UST. ABU UMAR INDRA - AKHLAK KEPADA ALLAH

AKHLAK KEPADA ALLAH


Hari/Tanggal : 13 Jumadil Ūla 1438 H. / 10 Februari 2017
Tempat : Masjid Darul Ihsan, TELKOM Corporate University, Jl. Gegerkalong Hilir no. 47 – Bandung
Pemateri : Ustadz Abu Umar Indra (hafizhahullāh)
Resume oleh : Yudhistira Adhi (Teknik Geologi 2016)


***

[MUQODIMAH]

Para ulama menyamakan makna adab dan ahlak bila dua lafaz itu dipisah. Ketika menyebut akhlak maka sama saja dengan adab. Ketika disebutkan terpisah, kedua makna nya tercakup. Tetapi bila disatukan makna adab dan akhlak.

Ada perbedaan adab dan akhlak :
1. Adab yaitu hal hal yang bersifat teknis/praktis dan secara umum trrlihat. Contoh : adab makan, adab minum, adab terhadap orang tua.

2. Akhlak yaitu yang berkaitan dengan dunia hati.

Perbedaan Iman dan Islam.
Ketika bersatu, beda arti iman dan islam. Tetapi bila berpisah makna iman dan islam itu sama.

۞ قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤﴾

"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"."

Q.S. Al Hujurat : 14

Dari dua hal tersebut. Maka, Islam adalah amalan lahir. Iman adalah amalan batin. Level Iman lebih tinggi daripada islam. Orang yang islam belum tentu iman. Orang yang beriman sudah pasti islam.

-AKHLAK KEPADA ALLAH- 

1. Mensyukuri nikmat-nikmat Allah azza wa jalla.

Seorang muslim akan melihat apa yang Allah telah berikan kepadanya nikmat nikmat yang tidak terhitung sejak dalam perut ibunya sampai bertemu kepada Allah subhanahu wa taalla. Maka bila seorang muslim melihat apa yang telah Allah berikan kepada dirinya, maka ini akan membawanya berterimakasih kepada Allah subhanahu wa taalla. Menggunakan lisan untuk memuji dan menyanjung Allah azza wa jalla. Dengan kalimat "Alhamdulillah".
Tidak beradab sama sekali ketika orang lupa akan Allah yang memberikan nikmat.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ ﴿٥٣﴾

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan."
Q.S. An-Nahl : 53



Bersyukur itu benar bila kita memenuhi 3 perkara :
 a. Dengan hati
Menyandarkan nikmat itu datangnya dari Allah

 b. Dengan lisan
Memuji dan menyanjung Allah subhanahu wa taalla

 c. Dengan anggota badan
Menggunakan anggota badan untuk mentaati yang memberikan nikmat.





2. Merasa malu kepada Allah azza wa jalla ketika akan berbuat maksiat.

Seorang muslim bila dia mau melihat ilmu Allah azza wa jalla bila dia memperhatikan kalau Allah ketat penelitian nya terhadap segala keadaan dirinya. Maka hati nya akan penuh terhadap ke maha besaran Allah subhanahu wa taalla. Dia akan merasa malu untuk menentang Allah subhanahu wa taalla. Bukanlah adab terhadap Allah subhanahu wa taalla bila kemudian dia menampakan dihadapan Allah azza wa jalla dengan kemaksiatan. Atau membalas kebaikan Allah azza wa jalla dengan keburukan dan kehinaan sedangkan Allah azza wa jalla menyaksikan secara langsung.

مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا ﴿١٣﴾
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا ﴿١٤﴾

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?"(13)
"Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian."(14)

Q.S. Nuh : 13-14




وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرَ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ ﴿٦١﴾

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

Q.S. Yunus : 61




3. Jujur untuk kembali kepada Allah azza wa jalla dan bertawakal kepadanya.

Seorang muslim bila dia melihat Allah subhanahu wa taalla bahwa Allah subhanahu wa talla telah  menakdirkan kepada diri nya segala sesuatu. Bahwa nasibnya berada di tangan Allah subhanahu wa taalla dan tidak ada tempat berlari dan kembali kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa taalla. Tidak ada tempat perlindungan kecuali maka mestinya dia akan kembali kepada Allah dan bersimpuh dihadapannya dan menyerahkan urusan nya kepada Allah subhanahu wa taalla dan bergantung tawakal hanya kepada Allah subhanahu wa taalla dan ini merupakan adab seorang hamba kepada penciptanya. Karena bukan adab sama sekali ketika seseorang berlari dari sesuatu yang dia tidak mungkin dia bisa berlari dari Allah subhanahu wa taalla.

فَفِرُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ ﴿٥٠﴾

"Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu."

Q.S. Adz-zaariyaat : 50




4. Mengharapkan rahmat Allah azza wa jalla.

Seorang muslim bila dia mau melihat akan kelemah lembutan Allah subhanahu wa taalla terhadap seluruh urusan dirinya dan melihat luasnya rahmat Allah subhanahu wa taalla kepada seluruh mahluknya maka dia akan bersemangat untuk menambah dan meminta tambah kepada Allah subhanahu wa taalla agar Allah memberikan apa yang dia berikan agar dia jujur dan memurnikan permintaan nya kepada Allah subhanahu wa taalla. Dia pun akan menggunakan sarana-sarana  agar permintaannya itu diberikan karena  tingginya harapan kepada Allah azza wa jalla berupa adab meminta.

Q.S. Al-Araf : 156




5. Takut terhadap hukuman Allah subhanahu wa taalla.

Banyak orang hanya melihat ampunan Allah tapi dia lupa bahwa Allah maha keras azab nya. Hendaknya orang tersebut memperhatikan hukuman-hukuman Allah subhanahu wa taalla bila menimpa dirinya sehingga dia akan menjaga ketaatan kepada Allah subhanahu wa taalla.



6. Berhusnudzon kepada Allah azza wa jalla dalam 2 perkara ; (1) bahwa Allah pasti memenuhi janji nya untuk membalas perbuatan orang yg berbuat baik. (2) bahwa Allah akan melaksanakan hukumannya bagi hamba hamba nya yang dikehendaki.

Jangan ragu untuk berbuat baik, Allah azza wa jalla pasti akan membalas dengan kebaikan. Bila seseorang berbuat buruk, maka Allah azza wa jalla akan mengazab sesuai dengan kehendak Allah azza wa jalla.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ »
“Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari – Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani)

Yang dikhawatirkan dari poin 6 ketika amalan amalan seseorang itu tidak ikhlas karena Allah azza wa jalla. Tapi bila melaksanakan amalan ikhlas karena Allah azza wa jalla, maka tidak mungkin selama hidupnya melakukan maksiat bila dia jujur dan istiqomah dalam keikhlasan dalam beribadah.

Berbeda bila perbuatan tersebut hanya casing, tapi hati nya bukan karena Allah azza wa jalla.

 Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabdam 3 hari sebelum wafatnya,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali dia berhusnudzon kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Jaga keikhlasan kita, sungguh-sungguh amalan kita dan husnuzan kepada Allah subhanahu wa taalla, Allah pasti memberikan balasan yang tidak mungkin salah tempat.

_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer