UST. ABU TAKERU - SYARAH RIYADHUS SHALIHIN #5
Hari/Tanggal : Ahad, 23 Rabiuts tsani 1438 H/ 22 Januari 2017 M
Pemateri: Ustadz Abu Takeru
Tempat: Masjid Al-Furqan UPI Lt.4, Bandung.
Resume oleh : Auliviér (Kimia 2016)
***
# Hadist Ke - 5
وعن أبي يزيد معن بن يزيد بن الأخنس رضي الله عنهم، وهو وأبوه وجده صحابيون، قال: كان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدق بها فوضعها عند رجل في المسجد فجئت فأخذتها فأتيته بها، فقال: والله ما إياك أردت، فخاصمته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: " لك ما نويت يا يزيد، ولك ما أخذت يامعن" ((رواه البخاري)).Artinya :
Dari Abu Yazid iaitu Ma'an bin Yazid bin Akhnas radhiallahu 'anhum. Ia, ayahnya dan neneknya adalah termasuk golongan sahabat semua. Kata saya: "Ayahku, iaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar yang dengannya ia bersedekah, lalu dinar-dinar itu ia letakkan di sisi seseorang di dalam masjid. Saya - yakni Ma'an anak Yazid - datang untuk mengambilnya, kemudian saya menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi. Ayah berkata: "Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki - untuk diberi sedekah itu."
Selanjutnya hal itu saya adukan kepada Rasulullah ﷺ , lalu beliau bersabda:
"Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid – yakni bahawa engkau telah memperolehi pahala sesuai dengan niat sedekahmu itu - sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil, hai Ma'an - yakni bahawa engkau boleh terus memiliki dinar-dinar tersebut, kerana juga sudah diizinkan oleh orang yang ada di masjid, yang dimaksudkan oleh Yazid tadi." (Riwayat Bukhari)
Para sahabat merupakan orang-orang yang luar biasa. Mereka senang mensedekahkan hartanya, biasanya mereka menitipkan hartanya di masjid untuk dibagikan. Jika ada orang yang membutuhkannya, tinggal ambil.
Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ
“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).
Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ
Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta." [HR. Tirmidzi, no. 2336; Ahmad 4/160; Ibnu Hibbân no. 3223; al-Hâkim 4/318; al-Qudhai dalam Asy-Syihâb no. 1022; dishahihkan oleh syaikh Salîm al-Hilâli dalam Silsilah al-Manahi asy-Syar’iyyah, 4/194]
Ma'an merupakan orang yang miskin, sehingga dia berhak menerima sedekah. Ma'an kemudian memberitahu ayahnya (Yazid) bahwa ia mengambil sedekah yang ayahnya berikan. Ma'an melaporkan ini pada Rasulullah ﷺ . Dari kejadian tersebut, Rasulullah ﷺ berkata bahwa Yazid mendapatkan pahala sedekah, dan Ma'an mendapat barang yang dia ambil.
Dari Hadist di atas kita dapat ambil kesimpulan bahwa, seorang ayah dapat bersedekah kepada anaknya sendiri.
Apabila seseorang berzakat kepada seseorang, dan ternyata orang tersebut bukan mustahik, zakat tersebut tetaplah sah, tak perlu mengulang lagi.
Jikalau seseorang mewakafkan rumah (dia memiliki 2 rumah, 1 besar 1 kecil), lalu ia meniatkan rumah yang kecil namun malah menunjuk yang besar, maka yang diwakafkan adalah yang kecil. Sehingga suatu kegiatan itu berdasar dari hatinya.
Jika seseorang suami menyatakan lepas (bahasa Arab: talak) kepada istrinya (namun meniatkannya bukan cerai), tak jatuh cerai pada istrinya karena dirinya tak meniatkan suatu perceraian kepada istrinya.
Seseorang boleh bersedekah kepada tanggungannya (orang yang wajib dinafkahi). Namun bukan zakat (cek bagian bawah posts untuk penjelasannya).
Abdullah Ibn Mas'ud memiliki istri. Keduanya berada dalam keadaan miskin. Istrinya bekerja dan memiliki penghasilan. Lalu istrinya berniat bersedekah. Abdullah berkata kepada istrinya bahwa bersedekah kepada kerabat lebih utama. Istrinya tak percaya kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membenarkan perkataan Abdullah Ibn Mas'ud. Pahala bersedekah kepada kerabat lebih besar daripada orang yang tak dikenal.
[KEUTAMAAN BERSEDEKAH KEPADA KERABAT]
Sebagaimana Sabda Rasulullah ﷺ, bersedekah kepada kerabat itu memiliki keutamaan yang lebih yaitu :
اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَ هِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ : صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ
“Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3858)
[MEMBERI ZAKAT KEPADA TANGGUNGAN HUKUMNYA HARAM]
Namun jika zakat tersebut terpisah dengan nafkah yang harus diberikan, dan memiliki sebab-sebab lain Syaikh Utsaimin membolehkan zakat tersebut.
#ResumeKajian #RiyadhushShalihin
_______________
©Hunter Unpad 2017
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g



Komentar
Posting Komentar