Kajian di Kuningan - PENTINGNYA MEMPELAJARI HARI KIAMAT
From Kuningan with Love
Pemateri : Ustadz Dadan حفظه الله
Hari/Tanggal : 7 Rabi'ul Akhir 1438 / 5 Januari 2017
Tempat : Masjid Sayyidah Faatimah
Hari/Tanggal : 7 Rabi'ul Akhir 1438 / 5 Januari 2017
Tempat : Masjid Sayyidah Faatimah
Desa Kasturi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Resume Oleh : Abdullah bin Abdirrahman bin Mukhasan Kholil (Sastra Arab 2014)
Editor : Abu Abdillah (Unpad 2016)
***
Kenapa kita harus membahas tentang hari kiamat?
Bahwasannya setiap Rasul yang diutus semunya mengajarkan tentang hari kiamat
Bahwasannya setiap Rasul yang diutus semunya mengajarkan tentang hari kiamat
***
Urgensi Kiamat
Semua makhluk akan mati, dan setiap manusia akan dibalas sesuai dengan perbuatannya. Dan tenti saja Allah membedakan balasan untik orang beriman dan orang kafir. Allah berfirman,
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? [Shad: 28]
Oleh karena itu ikutilah pola hidup orang-orang yang beramal shalih, karena ia berbeda dengan orang kafir yang mengingkari hari kiamat, Allah berfirman,
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [At Taghabun: 7]
Ketika Allah menghidupkan bumi dengan hujan, maka tentu lebih mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah mati.
Betapa banyak dari kita lupa dengan hari kiamat, yang hal ini ditunjukan dengan prilaku kita. Jangan kita tunjuk orang kafir, karna mereka sudah pasti ingkar terhadap hari kiamat.
...وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. [Muhammad: 12]
Maka apapun profesinya selalu kaitkan dengan hari akhir. Karena secara prilaku kita ini jauh dari akhir. Lihatlah kisah-kisah para sahabat dahulu, Ibnu Umar, bahkan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata ketika sedang sekarat "celakah aku, andai saja aku adalah sebatang pohon"
Kehidupan sahabat terwanjatahkan dalam kesehariannya. Sangat berbeda jauh dengan kita. Benarlah kata pepatah Sahabat ada disuatu lembah dan kita berada dilembah yang lain (sangat jauh jaraknya). Wajarlah bila Allah meridhoi mereka, Allah berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah: 100]
Semua makhluk akan mati, dan setiap manusia akan dibalas sesuai dengan perbuatannya. Dan tenti saja Allah membedakan balasan untik orang beriman dan orang kafir. Allah berfirman,
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? [Shad: 28]
Oleh karena itu ikutilah pola hidup orang-orang yang beramal shalih, karena ia berbeda dengan orang kafir yang mengingkari hari kiamat, Allah berfirman,
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [At Taghabun: 7]
Ketika Allah menghidupkan bumi dengan hujan, maka tentu lebih mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah mati.
Betapa banyak dari kita lupa dengan hari kiamat, yang hal ini ditunjukan dengan prilaku kita. Jangan kita tunjuk orang kafir, karna mereka sudah pasti ingkar terhadap hari kiamat.
...وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. [Muhammad: 12]
Maka apapun profesinya selalu kaitkan dengan hari akhir. Karena secara prilaku kita ini jauh dari akhir. Lihatlah kisah-kisah para sahabat dahulu, Ibnu Umar, bahkan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata ketika sedang sekarat "celakah aku, andai saja aku adalah sebatang pohon"
Kehidupan sahabat terwanjatahkan dalam kesehariannya. Sangat berbeda jauh dengan kita. Benarlah kata pepatah Sahabat ada disuatu lembah dan kita berada dilembah yang lain (sangat jauh jaraknya). Wajarlah bila Allah meridhoi mereka, Allah berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah: 100]
***
Hidup kita yang cenderung hedonis, dan berlomba-lomba terhadap urusan dunia, Allah berfirman,
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa" [Al Jatsiyah: 24]
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa" [Al Jatsiyah: 24]
***
Imam Al Ghazali berkata: "Dunia adalah tempat menanam dan akhirat adalah tempat memanen."
***
Urgensi Membahas Hari Kiamat
1. Mendorong kita untuk melakukan amal shalih dan bersegera melakukannya.
2. Menjauhkan kegundahan dan kegelisihan
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” [HR. Ahmad, Ibnu Majah]
3. Menjauhkan dari kedzaliman
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [Al Anbiya: 47]
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [Al Zalzalah: 7-8]
Jika kita tersakiti dengan dunia maka kita obati dengan akhirat, manhaj orang mukmin ialah hatinya akan selalu terpaut dengan akhirat. Allah berfirman,
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. [Thaha: 111]
Rasûlullâh ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
Barang siapa pernah berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal shaleh, maka akan diambil amal shaleh darinya sebanding dengan perbuatan kezhalimannya. Apabila tidak memiliki amal shaleh, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya [HR. al-Bukhâri no. 2269].
1. Mendorong kita untuk melakukan amal shalih dan bersegera melakukannya.
2. Menjauhkan kegundahan dan kegelisihan
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” [HR. Ahmad, Ibnu Majah]
3. Menjauhkan dari kedzaliman
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [Al Anbiya: 47]
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [Al Zalzalah: 7-8]
Jika kita tersakiti dengan dunia maka kita obati dengan akhirat, manhaj orang mukmin ialah hatinya akan selalu terpaut dengan akhirat. Allah berfirman,
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. [Thaha: 111]
Rasûlullâh ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
Barang siapa pernah berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal shaleh, maka akan diambil amal shaleh darinya sebanding dengan perbuatan kezhalimannya. Apabila tidak memiliki amal shaleh, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya [HR. al-Bukhâri no. 2269].
***
Hikmah
Bahwasannya tabiat manusia ialah membela kesalahannya, sebagaimana yang Allah kisahkan cerita Qabil dan Habil
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". [Al Maidah: 27]
Disini Qabil sudah tahu bahwa ia bersalah namun ia malah akan membunuh Habil.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, kami melihat beliau tersenyum hingga tampak gigi seri beliau.”
Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tersenyum?”
Beliau menjawab, “Ada dua orang dari umatku berlutut di hadapan Allah. Salah seorang di antara keduanya berkata, ‘Ya Tuhanku, ambilah bagiku kezaliman terhadap diriku yang dilakukan oleh saudaraku ini’.”
Allah bertanya, “Apa yang telah dilakukan saudaramu terhadapmu, padahal sedikit pun tidak ada kebaikannya yang tersisa?”
Dia berkata, “Ya Tuhanku, biarlah dia memikul dosa-dosaku.”
Kedua mata Rasulullah ﷺ menitikan air mata. Lalu beliau bersabda, “Hal itu terjadai pada hari yang agung, ketika manusia harus memikul dosa-dosa mereka. Allah berfirman kepada seorang hamba, ‘Angkatlah pandanganmu dan lihatlah.”
Maka hamba itu mengangkat padangannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, aku melihat kota yang dibangun dari emas, istana-istana dari emas, pagar dari mutiara. Untuk Nabi, shaddiq, ata syuhada mana ini?”
Allah berfirman, “Bagi orang yang membayar harganya.”
Hamba itu bertanya, “Siapa yang mampu melakukan hal itu?”
Allah menjawab, “Engkaulah yang mampu melakukannya.”
Hamba itu bertanya, “Dengan apa?”
Allah menjawab, “Engkau harus mengampuni saudaramu.”
Hamba itu berkata, “Ya Tuhanku, aku sudah mengampuni saudaraku.”
Allah berfirman, “Peganglah tangan saudaramu dan bawa ia ke surga.”
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian, karena Allah selalu mendamaikan di antara orang-orang Muslim.”
4. Menghalangi dari berbuat kerusakan dan pembangkangan
وَإِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُونَ
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). [Al Mu'minun: 74]
5. Memperbaiki akhlaq manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا.
“Tidaklah seorang muslim mendapatkan musibah, melainkan Allah akan akan menghapus dosa-dosanya, walau hanya tertusuk duri sekalipun.” (HR. al-Bukhari).
6. Menjadikan seseorang mengakui dosa-dosanya
Jangan sampai kita meremehkan dosa-dosa dan menumpuk dosa tersebut tanpa disertai taubat, lihatlah kisah Maiz bin Malik tentang kisah taubat dari zinanya
Baca selengkapnya http://www.kisahislam.net/2013/02/01/kisah-taubat-yang-tulus/
7. Menjadikan seorang hamba amanah dan menjauhi riya
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. [At Taubah: 18]
Disusun oleh:
Al Faqir ilallah
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". [Al Maidah: 27]
Disini Qabil sudah tahu bahwa ia bersalah namun ia malah akan membunuh Habil.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, kami melihat beliau tersenyum hingga tampak gigi seri beliau.”
Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tersenyum?”
Beliau menjawab, “Ada dua orang dari umatku berlutut di hadapan Allah. Salah seorang di antara keduanya berkata, ‘Ya Tuhanku, ambilah bagiku kezaliman terhadap diriku yang dilakukan oleh saudaraku ini’.”
Allah bertanya, “Apa yang telah dilakukan saudaramu terhadapmu, padahal sedikit pun tidak ada kebaikannya yang tersisa?”
Dia berkata, “Ya Tuhanku, biarlah dia memikul dosa-dosaku.”
Kedua mata Rasulullah ﷺ menitikan air mata. Lalu beliau bersabda, “Hal itu terjadai pada hari yang agung, ketika manusia harus memikul dosa-dosa mereka. Allah berfirman kepada seorang hamba, ‘Angkatlah pandanganmu dan lihatlah.”
Maka hamba itu mengangkat padangannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, aku melihat kota yang dibangun dari emas, istana-istana dari emas, pagar dari mutiara. Untuk Nabi, shaddiq, ata syuhada mana ini?”
Allah berfirman, “Bagi orang yang membayar harganya.”
Hamba itu bertanya, “Siapa yang mampu melakukan hal itu?”
Allah menjawab, “Engkaulah yang mampu melakukannya.”
Hamba itu bertanya, “Dengan apa?”
Allah menjawab, “Engkau harus mengampuni saudaramu.”
Hamba itu berkata, “Ya Tuhanku, aku sudah mengampuni saudaraku.”
Allah berfirman, “Peganglah tangan saudaramu dan bawa ia ke surga.”
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian, karena Allah selalu mendamaikan di antara orang-orang Muslim.”
4. Menghalangi dari berbuat kerusakan dan pembangkangan
وَإِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُونَ
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). [Al Mu'minun: 74]
5. Memperbaiki akhlaq manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا.
“Tidaklah seorang muslim mendapatkan musibah, melainkan Allah akan akan menghapus dosa-dosanya, walau hanya tertusuk duri sekalipun.” (HR. al-Bukhari).
6. Menjadikan seseorang mengakui dosa-dosanya
Jangan sampai kita meremehkan dosa-dosa dan menumpuk dosa tersebut tanpa disertai taubat, lihatlah kisah Maiz bin Malik tentang kisah taubat dari zinanya
Baca selengkapnya http://www.kisahislam.net/2013/02/01/kisah-taubat-yang-tulus/
7. Menjadikan seorang hamba amanah dan menjauhi riya
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. [At Taubah: 18]
Disusun oleh:
Al Faqir ilallah





Komentar
Posting Komentar