KAJIAN UST. ABU KHALEED RESA - BUAH ILMU ADALAH AMAL #2
Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc
Waktu : 5 Rabi'ul Akhir 1438H
Tempat :Mesjid Raya Cipaganti, Bandung
Nabi ﷺ bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).
Kebaikan disini bersifat umum dan sangat besar. Baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Yang dimaksud Allah akan memberikan kebaikan kepada orang yang paham agama adalah jika seseorang itu memiliki ilmu yang mengantarkan dia kepada amal. Jika hanya sekadar ilmu yang tidak melahirkan amal, bukan termasuk orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah ﷻ. Tujuan dari memahami ilmu adalah mengangkat menghilangkan kebodohan yang ada pada diri, karena pada asalnya manusia itu bodoh (seperti yang sudah dibahas pada bagian ke #1)
Hendaknya maksud seseorang memahami agama itu untuk merealisasikan ibadah kepada Allah ﷻ. Jika pemahaman terhadap agama itu dengan seperti ini, maka inilah yang akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Ada 2 keadaan orang yang paham agama:
1. Paham, namun sekadar paham dan punya ilmu
2. Paham, dan mengamalkannya
Keadaan yang pertama tidak akan mendatangkan kebaikan apa apa bagi para pemiliknya. Adapun yang kedua, dialah yang benar-benar akan datang kepadanya kebaikan-kebaikan yang Allah ﷻ janjikan. Karena paham agama saja hanya sekadar syarat dan bukan sesuatu yang benar benar menjadi sebab datangnya kebaikan seseorang. Apa itu syarat? Contohnya, diantara syarat sah sholat adalah wudhu. Tidak ada wudhu, pasti tidak ada sholat. Artinya sholat itu tidak sah, harus diulang. Begitupun dengan ilmu. Ilmu itu syarat kita mendapatkan kebaikan. Tidak adanya ilmu, kita tidak akan mendapatkan kebaikan. Akan tetapi syarat saja tidak cukup. Syarat itu harus ditindaklanjuti dengan perkara yang lain, dalam hal ini kita harus melanjutkan ilmu dengan amal. Jika kemudian ilmu itu diamalkan, itulah yang benar-benar akan mendatangkan kebaikan bagi kita.
Maka ilmu itu dicari bukan karena dzatnya, akan tetapi untuk tujuan yang lain, yaitu amal. Ibadah itu dibangun diatas 2 perkara, diatas ilmu dan diatas amal. Orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal, maka dia tidak merealisasikan ibadah. Sebaliknya, orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia juga tidak merealisasikan ibadah kepada Allah ﷻ. Hendaknya ketika kita punya ilmu, kita amalkan ilmu tersebut. Hendaklah jangan sekali-kali kita beramal tanpa ilmu. Dua perkara ini haruslah kita perhatikan.
Sebagaimana firman Allah ﷻ
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) PETUNJUK (Al-Quran) dan AGAMA YANG BENAR untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. " (At-Taubah:33)
Berdasarkan penafsiran ulama, petunjuk itu sebagai ilmu, dan agama sebagai amal sholeh yang dilaksanakan. Berikut 10 Poin "Buah dari Ilmu adalah Amal" :
1. Ilmu dan amal itu adalah tujuan dari penciptaan.
Allah ﷻ menciptakan seluruh makhluk agar mereka mengenal Allah, ini merupakan ilmu. Sebagaimana firman Allah ﷻ
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, AGAR KAMU MENGETAHUI bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. " (At-Talaq : 12)
Allah ﷻ menciptakan manusia dan jin agar mereka beribadah kepada Allah, ini merupakan amal. Sebagaimana firman Allah ﷻ
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka BERIBADAH KEPADAKU." (Adz-Dzariyat:56)
Menurut ulama, Tauhid itu ada 2 sisi, yaitu sisi ilmu dan sisi amal. Ini juga diantara perkara yang harus kita ketahui tentang Tauhid (Pokok dari ajaran islam, dan sumber dari seluruh kebaikan). Dua-duanya harus kita wujudkan. Kita harus men-Tauhid-kan Allah ﷻ dari sisi ilmu dan amal. Tauhid itu dibagi menjadi 3, Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan 'Asma wa Sifat.
a. Rububiyyah (Penciptaan, Penguasaan, dan Pengaturan)
Meyakini bahwa Allah ﷻ satu satunya pencipta, penguasa, dan pengatur seluruh makhluk.
b. Uluhiyyah (Mengesakan ibadah kepada Allah ﷻ)
Meyakini Allah ﷻ satu-satunya yang berhak disembah
c. 'Asma wa Sifat
Meyakini bahwa Allah ﷻ memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah ﷻ tetapkan untuk dirinya sendiri. Baik melalui Al-Qur'an maupun As-Sunnah.
Dari 3 macam tauhid ini, tauhid Rububiyyah dan 'Asma wa Sifat adalah sisi Ilmu dari tauhid. Sedangkan Uluhiyyah adalah sisi Ilmu & Amal dari tauhid. Selain kita meyakini bahwa satu-satunya yang berhak disembah hanyalah Allah ﷻ (ilmu), kita pun beribadah kepada-Nya (amal).
Agar seseorang menjadi hamba Allahﷻ yang sebenarnya, maka harus merealisasikan 2 perkara ini. Janganlah kita seperti orang Yahudi, yang mempunyai Ilmu namun enggan beramal. Janganlah pula seperti orang Nasrani, yang beramal tanpa mempunyai Ilmu.
2. Seorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban dengan ilmunya, dari sisi apa yang telah dia amalkan dari ilmunya tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ, وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ.
“Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) TENTANG ILMUNYA, UNTUK APA IA AMALKAN; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).
Kita harus memberikan perhatian besar terhadap ilmu, sebagaimana kita harus memberikan perhatian besar terhadap amal. Tidak boleh berat sebelah. Saking khawatir nya sebagian ulama, ilmu yang mereka miliki menjerumuskan mereka kedalam neraka, maka mereka berkata "Cukuplah bagi saya, ilmu saya tidak menjerumuskan saya kepada neraka". Mengapa demikian? Karena ilmu itu kalau tidak diamalkan akan mendatangkan siksa. Begitulah kehati-hatian para ulama dan ketakutannya kepada Allah ﷻ. Namun jangan disalahpahami karena perkataan ini, kita malah tidak berilmu dengan alasan takut tidak diamalkan. Itu tidak benar. Ilmu harus diamalkan, apabila tidak punya ilmu, maka akan lebih parah lagi. Kita harus mencontoh para ulama, banyak beramal sholeh, dan takut akan siksa-Nya kelak di hari kiamat. Tetap khawatir di hari kiamat tidak dapat selamat dari siksa-Nya.
Orang beriman itu mengumpulkan amal sholeh dan memperbanyak rasa takut. Adapun sifat munafik adalah mengumpulkan perbuatan buruk tapi mempunyai harapan banyak masuk surga. Hendaklah kita menjauhi sifat munafik tersebut. Sebagaimana firman Allah ﷻ
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka," (Al-Mu'minun:60)
Rasulullahﷺ menjelaskan tafsir ayat diatas berdasarkan hadist berikut:
حدثنا ابن أبي عمر حدثنا سفيان حدثنا مالك بن مغول عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت سألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن هذه الآية والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة } قالت عائشة هم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar telah menceritakan kepada kami Sufyaan telah menceritakan kepada kami Maalik bin Mighwal, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’iid bin Wahb Al-Hamdaaniy Bahwa ‘Aisyah istri Nabi ﷺ berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat : ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut’ (Al Mu’minuun: 60)”. ‘Aisyah bertanya : ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”. Beliau menjawab : “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan [Sunan Tirmidzi 5/327 no 3175]
==Bersambung==
Resume oleh: Naufal Syahrial Hidayat (Agroteknologi 2016)
Selesai disusun: 5 Rabi'ul Akhir 1438H
#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
Waktu : 5 Rabi'ul Akhir 1438H
Tempat :Mesjid Raya Cipaganti, Bandung
Nabi ﷺ bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).
Kebaikan disini bersifat umum dan sangat besar. Baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Yang dimaksud Allah akan memberikan kebaikan kepada orang yang paham agama adalah jika seseorang itu memiliki ilmu yang mengantarkan dia kepada amal. Jika hanya sekadar ilmu yang tidak melahirkan amal, bukan termasuk orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah ﷻ. Tujuan dari memahami ilmu adalah mengangkat menghilangkan kebodohan yang ada pada diri, karena pada asalnya manusia itu bodoh (seperti yang sudah dibahas pada bagian ke #1)
Hendaknya maksud seseorang memahami agama itu untuk merealisasikan ibadah kepada Allah ﷻ. Jika pemahaman terhadap agama itu dengan seperti ini, maka inilah yang akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Ada 2 keadaan orang yang paham agama:
1. Paham, namun sekadar paham dan punya ilmu
2. Paham, dan mengamalkannya
Keadaan yang pertama tidak akan mendatangkan kebaikan apa apa bagi para pemiliknya. Adapun yang kedua, dialah yang benar-benar akan datang kepadanya kebaikan-kebaikan yang Allah ﷻ janjikan. Karena paham agama saja hanya sekadar syarat dan bukan sesuatu yang benar benar menjadi sebab datangnya kebaikan seseorang. Apa itu syarat? Contohnya, diantara syarat sah sholat adalah wudhu. Tidak ada wudhu, pasti tidak ada sholat. Artinya sholat itu tidak sah, harus diulang. Begitupun dengan ilmu. Ilmu itu syarat kita mendapatkan kebaikan. Tidak adanya ilmu, kita tidak akan mendapatkan kebaikan. Akan tetapi syarat saja tidak cukup. Syarat itu harus ditindaklanjuti dengan perkara yang lain, dalam hal ini kita harus melanjutkan ilmu dengan amal. Jika kemudian ilmu itu diamalkan, itulah yang benar-benar akan mendatangkan kebaikan bagi kita.
Maka ilmu itu dicari bukan karena dzatnya, akan tetapi untuk tujuan yang lain, yaitu amal. Ibadah itu dibangun diatas 2 perkara, diatas ilmu dan diatas amal. Orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal, maka dia tidak merealisasikan ibadah. Sebaliknya, orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia juga tidak merealisasikan ibadah kepada Allah ﷻ. Hendaknya ketika kita punya ilmu, kita amalkan ilmu tersebut. Hendaklah jangan sekali-kali kita beramal tanpa ilmu. Dua perkara ini haruslah kita perhatikan.
Sebagaimana firman Allah ﷻ
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) PETUNJUK (Al-Quran) dan AGAMA YANG BENAR untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. " (At-Taubah:33)
Berdasarkan penafsiran ulama, petunjuk itu sebagai ilmu, dan agama sebagai amal sholeh yang dilaksanakan. Berikut 10 Poin "Buah dari Ilmu adalah Amal" :
1. Ilmu dan amal itu adalah tujuan dari penciptaan.
Allah ﷻ menciptakan seluruh makhluk agar mereka mengenal Allah, ini merupakan ilmu. Sebagaimana firman Allah ﷻ
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, AGAR KAMU MENGETAHUI bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. " (At-Talaq : 12)
Allah ﷻ menciptakan manusia dan jin agar mereka beribadah kepada Allah, ini merupakan amal. Sebagaimana firman Allah ﷻ
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka BERIBADAH KEPADAKU." (Adz-Dzariyat:56)
Menurut ulama, Tauhid itu ada 2 sisi, yaitu sisi ilmu dan sisi amal. Ini juga diantara perkara yang harus kita ketahui tentang Tauhid (Pokok dari ajaran islam, dan sumber dari seluruh kebaikan). Dua-duanya harus kita wujudkan. Kita harus men-Tauhid-kan Allah ﷻ dari sisi ilmu dan amal. Tauhid itu dibagi menjadi 3, Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan 'Asma wa Sifat.
a. Rububiyyah (Penciptaan, Penguasaan, dan Pengaturan)
Meyakini bahwa Allah ﷻ satu satunya pencipta, penguasa, dan pengatur seluruh makhluk.
b. Uluhiyyah (Mengesakan ibadah kepada Allah ﷻ)
Meyakini Allah ﷻ satu-satunya yang berhak disembah
c. 'Asma wa Sifat
Meyakini bahwa Allah ﷻ memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah ﷻ tetapkan untuk dirinya sendiri. Baik melalui Al-Qur'an maupun As-Sunnah.
Dari 3 macam tauhid ini, tauhid Rububiyyah dan 'Asma wa Sifat adalah sisi Ilmu dari tauhid. Sedangkan Uluhiyyah adalah sisi Ilmu & Amal dari tauhid. Selain kita meyakini bahwa satu-satunya yang berhak disembah hanyalah Allah ﷻ (ilmu), kita pun beribadah kepada-Nya (amal).
Agar seseorang menjadi hamba Allahﷻ yang sebenarnya, maka harus merealisasikan 2 perkara ini. Janganlah kita seperti orang Yahudi, yang mempunyai Ilmu namun enggan beramal. Janganlah pula seperti orang Nasrani, yang beramal tanpa mempunyai Ilmu.
2. Seorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban dengan ilmunya, dari sisi apa yang telah dia amalkan dari ilmunya tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ, وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ.
“Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) TENTANG ILMUNYA, UNTUK APA IA AMALKAN; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).
Kita harus memberikan perhatian besar terhadap ilmu, sebagaimana kita harus memberikan perhatian besar terhadap amal. Tidak boleh berat sebelah. Saking khawatir nya sebagian ulama, ilmu yang mereka miliki menjerumuskan mereka kedalam neraka, maka mereka berkata "Cukuplah bagi saya, ilmu saya tidak menjerumuskan saya kepada neraka". Mengapa demikian? Karena ilmu itu kalau tidak diamalkan akan mendatangkan siksa. Begitulah kehati-hatian para ulama dan ketakutannya kepada Allah ﷻ. Namun jangan disalahpahami karena perkataan ini, kita malah tidak berilmu dengan alasan takut tidak diamalkan. Itu tidak benar. Ilmu harus diamalkan, apabila tidak punya ilmu, maka akan lebih parah lagi. Kita harus mencontoh para ulama, banyak beramal sholeh, dan takut akan siksa-Nya kelak di hari kiamat. Tetap khawatir di hari kiamat tidak dapat selamat dari siksa-Nya.
Orang beriman itu mengumpulkan amal sholeh dan memperbanyak rasa takut. Adapun sifat munafik adalah mengumpulkan perbuatan buruk tapi mempunyai harapan banyak masuk surga. Hendaklah kita menjauhi sifat munafik tersebut. Sebagaimana firman Allah ﷻ
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka," (Al-Mu'minun:60)
Rasulullahﷺ menjelaskan tafsir ayat diatas berdasarkan hadist berikut:
حدثنا ابن أبي عمر حدثنا سفيان حدثنا مالك بن مغول عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت سألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن هذه الآية والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة } قالت عائشة هم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar telah menceritakan kepada kami Sufyaan telah menceritakan kepada kami Maalik bin Mighwal, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’iid bin Wahb Al-Hamdaaniy Bahwa ‘Aisyah istri Nabi ﷺ berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat : ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut’ (Al Mu’minuun: 60)”. ‘Aisyah bertanya : ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”. Beliau menjawab : “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan [Sunan Tirmidzi 5/327 no 3175]
==Bersambung==
Resume oleh: Naufal Syahrial Hidayat (Agroteknologi 2016)
Selesai disusun: 5 Rabi'ul Akhir 1438H
#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017



Komentar
Posting Komentar