UST. ABU UMAR INDRA - SYARAH AHLUSSUNAH WAL JAMA'AH


Pemateri : Ustadz Abu Imar Indra (Hafidzahullah)
Tempat : Masjid Uswatun Hasanah (Pasar Baru Square Rooftop, Bandung)
Hari/Tanggal : Kamis, 27 Rabiuts-Tsani 1438H 


***
Rukun Iman yang 6. Ini menunjukkan kepada kita adalah, aqidah Ahlussunah wal jama'ah ketika membicarakan aqidah terdapat pada rukun-rukunnya.

# Rukun Iman yang pertama
Terdapat 3 pokok inti beriman kepada Allah yaitu :

1. Aspek Rububiyah
2. Aspek Uluhiyah
3. Aspek Asma Wa sifat

Dan ketiga aspek tersebut saling berhubungan.
Allah ﷻ  berfirman:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ  ، الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَآءَ بِنَآءً ۖ  وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ ۚ  فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui."(QS. Al-Baqarah: Ayat 21- 22)

Lihat disini Allah ﷻ memperkenalkan bahwa Allah lah yang telah menciptakan kalian, menjadikan bumi sebagai hamparan kalian dan Allah lah yang memberikan rizki kepada kalian.

Setelah Allah menjelaskan perlakuan-perlakuannya tersebut ini merupakan aspek rububiyahnya.

Allah menuntut kita untuk menghambakan diri kepadanyA dan tunduk kepada Allah. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat: Ayat 56)

Andaikan seluruh manusia mereka beribadah kepada Allah, apakah itu bermanfaat bagi Allah. Jawabannya "Tidak. Dan apa jika semua manusia berbuat maksiat, apakah itu merugikan bagi Allah. Jawabannya "Tidak". Maka Allah tidak membutuhkan hambanya.

Allah paling tahu manusia, karena Allah lah yang menciptakan manusia dan Allah tahu apa yang membuat senang atau bahagianya seorang manusia.

Oleh karena itulah Allah menjadikan ibadah sebagai kebahagian dan ketenangan. Tapi syaithon membuat bisikan-bisikan kepada manusia jika kita beribadah bagaikan dunia itu sempit.

Beriman kepada Allah dari aspek Rububiyah itu berdasarkan aspek Uluhiyah.

Jika kita beribadah pastilah kita mengharapkan keridhoan dari Allah, pahala dan manfaat lainnya. Lalu siapa yang memberikan itu semua? Tentu hanyalah Allah ﷻ. Maka dari itu seseorang yang beribadah kepada Allah otomatis mengandung aspek rububiyah. 

Beriman kepada Aspek asma wa sifat ini merupakan pokok aqidah. Karena munculnya banyak-banyak pemikiran-pemikiran dan syubhat-syubhat yang tentunya berbeda dengan Rasulullah ﷺ.

Dulu, pada zaman Rasulullah ﷺ tidak ada disiplin ilmu mengenai asma wa sifat karena para sahabat memiliki ketauhidan yang kuat. Disiplin ilmu asma wa sifat keluar saat banyaknya penyimpangan mengenai asma wa sifat Allah karena banyaknya orang yang menerjemahkan asma wa sifat Allah dengan pemikirannya sendiri.

Juga terdapat dua komposisi utama dalam hal ini yaitu :

1. Menetapkan,
Menetapkan apa yang Allah dan Rasul-nya sudah ditetapkan.
2. Mensucikan,
mensucikan Allah dari nama-nama yang memiliki 'aib.

Perkataan Imam Malik Rahimahullah,
Ketika ada yang bertanya kepada imam malik mengenai sifat Allah mengenai firman allah dalam surat Thaha ayat 5 :

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas 'Arsy."

Lalu bertanya lagi : Bagaiman bersemayamnya? Bagaimana hakikatnya perbuatan tersebut berdasarkan ilmu?

Suatu keharaman menyerupakan Allah dengan makhluknya. Contohnya, berpikir bahwa jika Allah turun Dari Arsy, Arsy menjadi kosong. Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya, sehingga tak bisa dinalarkan dengan menyamakan-Nya dengan makhluk-Nya sendiri.

Maka pertanyaan ini, merupakan hal yang bukan bagian dari perkara keimanan dan bisa menjadi perkara baru.

Tidak semua berbicara itu ilmu, kadang kali diam juga bisa dijadikan sebagai ilmu.

Imam Syafi'i Rahimahullah berkata "Aku beriman kepada Allah, dan semua yang datang dari Allah serta aku beriman kepada Rasulullah dan semua yang datang dari Rasulullah ﷺ.

Yang mengerti tentang Allah itu adalah Allah sendiri dan Rasullullah ﷺ. Setelah itu tidak ada, maka setelah kedua itu tidak ada yang lebih berilmu mengenai Allah.

Semua yang datangnya dari Allah dan Rasul-nya cukuplah kita imani dan jangan di perlebar. Karena jika diperlebar bukanlah sebagian dari keimanan dan berbicara tanpa ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
Dan para imam ahlussunah bahwasanya tidak memisahkan kata salaf dan ahlussunah. Para ahlussunah itu adalah yang mengikuti manhaj salaf (Generasi terbaik hingga para sahabat). Mereka menghindari penyerupaan kepada Allah ﷻ. Sebagaimana firman Allah dalam surat Asy - Syura ayat 11 :

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ  ؕ  جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّ مِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًا   ۚ  يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ    ؕ  لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ  وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."

Maka jangan pernah gambarkan Allah dan samakan Allah dengan makhluk-nya. Jadi ketika Allah bersemayam di atas Arsy dan Allah turun ke muka bumi dan janganlah kita berpikir dengan pendekatan makhluknya.

Ketika kita berpikir Allah turun dan di atas kosong merupakan pendekatan berpikir makhluk.

Maka ulama mengatakan "terima dan imani".

Terdapat sifat Allah yang wajib kita tetapkan adalah subutiyyah.

1. Sifat Allah dengan Zatiyyah (Zat) tidak ada hubungannya dengan makhluknya. Seperti : Allah melihat, Allah mendengar dsb. subutiyyah wajib kita imani bahwa Allah senantiasa seperti itu.

2. Fi'liyah Perbuatan Allah yang berhubungan dengan makhluk-Nya. Seperti memberikan rizki, itu sifat Allah, perbuatan Allah yang berhubungan dengan makhluknya.

Setiap sifat-sifat Allah, mengikuti hikmah Allah ﷻ. Yang terkadang hikmah itu tidak bisa kita ikuti atau tidak kita pahami.

وَمَا تَشَآءُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ   ؕ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
"Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."
(QS. Al-Insan: Ayat 30)

Tidak pernah Allah menetapkan sesuatu tanpa adanya hikmah. Pasti sesuatu yang Allah tetapkan ada hikmahnya yang terkadang kita tidak ketahui.

Itulah Allah memiliki hikmah disetiap perbuatannya. Allah tidak ditanya apapun yang dilakukan, tetapi kita yang akan ditanyakan oleh Allah atas apa yang kita lakukan. Allah tidak pernah mendzolimi hambanya.

dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“. (HR. Bukhari)

Setiap ummatku pasti masuk surga, tetapi ada syaratnya yaitu mau taat kepada semua perintah Allah dan menjauhi larangan-nya. Berita-berita yang datangnya dari Allah wajib dipercayai dan dibenarkan. Maka in syaa Allah surga.

Ada pula Tsalbiyah, yaitu mencabut dan menolak bahwa Allah memiliki 'aib dan sifat sifat buruk. Dan mensucikan Allah dari sifat sifat tersebut. Allah tak lelah, Allah tak mengantuk apalagi tidur, Allah tak bodoh, Allah tak dzalim, Allah tak memaafkan dosa-dosa makhluk-Nya, dsb. Sebagaimana Allah  ﷻ berfirman:

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ   ۚ  لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ  ؕ  لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ  ؕ  مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِذْنِهٖ  ؕ  يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ  وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  ۚ  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ  وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا  ۚ  وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 255)

Ketika Allah maha berkuasa untuk mengapuskan dosa hamba-hambanya, bukan berati seseorang itu mempertahankan dan bersandarkan kepada dosa-dosa yang dimikinya atas keleluasaan Allah memberikan atau mengampuni dosa hambanya. Maka orang itu belum mengenal kerasnya Adzab Allah ﷻ.

Imam Hasan Al-bashri mengatakan, orang yang mu'min itu mengumpulkan amal dengan rasa  takut. Adapun orang munafik adalah orang yang terus melakukan keburukan, tapi merasa aman dengan adzab Allah ﷻ.

Nikmat yang besar yang dapat kita rasakan adalah menjalankan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ dan tidak membuat suatu perkara yang baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Segala aspek yang menjadi tuntunan dalam beribadah ada pada Rasulullah ﷺ yang diwarisi kepada sahabatnya dan orang orang setelahnya.

Wallahu'alam
#ResumeKajian 

Komentar

Postingan Populer