UST. ABU KHALEED RESA GUNARSA - KANDUNGAN SAYYIDUL ISTIGHFAR #3


Hari/Tanggal : Selasa, 17 Jumadal Ula 1438 H. / 14 Februari 2017
Bertempat di Masjid Besar Cipaganti, Jalan Rd. A. A. Wiranatakusumah no. 85 (Cipaganti) – Bandung
pemateri : al Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc. (hafizhahullāh)
Resume oleh : 
- Ratna Utami Dewi - ITB 2014
- Yudhistira Adhi - UNPAD 2016


***
Istighfar : Lafadz permohonan ampun kepada Allah yg paling utama dan paling sempurna

 وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ،
 "Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu semampuku"

Merupakan pernyataan kita kepada Allah bahwa kita akan menunaikan apa yg telah kita janjikan kepada Allah ﷻ  yaitu untuk beriman dan hanya beribadah kepada Allah, taat mengerjakan perintah menjauhi laranganNya, serta tunduk hanya kepadaNya.

Dalam sholat di setiap rakaat kita juga menyatakan janji "iyyakana budu" pernyataan bahwa kita akan senantiasa memurnikan ibadah dan ketundukan kita kepada Allah ﷻ.
 "wa iyyakanasytain"
 Bahwa kita akan senantiasa memohon pertolongan dan bantuan hanya kepada Allah.

Dengannya kita mengingatkan diri kita pada janji kita.

- مَا اسْتَطَعْتُ -
Janji yg kita ungkapkan itu sesuai dengan kemampuan kita.  Ini termasuk Rahmat Allah kepada umatnya karena Allah tidaklah membebani hambanya kecuali sesuai kemampuannya.
"La yukalifullah hu nafsan illa wus aha"

Selain itu dalam kata مَا اسْتَطَعْتُ juga terkandung pengakuan atas ketidakberdayaan dan kelemahan diri kita.
Terkadang kita terjatuh pada apa yg sebaliknya dari yg kita nyatakan
Kurang lebih maksud perkataannya adalah : "Aku tidak bisa menyempurnakan keimanan tersebut dan tidak bisa mendatangkan keimanan yg paling tinggi dan sempurna, maka ya Allah janganlah engkau menyiksaku atas ketidakberdayaanku atas kelemahanku dan kekurangan-kekurangan yg aku lakukan"

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim].

Perhatikan penyebutan perintah diikat dengan "sesuai kemampuan" namun meninggalkan larangan tidaklah diikat dengan kemampuan.

Karena memang sebagian perintah tidak mampu dilakukan manusia. Contoh : zakat, haji, jihad
Begitupun kadang ada perintah yang manusia mampu kerjakan tapi tidak mampu sempurna. Contoh : sholat dlm keadaan duduk
Sedangkan larangan sifatnya meninggalkan, dan meninggalkan bisa dilakukan siapa saja.

Syariat Allah itu mudah, agama itu mudah. Kemudahan syariat ini ditinjau dari 2 sisi :
1. Semua yang Allah perintahkan mudah, dalam batas manusia, tidak ada syariat yg tidak bisa dilakukan sama sekali, tisak ada syariat yg sulit. Karena justru kesulitan itu dihilangkan dengan syariat. kaidahnya adalah : kesulitan mendatangkn kemudahan.

2. Bahwa agama ini mudah. Ketika seseorang mendapat kesulitan untuk melaksanakan perinta sebagaimana mestinya maka ada keringanan-keringanan.

Orang yang mengatakan aku tidak mampu meninggalkan suatu kemaksiatan sesungguhnya ada pada dirinya hati yang rusak serta hawa nafsu. Namun sesuatu yang dilarang boleh dilakukan dalam keadaan darurat namun pada kaidah dan batasan tertentu.

Maka perkataan مَا اسْتَطَعْت merupakan penyataan yang memberi tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melaksanakan seluruh perkara wajib, menunaikan seluruh ketaatan secara sempurna dan mampu bersyukur atas seluruh nikmat yg Allah berikan kepada kita. Maka hendaklah seorang hamba bersungguh-sungguh dan jujur kepada Allah subhanahu wa taalla.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.”

Q.S. Al An'am : 119

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Siapa yang dalam kondisi terpaksa memakannya sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

Q.S. Al Baqarah : 173

Seorang hamba bersungguh sungguh taat kepada Allah dan Allah mengetahui khianat2 mata dan apa yg di sembunyikan dada2 mereka.

***

-أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ -


Sebagai bentuk kepasrahan kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari mahluk lain, dan juga keburukan dari kita sendiri. Didalam mengerjakan perintah Allah kita bertawakal kepada Allah, dan juga dalam meninggalkan larangan Allah kita juga harus bertawakal.

"Lahawla wala quwata illa billah"
Menurut para ulama maksudnya : "sesungguhnya tidak ada daya dalam meninggalkan kemaksiatan dan tidak ada kemampuan dalam menjalankan kebaikan melainkan kekuatan itu datang dari Allah swt.

Akibat dari perbuatan buruk itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Orang yang berbuat dosa,maksiat sebenarnya mereka mendzolimi diri mereka sendiri.

Allah subhanahu wa taalla berfirman,

وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿١١٠﴾

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(Q.S. An-Nisa : 110)

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوٓا۟ إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ﴿٥٤﴾

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang"."

(Q.S. Al Baqarah : 54)

Oleh karena itu kita memohon kepada Allah dari perbuatan buruk yang kita lakukan.

***

أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ

Makna " أَبُوْءُ "yaitu mengakui. Maksudnya aku mengakui dan menetapkan kepadamu atas nikmat nikmat yang telah Allah berikan. Begitu juga selain mengakui nikmat Allah subhanahu wa taalla, kita mengakui dosa yang kita lakukan. Maka, pada kalimat ini dikumpulkan antara nikmat Allah kepada kita dan kekurangan diri kita.

2 perkara ini yang hendaknya senantiasa menjadi bahan pemikiran setiap hamba :
1. Memikirkan nikmat Allah dan menisbatkan nikmat Allah. Menyandarkan nikmat Allah bahwa segala nikmat datangnya dari Allah.

Jika kita memikirkan nikmat maka akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa syukur kepada pemberi nikmat yaitu Allah subhanhu wa talla

2. Aib aib diri, kesalahan diri, dosa dosa dan maksiat yang telah dilakukan.

Menumbuhkan rasa kerendahan di hadapan Allah subhanahu wa taalla. Menumbuhkan rasa tunduk kepada Allah subhanahu wa taalla, menumbuhkan rasa butuh kepada Allah subhanahu wa taalla. Dan juga taubat dalam setiap waktu kepada Allah subhanahu wa taalla.

Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda,

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللََّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka. [HR. Muslim, no. 2749]

Maka, dengan semakin sering dan terus menerus memikirkan nikmat Allah azza wa jalla . Kita akan memandang Allah azza wa jalla sebagai zat yang memberi dan baik kepada kita. Dan kita akan memandang diri kita sebagai hamba yang penuh dosa dan kekurangan.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(QS. Fathir: 2).

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ ﴿٢٦﴾

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat."

(Q.S. Al A'raf : 26)

Maka perkataan  بِنِعْمَتِكَ , padanya terdapat pengakuan atas nikmat Allah subhanahu wa taalla. Termasuk nikmat iman. Yaitu nikmat yang paling besar dari Allah subhanahu wa taalla yang diberikan kepada kita.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ ﴿٥٣﴾

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan."

(Q.S. An Nahl : 53)

{وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ}
“Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah (seperti perhiasan) dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”

 (QS al-Hujuraat:7).

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ ﴿٥٦﴾

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

(Q.S. Al Qashash :56)

Allah memberikan berbagai macam nikmat :
1. Nikmat afiyah (kesehatan), semuanya datang dari Allah subhanahu wa taalla. Allah bisa saja mencabut nikmat tersebut.

2. Nikmatil walad (keturununan), nikmatin zarad (tumbuh2an), nikmatil bayid (rumah) dan juga nikmat2 yang lain. Maka tidak ada satu nikmat yang datang kecuali dari Allah subhanahu wa taalla. Setelah mendapatkan berbagai macam nikmat yang diberikan oleh Allah subhanahu wa taalla, janganlah lupa untuk bersyukur. Syukur ada 3 macam.
Syukur :
1. Dengan hati
Mengakui nikmat nikmat itu datangnya dari Allah subhanahu wa taalla.

2. Dengan lisan
Mengucapkan alhamdulillah atau memuji Allah subhanahu wa taalla.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴿١١﴾

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan."

(Q.S. Ad Dhuha :11)

Dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah sesudahnya atau meneguk minuman lalu memuji Allah sesudahnya.” (HR Muslim no. 2734)

3. Dengan menggunakan nikmat nikmat itu dijalan yang di ridhai Allah subhanahu wa taalla (perbuatan).
... ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ ﴿١٣﴾

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih."

(Q.S.Saba':13)

Pokok dan pangkal kesyukuran yaitu mengakui bahwa rizki datangnya dari Allah subhanahu wa taalla.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"."

(Q.S. Ibrahim:7)

Dan perkataan وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ
Para ulama menyebutkan bahwa perkataan ini memiliki 2 kemungkinan makna :


1. Aku mengakui dosaku karena aku tidak bisa  bersyukur atas nikmat nikmat mu secara sempurna.


2. Pengakuan kepada Allah subhanahu wa taalla atas seluruh dosa secara mutlak.
Orang yang mengakui bahwa dirinya penuh kekurangan dan penuh dosa maka dia akan dekat dengan taubat. Jika orang tersebut tidak mengakui bahwa dirinya penuh kekurangan dan banyak melakukan dosa maka dia akan jauh dengan taubat.

Kemudian dalam perkataan وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ maka didalamnya terdapat isyarat menurut para ulama, bahwa seorang hamba didalam kehidupan di dunia ini pada pagi dan sore nya ada di 2 keadaan yaitu berada dalam kenikmatan yang menuntut untuk bersyukur dan berada didalam keaadan berdosa yang dia lakuan. Dan dosa itu membutuhkan istighfar.

Ada tiga tabiat yang mampu mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Ketiga tabiat tersebut adalah:

1. Apabila diberi dia bersyukur,
2. Apabila diuji dia bersabar,
3. Apabila berdosa dia beristighfar atau bertaubat.

التَّوْبَةُ :َاْلإِعْتِرَافُ وَالنَّدَمُ وَاْلإِقْلاَعُ وَالْعَزْمُ عَلَى أَلاَّ يُعَاوِدَ اْلإِنْسَانُ مَا اقْتَرَفَهُ.

(seseorang dikatakan bertaubat, kalau ia mengakui dosa-dosanya, menyesal, berhenti dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan itu). Lihat Fat-hul Bari (XI/103), Al Mu’jamul Wasith, Bab Taa-ba (I/90).

Allah ta’ala berfirman

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ

“Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25)

- فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ -

Dalam hal ini ada pengakuan, bahwa Allah subhanahu wa taalla yang memgampuni dosa. Allah satu satu yang memberi taubat dan memberi ampun dari hamba-hamba nya. Oleh karena itu seorang hamba dia bertaubat, beristighfar dan memohon maaf hanya kepada Allah.

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

(Q.S.Al Imran :135)

___________
KESIMPULAN SAYIDDUL ISTIGHFAR :
1. Pengakuan terhadap rububiyyah dan uluhiyah Allah subhanahu wa taalla.
2. Pengakuan bahwa Allah satu satu nya pencipta.
3. Pengakuan terhadap janji kita kepada Allah yaitu untuk beriman.
4. Harapan terhadap apa yang Allah janjikan kepada hambanya
5. Permohonan perlindungan dari setiap keburukan yang
6. Penyandaran nikmat kepada Allah subhanahu wa taalla saja.
7. Penyandaran dosa dan kesalahan pada diri kita.
8. Terkandung keinginan hamba akan ampunan dan pengakuannya bahwa tidak ada yang dapat mengampuni kecuali Allah subhanahu wa taalla.

Komentar

Postingan Populer