UST. ABU HAIDAR - SYARAH BULUGHUL MAHRAM (Bab Janaiz)


Pemateri : Ustadz Abu Haidar As-Sundawy (Hafizhahullah)
Tempat : Masjid Raya Cipaganti Bandung
Hari/Tanggal :  Sabtu, 12 Jumadits Tsani 1438 H / 11 Maret 2017 M



***


JANAIZ = Bentuk Jamak dari Janazah, makna Janazah adalah al-Mayyit. Secara bahasa Janazah, berasal dari Janazaussayyi'aa adalah "aku telah menutupi sesuatu".

Muallif, membahas hadist-hadist mengenai Janazah atau Mayyit. Seputar mengurus Jenazah dan hal-hal yang lain.

Tetapi bahasan pertama ini adalah,
DZIKRUL MAUT atau mengingat kematian.

Kitabul Janazah tidak ada Bab - bab khusus. Tetapi setiap syarah diberi judul sesuai hadist yang dibahas.

Mengapa setelah kitab sholat, dibahas mengenai Janazah?
Karena setelah sholat ada kewajiban lain yaitu mensholatkan mayyit.



***
Sholat Janazah merupakan hal yang terpenting di dalam mengurus janazah. Karena di dalamnya terdapat manfaat juga kepentingan bagi yang melakukan maupun yang di sholatkan. Dari mulai mendo'akan, hingga mendapatkan pahala.




[HADIST PERTAMA]
Dari Syaikh Shalih al-Fauzan,

PERINTAH UNTUK BANYAK MENGINGAT KEMATIAN.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR.Tirmidzi, An-Nasa'i dishahikan oleh Ibnu Hibban)

Suatu saat nabi ﷺ melewati bangsa Ansor. Lalu berkata "perbanyak oleh kalian mengingat-ingat penghancur segala kelezatan yaitu kematian".

Karena salah satu rukun iman adalah beriman kepada hari akhir. Beriman kepada hari akhir mencangkup banyak hal, salah satunya iman kepada kematian. Dan iman kepada kematian mencakup 5 Poin, siapa orang yang keyakinannya belum mencapai 5 poin ini. Berarti keimanannya​ lemah serta keliru.

Selanjutnya 5 poin tersebut adalah :



(1) Meyakini bahwa semua makhluk yang hidup di langit dan di bumi, baik manusia, jin dan para malaikat mengalami kematian.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَدْعُ  مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ  كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا  وَجْهَهٗ  ؕ  لَـهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."
(QS. Al-Qasas: Ayat 88)

Ditiuplah sangsakala, ketika sangsakala ditiup maka matilah makhluk yang ada di langit dan di bumi. Satu-satunya yang tidak mati adalah Allah ﷻ

Bagaimana proses kematian para malaikat?
Imam Al-Qurtubhi menjelaskan bahwa seluruh malaikat, jika bertemu malaikat maut sangat-sangat ketakutan.



(2) Setiap makhluk memiliki masa ajal yang sudah ditetapkan. Baik manusia, jin maupun para binatang. Tidak bisa terlewat dari waktunya, juga tidak bisa lebih cepat dari waktunya.

Berdasarkan ilmu Allah yang agung, itu semua sudah Allah ketahui. Bukan hanya mengetahui Allah juga yang menetapkan itu semua.

Sabda Nabi ﷺ,
Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah ﷻ adalah (kolam) pena. Lalu Allah memerintahkan kepada pena ini untuk mencatat. Kolam ini bisa bicara. Lalu menjawab "Apa yang harus saya tulis", tulis semua secara rinci apa yang terjadi di Alam jagat raya hingga hari kiamat. Maka semuanya telah tertulis di Lauh Mahfudz.

- Tidaklah semua telah terjadi, kecuali sudah dituliskan -

Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, dan telah menetapkan takdir setiap makhluk 50000 tahun sebelum semua ini diciptakan.

Ada yang disebut catatan Azali, yaitu catatan yang bersifat umum, untuk seluruhnya.

Ada juga yang disebut Catatan Umri, adalah catatan masing-masing seseorang.





***
Dari Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan perkataannya), beliau bersabda,”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula.

Lalu Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mencatatkan 4 hal :
1. Dicatatkan Rizkinya
2. Dicatatkan Kematiannya​
3. Dicatatkan Amalnua
4. Dan yang terakhir adalah dicatatkan Suka Dukanya

(3) Diantara iman kepada kematian adalah percaya bahwa kematian telah ditetapkan oleh Allah. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan waktunya. Baik dirinya sendiri atau orang lain. Bahkan para Nabi pun tidak tahu.

Allah ﷻ berfirman :

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِ   ۚ  وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ   ۚ  وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِ    ؕ  وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا    ؕ  وَّمَا تَدْرِيْ نَـفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ    ؕ  اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
"Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal." (QS. Luqman: Ayat 34)




***
Karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada esok hari atau apa yang akan terjadi. Maka kita boleh saja berencana, tetapi jangan lupa untuk mengucapkan In syaa Allaah.  Sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَايْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰ لِكَ غَدًا، اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ  اللّٰهُ  ۖ   وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ  رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا
"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, Aku pasti melakukan itu besok pagi, kecuali (dengan mengatakan), Insyaa Allaah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini." (QS. Al-Kahf: Ayat 23 - 24)




(4) Diantara iman kepada kematian selanjutnya adalah, seseorang selalu mengingat kematian dan kematian selalu ada dalam pikirannya.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’[dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)] (HR. Bukhari No.6416)

Sesungguhnya negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, dan tidak ada kematian.

Alam kubur adalah salah satu fase menuju akhirat. Barangsiapa yang selamat dari adzab kubur maka kehidupan setelahnya akan mudah. Mulai dari timbangan amalnya, malah bisa jadi bisa tanpa hisab dan bisa melewati as-sirath secepat kilat.




(5) Salah satu bukti nyata beriman kepada kematian adalah dengan menyiapkan diri sebelum kematian itu teralami. Bersegera melakukan amal-amal sholeh, sebelum kesempatan beramal sholeh itu terhenti saat kematian menghampiri kita.

_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer