UST. ABDULLAH ZAEN - TAFSIR ASY SYAMS #2
Pemateri : KH. Abdullah Zaen, Lc, MA.
Tempat : Masjid Agung Daarussalaam (Purbalingga)
Hari/Tanggal : Rabu, 13 Rabi’uts-Tsani 1438 H / 14 Januari 2017 M
Resume oleh : Yoga Hediasa (Sastra Perancis 2016)
***
[Tafsir ayat ke dua]
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا
“dan bulan apabila mengiringinya”
BULAN
Yg dimaksud dalam ayat ini adalah bulan yang ada di langit, sesuatu yang muncul di malam hari yang memantulkan cahaya matahari.
Seperti yg sudah dijelaskan apabila Allah ﷻ bersumpah atas nama sebuah makhluk maka makhluk tersebut punya keistimewaan.
***
‘Demi bulan apabila mengiringinya’
Maksudnya bulan itu mengiringi matahari. Ia mengiringi gerakan dan cahaya sang surya. Setiap hari, tempat terbit bulan berbeda-beda dan bulan muncul ketika matahari sudah tenggelam. Antara tanggal muda, tengah dan tua, cahaya bulan berbeda2.
Dalam Al-Quran, Qamar (bulan) disebut 27x. Dan subhanallah, ketika bulan disebut sering digandeng dengan matahari. Sebagian ulama beranggapan dua benda tersebut sering bergandengan karena dua benda itu paling mencolok di pandangan kita daripada benda langit lainnya meski cahaya kedua benda tersebut berbeda. Cahaya matahari berasal dari matahari itu sendiri dan bersifat panas, sedangkan cahaya bulan berasal dari cahaya matahari yang lalu ia pantulkan dan tidak bersifat panas.
14 abad yg lalu Allah ﷻ telah menyampaikan perbedaan matahari dan bulan pada Al-Quran. Penjelasan tentang dua benda langit tersebut menggunakan bahasa yang simpel. Allah ﷻ menggunakan kata ‘dhiya’ atau ‘siraajan wa haaja’ utk menjelaskan tentang cahaya matahari. Tetapi untuk bulan, Allah ﷻ menggunakan kata ‘nūr’
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus: 5)
تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (QS. Al-Furqan: 61)
وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? (QS. Nuh: 16)
وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا
dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), (QS. An Naba: 13)
***
Kalau menggunakan kamus yang tak lengkap atau sekedar terjemahan, makna dari tiga kata tersebut tampak sama (cahaya). Padahal dalam bahasa arab, beda satu huruf saja sudah beda artinya, apalagi beda kata total. Dhiya berarti cahaya yg berasal dari dirinya sdangkan nūr adalah cahaya yg berasal dari sesuatu yg lain. Itulah pentingnya belajar bahasa Arab karena Islam menggunakan bahasa ini. Sudah jelas Al-Quran dan hadits menggunakan bahasa Arab. Allah ﷻ memilih bahasa arab untuk kalam-Nya pasti ada alasannya.
Nabi ﷺ bersabda:
keistimewaan ulama dibandingkan para ahli ibadah adalah seperti bulan di antara bintang-bintang.
Hadits tsb bermakna bahwa ulama lebih besar memberikan manfaat daripada ahli ibadah. Sehingga, ia didoakan oleh semua makhluk yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan yang ada di dasar lautan pun mendoakan.
#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g



Komentar
Posting Komentar