UST. ABU HAIDAR - SYARAH KITAB TAUHID (Bab Mereka yang Ingkar kepada Takdir)


Pemateri : Ustadz Abu Haidar As-Sundawy (hafizhahullāh)
Hari/Tanggal : Jumat, 5 Jumadil Ula 1438 H. / 3 Februari 2017 M.
Tempat : Masjid Darul Ihsan, Telkom Corporate University. Jl. Gegerkalong Hilir no. 47, Bandung




***
Ibnu Umar menyatakan bahwa orang yang berkata bahwa takdir itu tidak ada, infaqnya walaupun berupa emas sebesar Gunung Uhud maka infaqnya takkan diterima. Ini merupakan pemberitahuan Ibnu Umar secara tak langsung bahwa orang yang menolak bahwa takdir itu ada adalah tak beriman.


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi,

Kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”
Lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”
Ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”

Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]


Dari hadits diatas, disimpulkan bahwa rukun iman ada 6. Dalam takdir, dilakukan pengulangan kata iman. Ini merupakan penekanan bahwa iman ke-6 (takdir) sangatlah penting. Iman kepada seluruh rukun iman ini merupakan suatu satu kesatuan. Jika tak beriman kepada salah satu rukun, maka Imannya rusak, sama seperti tak beriman ke seluruh rukun.


Qur'an dan hadits banyak memuat tentang iman kepada takdir. Tak mengimani takdir otomatis tak mengimani Qur'an dan Rasul. Keimanan tak dapat ditalar dengan pemikiran. Hal tersebut merupakan perilaku mendahulukan dirinya di atas Allah dan Rasulnya.


اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ ۙ  وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰ لِكَ سَبِيْلًا

اُولٰٓئِكَ هُمُ الْـكٰفِرُوْنَ حَقًّا  ۚ  وَ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا

"Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)," serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir),"

"merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan."

(QS. An-Nisa': Ayat 150-151)

Mereka yang beriman pada sebagian dan kufur pada sebagian yang lain merupakan kekafiran yang sebenar-benarnya.



Iman dan rukunnya seperti bangunan dengan pilar-pilarnya. Suatu bangunan takkan bisa berdiri jika pilarnya hilang. Sehingga jika tak mengakui salah satu rukun iman, maka keimanannya runtuh.

Rukun-rukun Iman terdiri atas:

1. Iman kepada Allah
Iman ini baru dikatakan benar dan sempurna bila mencakup 4 poin mengenai Allah. Jika mengingkari salah satu poin ini, maka keimanannya rusak/salah/bohong. Poin tersebut adalah:

-Mengimani adanya keberadaan Allah
Namun memikirkan wujud Allah merupakan suatu hal yang munkar karena wujud Allah takkan dapat dipikirkan oleh akal manusia di dunia.


-Beriman kepada Rububiyyah Allah
Meyakini Allah merupakan satu-satunya Rabb, yang menciptakan, mengatur, mengelola, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, dsb.

Memiliki keyakinan bahwa ada dzat lain yang ikut campur dalam pembuatan alam semesta ini merusak keimanan kepada Allah.


-Beriman kepada Uluhiyyah Allah
Meyakini Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang berhak untuk diibadahi.

Keyakinan inilah yang membedakan muslim dengan musyrik. Para musyrikin memiliki iman kepada Allah namun hanya dengan 2 poin di atas, tanpa aspek Uluhiyyah. Selain kepada Allah, mereka pun menyembah berhala-berhala yang banyak.

Keislaman seseorang sangat ditentukan dalam poin ini. Karena aspek ini menyangkut pada syahadat. Hal inilah yang memberatkan kaum musyrik. Karena walaupun mereka sudah menyembah Allah, mereka tak bisa beranjak dari penyembahan mereka kepada selain Allah.


-Iman kepada Asma wa Sifat Allah
Ingkar pada aspek ini dapat menyebabkan imannya tak sempurna hingga kesyirikan.


#ResumeKajian #MenuntutIlmu
_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer