ABDULLAH ZAEN - TAFSIR ASY SYAMS #3

KAJIAN TAFSIR AL-QUR’AN RUTIN
Pemateri: KH. Abdullah Zaen, Lc, MA.
@ Masjid Agung Daarussalam, Purbalingga
20 Rabi’uts Tsaniy 1438
Ba'da Maghrib-Isya




~Tafsir ayat ke-3 dan 4~

وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا
dan siang apabila menampakkannya,
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا
dan malam apabila menutupinya,
<<Hendaknya kita meresapi makhluk-makhluk yang mana Allah bersumpah atas nama makhluk tersebut.>>

“ demi siang apabila ‘menampakkannya’ “
Maksud dari ‘nya’ di sini dapat diketahui dengan mengurutkan dari ayat pertama. Penafsiran pertama, ‘nya’ ini berarti matahari. Ulama lain berpendapat, ‘nya’ ini bermakna kegelapan. Maksudnya membuat gelap menjadi terang.

“ demi malam apabila telah menutupinya “
‘Nya’ dalam ayat ke empat berati pula matahari. Kala malam datang di area kita, matahari tetap ada, namun bersembunyi di belahan bumi lain.

Hikmahnya, Allah tak menjadikan bumi ini siang atau malam terus, sehingga terdapat manfaat yang besar bagi hamba-Nya. Jika siang terus menerus, kita tak mudah untuk beristirahat, sedangkan jika malam terus, kita akan sulit beraktivitas. Ini semua membuktikan bahwa segala sesuatu ada yg mencipta dan mengatur, yaitu Allah Ta’ala.

Orang atheis menganggap orang islam bodoh. Mereka bilang “masa orang islam bersaksi adanya tuhan padahal ia tak melihatnya.” Orang yg meyakini sesuatu dapat dibilang saksi, meski ia tak melihat sesuatu itu. Belum tentu sesuatu itu tidak ada mesti sesuatu itu tidak kita lihat. Sekarang kita tantang mereka, “buktikan bahwa kalian punya akal!” Akal adalah sesuatu yang abstrak namun ada pada diri manusia waras. Efeknya akal contohnya: dapat berkomunikasi, mengingat dsb. Kita meyakini Allah swt dari merasakan efek keberadaanNya, salah satunya adalah adanya siang dan malam. Imam Abu Hanifah pernah diajak debat oleh ahli kalam (filsuf) yang tak percaya dengan adanya Allah. Imam Abu Hanifah berkata:
“Fulan, percayakah kalau disungai Dijlah ada sebuah perahu. Di atas perahu itu tiada nelayannya namun ia bisa berjalan menyusuri sungau, mengangkat dan menurunkan sendiri barang2 yang ada padanya. Sang Ahli Kalam tak percaya, itu tak logis. Lantas mengapa kau tak percaya akan adanya Allah, yang mencipatakan dan mengendalikan segala yang ada di alam semesta ini?

Dalam Al-Qur’an, kata Al-Lail disebutkan 92x, An-Nahar 57x. Kedua kata tersebut sering disebut bersamakan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kedua benda tersebut saling berhubungan. Ayat 3 dan 4 surat Asy-Syams menjelaskan pergantian siang dan malam. Bayangkan ketika kita dalam ruang yang terang tiba2 lampu mati, maka mata kita akan merasa tak nyaman, begitu juga sebaliknya. Namun Allah mengatur pergantian siang-malam secara berangsur dan lembut, dengan adanya waktu pagi (malam ke siang) dan sore (siang ke malam). Allah mengungkapkan proses ini dengan kata ‘nashlahu’ (menguliti hewan). Proses menguliti berjalan secara pelan-pelan, seperti terbit atau terbenamnya matahari. Seluruh kulit yang telah lepas dari tubuh hewan ibarat siang atau malam yang sudah total.
_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer