UST. ABU HAIDAR - MENDALAMI AMALAN HATI (Bab Jihaad)

At-Tuhfah Al-'Iraaqiyyah Fil A'mali Al-Qalbiyyah

Pemateri : Ustadz Abu Haidar As-Sundawy (Hafizahullah)
Hari/Tanggal : Kamis, 4 Jumadil Awwal 1438 H/2 Februari 2017 M.
Tempat : Masjid Agung Al-Ukhuwwah
Resume Oleh :
- Raga Bintang (Ilmu Hukum 2016)
- Abu Utsman (Kimia 2016)



***
Ada beberapa Atsar yang menyebutkan bahwa iman itu berada di dalam hati, sebagaimana Allah ﷻ berfirman :

قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا     ؕ  قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ   ۚ  وَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْئًــا    ؕ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Orang-orang Arab Badui berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah "Kami telah tunduk (Islam)," karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.""
(QS. Al-Hujurat: Ayat 14)

Allah ﷻ berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ  ؕ  فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ ۚ  وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ۘ  وَ الرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖ ۙ  كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ  وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَلْبَابِ
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 7)

Itulah salah satu ayat yang menunjukkan iman ada di dalam hati. Jika hatinya baik seorang wanita tidak mungkin membukakan auratnya, karena membuka aurat merupakan perbuatan buruk.

Hadist yang menjelaskan bahwa iman ada di dalam hati

#Hadist 1
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Berkata Syaikhul Islam Rahimahullah dalam menjelaskan hadist ini,
"Apabila keadaan hati ini sholeh, itu karena ada iman di dalamnya. Sehingga keadaan hati menjadi baik. Baik ilmu ataupun amalan-amalan hati".

Jadi baik buruknya amalan yang dilakukan anggota badan merupakan cermin dari keadaan hatinya.

#Hadist 2
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu'anhu berkata

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

#Hadist 3
Uqbah bin Amir mengatakan akan ada tiap generasi ummat yang taat untuk mengikuti Sunnah Nabi ﷺ, sekalipun fitnah begitu merajalela menimpa ummat. Kelompok muslim yang mencela mereka takkan memadharatkan mereka hingga suatu saat, akan datang semilir angin yang sewangi kasturi dan selembut sutra. tidaklah angin ini mematikan bagi orang orang yang beriman walaupun imannya sebesar biji sawi. Hanya tertinggal orang orang tanpa iman di muka bumi ini. Sehingga orang terbaik di zaman itu adalah orang yang berzina di tempat tersembunyi. Saat keadaan ini lah, kiamat terjadi.

#Hadist 4
Rasulullah  ﷺ bersabda :
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدْ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوْ الْحَيَاةِ شَكَّ مَالِكٌ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً
قَالَ وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرٌو الْحَيَاةِ وَقَالَ خَرْدَلٍ مِنْ خَيْرٍ

“Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Malik dari 'Amru bin Yahya Al Mazani dari bapaknya dari Abu Sa'id Al Khudri dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ahlu surga telah masuk ke surga dan Ahlu neraka telah masuk neraka. Lalu Allah Ta'ala berfirman: "Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi". Maka mereka keluar dari neraka dalam kondisi yang telah menghitam gosong kemudian dimasukkan kedalam sungai hidup atau kehidupan”. Setelah dicelupkan ke dalam kolam kehidupan, dirinya utuh kembali. Lalu mereka menempati surga. Mereka digelari Jahannamiyyun oleh para penghuni surga. (HR Bukhari, sanad: Shahih)

Penghapusan dosa itu banyak. Selain taubat, pertemuan para sahabat dengan Nabi ﷺ merupakan penghapusan dosa. Hal tersebut merupakan kelebihan yang didapatkan oleh pada sahabat. Karena itulah, kualitas amal para sahabat takkan bisa dikalahkan oleh orang-orang setelahnya. Bahkan, jika ada yang menginfakkan harta berupa emas sebesar gunung Uhud, hal tersebut takkan mengalahkan infak segenggam gandum sahabat, bahkan walaupun setengah genggam. Mengapa? Kualitas iman para sahabat takkan terkalahkan oleh ummat Nabi ﷺ selanjutnya.

Lalu, ditimpakannya musibah kepada seorang hamba merupakan suatu cara Allah menghapus dosa hambanya. Sehingga jika dia wafat, dia dapat bertemu dengan Allah dengan dosanya yang sudah terhapus, sehingga berat amal baiknya akan lebih berat daripada amal buruknya.

Selain itu, melakukan kebaikan untuk menutup kesalahan yang kita lakukan akan menghapus dosa-dosa yang kita lakukan sebelumnya.

Allah ﷻ berfirman:

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ  ؕ  وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ  ؕ  فَيَـغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ   ؕ  وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 284)

Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma berkata, kadang ada sesuatu yang masuk kedalam hati-hati manusia, kadang-kadang tidak ada sesuatu pun yang masuk kedalam hati-hati manusia. Lalu Rasulullah ﷺ menjawab : katakanlah kami mendengar, kami taat dan kami tunduk dan patuh. Lalu setelah Ibnu Abbas dan para sahabat mendengarkan itu, maka turunlah iman kepada hati mereka. (HR. Muslim)

Faidah dari perkataan ini, Allah akan bertindak kepada manusia, sesuai isi hati hambaku.

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu berkata, keyakinan itu adalah iman secara keseluruhan.

Abdullah Ibn Abbas berkata, Abu Sufyan menceritakan kepadaku ketika dirinya sudah bertemu Heraklius. Abu Sufyan (saat itu masih kafir) mendatangi Heraklius untuk memperingatkan Heraklius akan bahaya dari agama baru yang dibawa Rasulullah Muhammad ﷺ. Heraklius bertanya, apakah penganutnya makin banyak? Atau berkurang? Abu Sufyan menjawab bertambah. Heraklius bertanya kembali, apakah ada yang murtad setelah dia masuk? Abu Sufyan menjawab tak ada. Heraklius menyatakan bahwa itu adalah iman. Semakin dalam, akan semakin yakin bahwa ajaran tersebut benar.

Berkata Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata, seandainya keyakinan sudah tertancap kuat di dalam hati, sebagaimana mestinya. Niscaya hati itu akan terbang kedalam surga karena rindu kepada surganya dan takut akan nerakanya.

Para ulama ketika mengungkapkan kondisi hati yang bersih, terkadang mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan mereka alami. Dan terkadang tidak terjangkau oleh kita.

Berkata Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah, iman itu bukanlah berkhayal dan berangan-angan. Iman itu adalah apa yang tertancap di dalam hati dan dibuktikan dengan amal.

Inilah beberapa atsar yang menunjukkan bahwa iman itu di dalam hati.

#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer