengan para sudagar Arab-lah bahasa Melayu ini menjadi lingua franca atau bahasa pengantar di Nusantara. Surat – surat perjanjian dan mata uang ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Singkatnya jejak – jejak Arab sudah mengalir dalam nadi – nadi budaya kita.
Berita – berita negatif ini dijadikan bahan bagi kaum sekularis liberal untuk memojokkan islam. Mereka melontarkan isu – isu Arab Phobia yang sebenarnya menuju Islam Phobia (Na’udzubillah).

Jika kita perhatikan lagi di dalam sejarah, maka kita bisa melihat bahwa pahlawan – pahlawan Nasional kita mengenakan  pakaian seperti itu. Layaknya Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan yang lainnya. Dengan atribut itu mereka berjihad mengusir penjajah dari negeri ini. Lalu saat Indonesia merdeka justru negara – negara Arab-lah yang pertama – tama mengakuinya. Jadi usaha untuk melucuti Arab dan Islam di Indonesia itu merupakan hal yang keliru dan sia – sia.

Adapun seperti, membiarkan tumbuhnya jenggot, berbekam, memakai jubah, bersorban, bersiwak merupakan bentuk kecintaan kita terhadap sunnah – sunnahnya Nabi Muhammad Shallalalhu’alaihi wasallam. Lalu bagi wanita yang berkerudung panjang dan menutupi wajahnya dengan cadar itu bukanlah meniru – niru gaya orang Arab tetapi itu adalah bentuk pelaksanaan atas apa yang Allah perintahkan. Maka tidak peduli apakah itu sama dengan orang Arab, karena yang dicari hanyalah Ridho Allah semata.

Wallahu musta’an.

[Hunter Mendalami Profesi]

Oleh : Rizqi (Ilmu Sejarah 2019)
Referensi : Buletin Masjid Istiqomah (Suara Istiqomah Nomor 02 Tahun ke 53).

_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer