RAIH UNTA MERAH DI MEDAN PERJUANGAN (Kiat-kiat Mendakwahi Orang Terdekat)
Kajian Ilmiah Majelis Ta'lim Sidra
Masjid Al Hidayah Bidakara, Jakarta Selatan
07 Jumadal Ula 1438 H / 04 Februari 2017 M
Pemateri : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. _hafidzahullah_
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.
Banyak orang yang menganggap bahwa berdakwah itu adalah kewajiban seorang da'i, ustadz atau orang-orang yang paham agama saja. Konotasi dakwah juga terbatas pada majelis ta'lim. Dengan pandangan ini, seorang muslim yang bukan da'i (ustadz) merasa tidak punya tanggung jawab dalam berdakwah. Dakwah seharusnya menjadi komitmen setiap muslim untuk menyebarkan risalah agama Islam kepada orang-orang terdekat dan lingkungannya.
Mengapa berdakwah kepada orang terdekat itu sangat penting?! Setiap dari kita pasti mempunyai satu ilmu. Entah itu ilmu agama atau ilmu dunia. Maka setiap masing-masing dari kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan atau mendakwahi ilmunya.
Kita pahami bahwasanya orang yang berdakwah dan mengajak kepada kebaikan termasuk orang-orang yang mempunyai perkataan terbaik. Merujuk kepada ayat dari Al-Qur'an, Allah ﷻ berfirman dalam surat Fussilat ayat 33,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى الَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
Beberapa hikmah bisa kita ambil dari ayat tersebut adalah:
1. Orang yang berdakwah adalah orang yang mempunyai perkataan baik walaupun dakwahnya hanya kepada orang terdekat seperti anak, ayah, ibu, suami atau istri dan yang lainnya.
2. Dakwah ilallah, yakni dakwah yang mengajak dalam rangka ketaatan pada Allah ﷻ bukan mengajak kepada suatu golongan atau kelompok tertentu. Juga dibangun atas dasar pondasi keikhlasan yang membuat dakwah lebih langgeng.
3. Memulai dari diri sendiri ('ibda binafsik). Sebelum memulai berdakwah mengajak ibu, bapak, saudara, istri atau siapapun. Engkau harus terlebih dahulu mendakwahi dirimu sendiri, maknanya adalah ketika kita ingin mengubah orang lain untuk lebih baik lagi ada kalanya kita perlu memberikan contoh atau sikap terlebih dahulu. Ini jauh lebih efektif dan dampaknya akan meresap kepada target dakwah kita. Sebagaimana yang telah dijelaskan, Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahriim: 6).
4. Berani mengatakan bahwa ia adalah seorang Muslim. Tentunya bukan hanya sekedar Islam KTP, ia harus benar-benar menjalankan ajaran Islam secara Kaffah (menyeluruh: rukun, kewajiban, sunnah, menaati perintah dan menjauhi larangannya) juga memegang prinsip Al-Wala’ wal Bara’ yang salah satu dari prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, yaitu mencintai dan memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum Mukminin, membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara’) dari mereka.
07 Jumadal Ula 1438 H / 04 Februari 2017 M
Pemateri : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. _hafidzahullah_
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.
Banyak orang yang menganggap bahwa berdakwah itu adalah kewajiban seorang da'i, ustadz atau orang-orang yang paham agama saja. Konotasi dakwah juga terbatas pada majelis ta'lim. Dengan pandangan ini, seorang muslim yang bukan da'i (ustadz) merasa tidak punya tanggung jawab dalam berdakwah. Dakwah seharusnya menjadi komitmen setiap muslim untuk menyebarkan risalah agama Islam kepada orang-orang terdekat dan lingkungannya.
Mengapa berdakwah kepada orang terdekat itu sangat penting?! Setiap dari kita pasti mempunyai satu ilmu. Entah itu ilmu agama atau ilmu dunia. Maka setiap masing-masing dari kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan atau mendakwahi ilmunya.
Kita pahami bahwasanya orang yang berdakwah dan mengajak kepada kebaikan termasuk orang-orang yang mempunyai perkataan terbaik. Merujuk kepada ayat dari Al-Qur'an, Allah ﷻ berfirman dalam surat Fussilat ayat 33,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى الَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
Beberapa hikmah bisa kita ambil dari ayat tersebut adalah:
1. Orang yang berdakwah adalah orang yang mempunyai perkataan baik walaupun dakwahnya hanya kepada orang terdekat seperti anak, ayah, ibu, suami atau istri dan yang lainnya.
2. Dakwah ilallah, yakni dakwah yang mengajak dalam rangka ketaatan pada Allah ﷻ bukan mengajak kepada suatu golongan atau kelompok tertentu. Juga dibangun atas dasar pondasi keikhlasan yang membuat dakwah lebih langgeng.
3. Memulai dari diri sendiri ('ibda binafsik). Sebelum memulai berdakwah mengajak ibu, bapak, saudara, istri atau siapapun. Engkau harus terlebih dahulu mendakwahi dirimu sendiri, maknanya adalah ketika kita ingin mengubah orang lain untuk lebih baik lagi ada kalanya kita perlu memberikan contoh atau sikap terlebih dahulu. Ini jauh lebih efektif dan dampaknya akan meresap kepada target dakwah kita. Sebagaimana yang telah dijelaskan, Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahriim: 6).
4. Berani mengatakan bahwa ia adalah seorang Muslim. Tentunya bukan hanya sekedar Islam KTP, ia harus benar-benar menjalankan ajaran Islam secara Kaffah (menyeluruh: rukun, kewajiban, sunnah, menaati perintah dan menjauhi larangannya) juga memegang prinsip Al-Wala’ wal Bara’ yang salah satu dari prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, yaitu mencintai dan memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum Mukminin, membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara’) dari mereka.
________________________________________
Keutamaan Dakwah ilallah:
1. Orang yang berdakwah karena Allah ﷻ adalah sebaik-baik umat, dijelaskan dalam Al-Qur'an,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali 'Imran: 110).
2. Orang yang berdakwah memiliki perkataan yang baik.
3. Akan mendapat pahala dari orang yang kita dakwahi, terlebih ia mengamalkan ilmu yang kita sampaikan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ telah bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.”
(HR. Muslim no. 2674).
4. Orang yang berdakwah senantiasa didoakan oleh para malaikat, lalu semua penduduk langit dan bumi, sampai semut yang sedang sembunyi di dalam sarangnya pun ikut mendoakan kebaikan kepada orang yang mendakwahi manusia dalam rangka kebajikan. Dari Abu Umamah al-Baahili رضي الله عنهم bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia” (HR at-Tirmidzi no. 2685) dan (HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” no. 7912), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang semakna. Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (4/467).
5. Muslim yang baik adalah yang menjadi pelopor dalam kebaikan dan yang terdepan dalam menjauhi kemungkaran sebelum mengajak atau mendakwahi orang lain. Karena sudah sepatutnya bagi orang yang mengajak kepada kebaikan, maka hendaklah kalian yang menjadi pelopor pertama dalam melaksanakan kebaikan. Jika ia melarang suatu kemungkaran, maka ia yang lebih menjauhi kemungkaran tersebut. Terlebih ketika ia menjadi pelopor (yang memulai terlebih dahulu) pada hal-hal kebaikan. Maka ia mendapat pahala untuk dirinya dan tambahan pahala dari orang lain tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنهم , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menyeru kepada hidayah (jalan petunjuk dan kebaikan), maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti (atau mengerjakan)nya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang mengikuti (mengerjakan)nya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 6750).
_________________________________________
Langkah praktis dan efektif dalam berdakwah:
1. Memiliki tiga modal utama terlebih dahulu, yakni;
a. Ilmu (Awal)
b. Lemah lembut (Tengah-tengah)
c. Sabar (Akhir)
Merujuk kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ Fatawa.
Mengapa ilmu diletakkan di awal? Karena ini menunjukan bahwasanya kita wajib untuk tholabul 'ilmi (menuntut ilmu) terlebih dahulu. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: "Barang siapa yang beramal (ibadah) tanpa didasari oleh ilmu, maka unsur merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya." (Sirah wa Manaqibu Umar bin Abdul Aziz, oleh Ibnul Jauzi). Lalu, Mu'adz bin Jabal رضي الله عنهم mengatakan,
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15). Dan juga Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)“.
Layaknya ketika shalat, ilmu adalah imam dan amal adalah makmum. Jika ada hadits yang menerangkan bahwasanya mendahului imam dalam gerakan shalat maka akan di jadikan kepalanya menjadi kepala keledai. Maka dari itu amalan tidak boleh mendahului dari ilmu.
2. Lemah lembut dalam menyampaikan ilmu ketika berdakwah. Karena dengan sebab rahmat Allah orang itu mendapat hidayah, maka berlaku lemah-lembutlah terhadap mereka yang masih awam terhadap apa yang belum diketahuinya. Sekiranya kalian bersikap keras lagi berhati kasar, tentu yang didapati adalah mereka menjauh darimu.
3. Sabar, adalah salah satu prinsip yang dipegang oleh Ibnul Jauzi rahimahullah, yaitu:
“Kalau engkau perhatikan hasad di antara para ulama (orang-orang berilmu), maka engkau akan lihat bahwa hasad itu timbul karena kecintaan pada dunia. Karena ulama akhirat saling berkasih sayang satu dan lainnya, mereka tidaklah saling hasad."
Menunjukkan bahwa intinya tantangan di medan dakwah itu banyak lagi berat. Maka dari itu sesungguhnya orang yang mau bersabar akan di janjikan surga oleh Allah ﷻ tanpa batas waktu.
4. Berdakwah sesuai kemampuan, sebagaimana di awal ayat surah Al-Baqarah ayat 287, “Laa Yukallifullaahu Nafsan Illa Wus'ahaa...” yang terjemahannya adalah "Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya" juga dalam hadits,
Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr رضي الله عنهم dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan kaidah dalam agama Islam,
- Jika bersifat perintah dari Allah dan RasulNya --> Maka berusahalah untuk menaati dan mengerjakan semampunya.
- Jika bersifat larangan --> Maka tinggalkan dan jauhilah.
5. Berdakwah butuh bertahap dan selalu melihat skala prioritas. Seperti: Jika ada sahabat atau saudara kita yang pakaiannya masih di bawah mata kaki (isbal), janganlah kita hakimi secara langsung, kita nasihati baik-baik lalu kita perbaiki mulai dari skala yang paling urgent seperti shalat dan perintah wajib lainnya.
6. Berdakwah walaupun hanya dengan hal yang sederhana. Seperti dengan media sosial, media cetak, media elektronik dan lain sebagainya. Contoh: Jika kalian hadir di majelis ilmu, ingin bermanfaat ilmu yang kalian bawa, maka membuat ringkasan kajian itu bisa menjadi solusi agar nantinya tulisanmu bermanfaat bagi orang terdekat dan orang lain yang membacanya. Dan ini termasuk dakwah, menyebarkan syi'ar Islam, dan menghidupkan kembali nuansa Islami ditengah-tengah lingkungan kita.
7. Pakailah strategi untuk berdakwah, jika kita meneladani Rasulullah ﷺ maka yang beliau ﷺ prioritaskan dalam awal berdakwah dan yang utama adalah tentang aqidah, tauhid (pokok dan cabang-cabangnya) dan menyampaikan untuk menjauhi kesyirikan. Maka carilah strategi yang bisa diterima oleh target dakwah kita.
8. Dakwahi Tauhid terlebih dahulu sebagai lanjutan nomor 5. Sebagaimana hadits,
قال جندب بن جنادة رضي الله عنه: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان. رواه ابن ماجه وصححه الألباني
Jundub bin Junadah رضي الله عنهم berkata, “Kami telah bersama Nabi ﷺ ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar Al-Qur'an, kemudian barulah kami mempelajari Al-Qur'an hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan oleh al-Albani).
9. Jangan terlalu kaku dalam berdakwah. Jika kita memiliki tekad dakwah kita ideal dengan mudahnya diterima oleh target dakwah kita tentunya kita harus bersikap seperti sebagaimana biasa, karena itulah kuncinya, bukan malah ketika ingin berdakwah kita menjadi kaku dan bukan seperti orang yang dikenal target dakwah kita. Maka ambil dan pertimbangkanlah mudharat yang lebih ringan sebelum memulai berdakwah, agar dakwah kita bisa lebih meresap.
10. Kita butuh dakwah dengan doa, tidak cukup hanya lewat penyampaian saja. Terkadang, sudah berulang kali kita sampaikan, tapi belum diterima. Tentunya, ketika ingin mendakwahi orang terdekat seperti orang tua misalnya, maka janganlah kita lupakan untuk berdoa. Walau doa adalah selemah-lemahnya iman namun berdoa layak dijadikan perisai bagi seorang muslim. Kemudian agar dakwah kita mudah diterima orang tua, ada kalanya kita harus silaturahmi. Bahwasanya yang dimaksud dengan rahim (pada silaturrahmi atau menyambung rahim) adalah kerabat. Baik itu mahram atau bukan mahram, baik itu mereka yang mendapatkan warisan atau yang tidak mendapatkan warisan, tapi mereka adalah kerabat kita sampai bapak yang ke-4, maka berusahalah untuk menjaga hubungan kita dengan mereka, karena ada keutamaan dan fadhilah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits,
Dari Anas bin Malik رضي الله عنهم berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah menafsirkan hadits diatas, yang dimaksud rizqi diperluas dan umur yang ditambah adalah diberkahi.
11. Memulai dakwah sedini mungkin, jangan menunda-nunda. Lebih efektif ketika kita mulai sejak anak-anak masih kecil karena anak-anak itu bisa menjadi ladang pahala untuk orang tua.
12. Dalam rangka berdakwah, perlunya kita memperhatikan adab dalam mendakwahi dan menasihati, jika 4 mata (yang dimaksud adalah yang se-mahram, ikhwan dengan ikhwan dan akhwat dengan akhwat) lebih baik maka lakukanlah. Ada bait sya’ir yang indah dari Imam Syafi’i rahimahullah tentang cara menasihati orang lain agar nasihat kita mudah diterima. Imam Syafi’i rahimahullah berkata,
تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة
Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri.
Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai.
فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه
Karena menasihatiku di hadapan orang lain adalah bagian dari menjelekkanku,
Aku tidak ridha mendengar seperti itu.
وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه
Jika engkau enggan menuruti perkataanku.
Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati.
(Dinukil dari Al-Mu’jam Al-Jami’ fi Tarajim Al-‘Ulama’ wa Talabatul ‘Ilm Al-Mu’ashirin, Asy-Syamilah).
13. Pada hakikatnya tugas kita hanyalah sebagai penyampai selebihnya kita serahkan kepada Allah ﷻ.
14. Tentunya tugas kita bukanlah untuk memaksa. Sebagaimana ayat,
وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (QS. Yasin: 17).
Jika ia mau menerima maka ucapkanlah alhamdulillah, namun jika tidak maka urusannya dengan Allah ﷻ. Karena, dakwah bukanlah paksaan seperti potongan surah Al-Baqarah ayat 256, "Laa ikrooha fiddiin..." yang terjemahannya adalah "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama Islam".
15. Pahami bahwa hidayah itu milik dan datangnya dari Allah Azza wa Jalla, kita bisa ambil pelajaran dari Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib. Sebagaimana hadits,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al-Qasas: 56).
16. Jangan lupakan dirimu sendiri. Mulailah beramal dari diri sendiri kemudian baru orang lain. Karenanya kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kelalaianmu meninggalkan kewajiban-kewajiban agama. Jangan sampai kita seperti sebuah lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi orang lain, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah hadits Nabi ﷺ,
Dari Jundub bin Abdullah al-Azadiy رضي الله عنهم, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ اْلعَالِمِ الَّذِى يُعَلِّمُ النَّاسَ اْلخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَ يَحْرِقُ نَفْسَهُ
“Perumpamaan seorang alim (berilmu) yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia dan melupakan dirinya sendiri adalah laksana sebatang lilin yang menerangi orang lain namun ia membakar dirinya sendiri”. [HR al-Khathib al-Baghdadiy, al-Bazzar dan ath-Thabraniy dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5831, 5837, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 126, 127 dan iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 70, 71).
Hal inilah yang ditakutkan oleh Abu Darda رضي الله عنهم ketika ia mengatakan:
إنما أخشى يوم القيامة أن يناديني ربي على رؤوس الخلائق,فيقول : يا عويمر! ما ذا عملت فيما علمت؟
“Sesungguhnya yang aku takutkan hanyalah ketika Rābb-ku memanggilku di hadapan seluruh manusia di hari kiamat kelak, kemudian Dia bertanya : ‘Wahai ‘Uwaimir (Abu Darda’), apa yang telah engkau amalkan dari ilmu yang telah engkau ketahui?" (HR. ad-Darimi dari Ibnu Abdil Barr serta yang lainnya. Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihut Targhiib wat Tarhiib (149), berkata: 'shahih li ghairihi, mauquuf').
Juga dalam ayat Al-Qur'anul Karim,
۞ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah: 44)
Selisihilah orang yahudi yang berilmu tapi tidak mengamalkannya dan orang nasrani yang beramal tanpa memiliki ilmu terlebih dahulu.
17. Rasulullah ﷺ memerintahkan dan menganjurkan kita agar senantiasa berlaku lemah lembut. Maka mudahkanlah jangan kalian persulit dalam berdakwah. Berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari. Tentunya, dakwah dengan mudah adalah mempraktekannya dengan akhlak, karakter atau tingkah laku yang baik. Jika,
• Pedagang = ia jujur dalam berdagang.
• Pegawai = ia amanah dalam mengemban tugas.
• Anak = ia berbakti dengan sebakti-baktinya kepada orang tua.
• Orang tua = ia menjadi pendidik yang mendidik dengan baik.
Jika kita sudah mempunyai 15 poin diatas. Sungguh kalian benar-benar telah mendapatkan harta yang cukup mewah. Unta merahlah yang sebenarnya patut kalian dapatkan sebagaimana unta merah adalah harta yang sangat istimewa di masa Rasul ‘alaihish sholaatu wa sallam,
Dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنهم suatu ketika dalam peperangan Khaibar, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah ﷺ meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”. Beliau menjawab, “Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/31]).
Maka bertahaplah dalam berdakwah, itu penting. Kerjakan yang ideal kalau tidak bisa, mendekati itu jauh lebih baik.
________________________________________
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus sholihaat,
Bagi yang ingin melihat siaran ulang kajian:
https://youtu.be/CzDlWz61ucg
Disusun di Kampung Cadas, Tangerang, Indonesia, ba’da Ashar, Kamis 12 Jumadil Awwal 1438 H / 09 Februari 2017 M
Penulis: Adetya Nur Fajar
Semoga bermanfaat untukku, keluarga, kerabat dan para sahabatku serta kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a’lam



Komentar
Posting Komentar