KAJIAN UST. ABDULLAH ZAEN - KEDUDUKAN AKHLAK DALAM ISLAM
Kedudukan Akhlak dalam Islam - 1
Abdullah Zaen, MA
Masjid Jenderal Soedirman, Purwokerto
Jumat, 13 Maret 2015
Abdullah Zaen, MA
Masjid Jenderal Soedirman, Purwokerto
Jumat, 13 Maret 2015
Disusun oleh: Pradipta Prayoga
Bandung, 7 Rabiul Akhir 1438H/5 Januari 2017
Dengan pengubahan seperlunya
MUQODDIMAH
Alhamdulillahirobbil ‘alamin wa bihi nasta’inu ‘ala ‘umuri dunya waddin wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Amma ba’du.
Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Tabaroka wa ta’ala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, kita kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, dan taufiq dari Allah sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin insyaa Allah di Masjid Jenderal Soedirman di Purwokerto ini. Kita berharap semoga Allah berkenan untuk melimpahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk emnghadap ke Allah. Aamiin.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada para sahabatnya, keluarganya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga hari akhir nanti.
Para hadirin yang kami hormati dan para pemirsa yang senantiasa dirahmati Allah… Agama kita memiliki banyak prinsip yang harus dianut oleh pemeluknya. Di antara prinsip dasar yang harus kita yakini sebagai seorang muslim adalah bahwa ajaran agama kita telah sempurna dan sudah paripurna. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam sebuah ayat yang banyak kita hafal yaitu di surat Al Maidah ayat 3,
الْÙŠَÙˆْÙ…َ Ø£َÙƒْÙ…َÙ„ْتُ Ù„َÙƒُÙ…ْ دِينَÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َتْÙ…َÙ…ْتُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ Ù†ِعْÙ…َتِÙŠ Ùˆَرَضِيتُ Ù„َÙƒُÙ…ُ الْØ¥ِسْÙ„َامَ دِينًا
Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Jadi agama kita sudah sempurna. Darimana kita bisa melihat sisi kesempurnaan Islam? Tentunya, tinjauan tentang kesempurnaan tentang agama kita sangatlah luas. Bahkan kalau kita berbicara tentang kesempurnaan Islam, kita bagaikan berenang di lautan yang tidak ada tepinya saking luasnya. Di antara bentuk kesempurnaan Islam bahwa agama ini cukup untuk mengatur seluruh kepentingan manusia di dalam berbagai aspek kehidupannya (manusia). Mulai dari bagaimana manusia berhubungan dengan Allah (hablu minallah) itu ada aturannya dalam agama kita. Lalu hubungan kita dengan orang tua, hubungan manusia dengan pasangannya, hubungan manusia dengan anaknya, hubungan manusia dengan tetangganya, rekan kerjanya, semuanya ada aturannya dalam agama kita. Termasuk juga bagaimana seorang manusia berhubungan dengan pembantu, majikan, bos, bahkan karyawan, ada semua aturannya dalam agama kita. Bahkan agama kita mengatur bagaimana hubungan kita antara muslim dengan nonmuslim. Nonmuslim di sini terbagi-bagi lagi antara ahlul kitab dan non ahlul kitab. Itu semuanya ada aturannya dalam agama kita. Bukan hanya itu, ketika seorang akan berbisnis, di dalam Islam ada aturannya. Ketika akan berpolitik, di dalam Islam ada aturannya. Bahkan ketika seorang dokter akan mengoperasi pasiennya ada aturannya.
- Saya bawakan satu contoh buku disertasi, “Hukum-Hukum Operasi Medis”. Jadi diatur semunya, sudah ada aturannya dalam agama kita. Bukan hanya yang kaitannya dengan manusia, termasuk kaitannya dengan benda mati sekalipun di dalam agama kita diatur. Bagaimana kita berhubungan dengan sungai, hutan, udara, ada aturannya dalam agama kita yang biasa diistilahkan dengan lingkungan hidup.
- Saya bawakan contoh buku tesis, “Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Manusia dengan Lingkungannya sebagaimana Disebutkan dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”. Subhanallah. Bagaimana kita mengatur hubungan kita dengan hutan, telaga, sungai, sumur, ada aturannya dalam agama kita. Bukan hanya kaitannya di dalam negeri kita, hubungan bilateral di dalam agama kita pun diatur.
- Saya bawakan contoh tesis juga, “Bagaimana Islam Memandang Penyerahan Buronan Antar Negara”. Kalau misalnya hubungan bilateral diatur dalam agama kita, apalagi cara makan, minum, berbicara, buang hajat. Itu semua diatur dalam agama kita. Makanya, orang yang paham ajaran agama Islam secara sempurna, dia akan tergakum-kagum dengan kesempurnaan ajaran Islam. Secara garis besar, ajaran Islam bisa dibagi menjadi 3 bahasan utama.
- Akidah, keyakinan, fondasi yang akan membuat pola beragama seorang hamba itu kokoh dan kuat. Akidah itulah yang akan membuat seorang hamba tidak mudah terombang-ambing dengan godaan-godaan yang ada di dunia ini. Akidah inilah yang akan membuat seorang menjadi tenang ketika menghadapi ujian, cobaan, dan musibah yang menimpa dia. Akidah itulah yang akan membuat seorang fokus ibadahnya hanya pada satu tujuan, yaitu Allah. Ini akidah yang kaitannya dengan rukun iman (kepada Allah, kitab, rasul, malaikat, hari akhir, dan takdir). Ini adalah akidah, fondasi.
- Ibadah, mengatur tata cara seorang hamba berinteraksi dengan Allah, mensyukuri Allah atas segala nikmat. Makanya di dalam ajaran agama kita yang namanya ibadah itu tidak “semau gue”, ibadah itu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, itulah ibadah di dalam agama kita. Jadi cara kita berhubungan dengan Allah, itulah ibadah. Ibadah juga biasa diistilahkan dengan fiqih.
- Akhlak, ini yang biasa diistilahkan dengan hablu minannas. Tapi di dalamnya juga diatur bagaimana kita berhubungan dengan manusia dan dengan bangsa-bangsa lain selain manusia yang hidup bersama kita di dunia, yaitu jin, hewan, tumbuhan, batu, malaikat, dan lain-lain. Bagaimana kita berinteraksi dengan mereka? Ini semua ada aturannya. Inilah akhlak.
- Yang akan kita bahas adalah masalah akhlak. Kita akan membahas muqoddimah penting dalam akhlak, mulai dari bagaimana kedudukan akhlak dalam Islam, kemudian klasifikasi akhlak dalam Islam, kemudian literatur akhlak dalam Islam. Ini 3 muqoddimah yang akan kita bahas, lalu kita bahas akhlak dan adab dalam Islam secara rinci dengan izin Allah.
MATERI INTI
- Kedudukan akhlak di dalam Islam
Kalau bicara masalah akhlak, jangan bicara tentang muslimin tapi bicaralah tentang Islam. Karena banyak yang tidak mempraktekkan akhlak yang diajarkan oleh Islam.
- Contohnya, kalau ke terminal, lewat antara bis aromanya srang-sreng (mambu pesing), buang pipis sembarangan.
Jadi kalau ngomong tentang akhlak, jangan dulu bicara tentang kaum muslimin, kita bicara masalah Islam dulu. Di sini terbagi menjadi beberapa poin untuk menunjukkan Islam agama yang sangat memperhatikan akhlak,
- Akhlak adalah tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus ke muka bumi, salah satu tujuan utamanya adalah untuk membawa akhlak. Hadits yang sering kita dengan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (shohih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan Syaikh Al-Albani), kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya aku diutus HANYA untuk menyempurnakan akhlak yang sempurna (mulia)”. Kalau kita baca hadits ini baik-baik, menyempurnakan akhlak mulia, berarti sebelum datangnya Islam sudah ada akhlak, namun belum sempurna.
- Orang jahiliyyah juga punya akhlak, seperti yang dikatakan oleh seorang penyair Arab sebelum masuk Islam, “Saya akan tundukkan pandangan mataku manakala istri tetanggaku lewat sampai istri tetanggaku itu masuk ke dalam rumahnya”. Islam datang menyempurnakan akhlak ini, bukan hanya istri tetangga tapi di jalan-jalan juga Islam menyuruh menundukkan pandangan mata. Makanya di Alquran, Allah berfirman, “Katakanlah kepada kaum mukminin agar mereka menundukkan pandangan mata mereka…” Lihatlah yang perlu dilihat saja. Kadang kita melihat yang tidak perlu dilihat. Ini adalah poin pertama bahwa Islam memperhatikan akhlak.
- Akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari iman dan akidah.
Walaupun sudah dibagi, ada akidah, ibadah, dan akhlak, namun sejatinya akhlak ini tidak bisa lepas dari akidah. Dalilnya, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Daud (hasan shohih oleh At Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani), “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya.”
- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan keimanan (akidah) dengan akhlak. Jadi kalau ingin tau orang yang akidahnya kuat, lihat akhlaknya juga. Semakin akidah seseorang kuat maka seharusnya akhlaknya semakin baik. Dan kalau melihat ada orang yang akhlaknya jelek bisa jadi itu imbas dari akidah yang belum kuat. Misal akhlak yang kurang baik, kalau bertemu jarang menyapa, senyumnya mahal (saking mahalnya seakan-akan giginya aurat karena mingkem terus). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan walaupun sedikit meskipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri”.
- Kalau misalnya ada yang sudah khatam kitab akidah berkali-kali dan akhlaknya tetap buruk, maka kita katakan bahwa akidah itu bukan hanya sekedar teori yang harus dipelajari, tapi teori yang harus dipraktekkan. Karena ada sebagian orang yang belajar ilmu hanya dijadikan sebagai teori, aplikasinya tidak ada.
- Akidah adalah sebuah keyakinan yang harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata, makanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”.
- Akhlak berkaitan dengan hampir seluruh ibadah.
Kalau kita perhatikan dalil yang ada, ketika berbicara tentang ibadah, selalu hampir sering dikaitkan dengan akhlak. Bagaimana ibadah itu menghasilkan akhlak yang mulia?
- Contohnya shalat, ayatnya yaitu salah satunya “Tegakkan shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan perbuatan yang munkar” (Al Ankabut: 45). Lihat bagaimana Allah mengaitkan shalat dengan akhlak. Jadi kalau orang shalatnya baik maka akhlaknya juga akan baik. Al Hasan Al Bashry, beliau mengatakan, “Barangsiapa yang shalat akan tetapi shalatnya tidak mencegah dia dari perbuatan yang keji dan munkar (pen: shalat terus maksiat jalan), sungguh shalatnya itu akan membuatnya semakin menjauh dari Allah”. Subhanallah. Shalat malah membuatnya semakin jauh dari Allah. Solusinya adalah mari perbaiki shalat kita supaya shalat ada efek positif dalam kehidupan keseharian kita alias banyak di antara kita shalatnya itu baru gerakan lahiriyyah, belum masuk ke dalam hati, belum ngefek ke perilaku keseharian. Jadi, ibadah seorang hamba akan punya efek terhadap akhlak.
- Contoh kedua, zakat. Bagaimana zakat dikaitkan oleh Allah dengan akhlak. Kata Allah dalam surat At Taubah: 103, “Ambillah zakat dari harta mereka (orang-orang yang kaya) karena zakat itu akan menyucikan mereka dan akan mengembangkan (menumbuhkan) mereka”.
- Maksud menyucikan menurut Syaikh As Sa’di adalah zakat itu akan membersihkan seorang hamba dari dosa-dosa dan perilaku/akhlak yang jelek. Perilaku yang jelek yang akan terkikis dengan zakat adalah kikir, bakhil, itu akan terkikis dengan zakat.
- Yang dimaksud menumbuhkan menurut Syaikh As Sa’di adalah akan menumbuhkan akhlak dia yang baik. Pelitnya terkikis, kedermawanannya terbangun dan juga akan menambah amal sholih beliau dan juga akan menambah ganjaran dunia dan akhirat, dan akan mengembangkan hartanya. Makanya banyak orang yang zakat, setelah zakat hartanya akan semakin diberkahi oleh Allah.
- Lalu yang ketiga, puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan puasa dengan akhlak, kata beliau dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya saat puasa, maka Allah tidak butuh dengan puasa dia”. Berarti puasa itu harus ada efeknya dalam keseharian kita. Ketika dia berpuasa, tidak berani ia bisa minum walaupun tidak dilihat sama orang. Karena kita sadar bahwa kita dilihat Allah maka kita tidak melakukan hal tersebut. Bahkan Ibnu Rojab berkata, “Sungguh aneh orang-orang yang puasa dari sesuatu yang hukumnya mubah (halal pada asalnya) tapi tidak ingin puasa dari sesuatu yang hukumnya haram”. Seperti makan minum yang hukumnya boleh, namun menjadi tidak boleh karena puasa. Lalu contoh lainnya seperti korupsi, berdusta, menggunjing, menghina, itu hukumnya haram, baik ketika puasa maupun ketika tidak puasa.
PENUTUP
Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangannya. Kita akan lanjutkan insyaa Allah “Kedudukan Akhlak dalam Islam” poin yang keempat pada pertemuan yang akan datang. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam.
Subhanakallahuma wabihamdik, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Komentar
Posting Komentar