UST. DANNI NURSALIM - KITAB AL-USHUL TSALATSAH

KITAB AL-USHUL TSALATSAH
Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi (Rahimahullah)

Hari/Tanggal : Selasa, 10 Jumadil Awal 1438 H
Tempat : Masjid LIPI Bandung
Pemateri : Ustadz Danni Nursalim Lc.
Resume Oleh :
- Yudhistira Adhi (Teknik Geologi Unpad 2016)
- Ratna Utami Dewi (FTI - ITB 2014)



***
Kitab ini dimulai dengan bacaan
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Syaikh Utsaimin mengatakan, ingin mendapatkan berkah dari Allah subhanahu wa taalla.

Syaikh muhammad ibn Abdul Wahhab at Tamimi mengajarkan kepada kita untuk memulai segala sesuatu dengan basmalah untuk mencari ridha Allah Ta'ala. Pengucapan basmallah akan menjadikan perbuatan menjadi sebuah ibadah.

Pengertian Ibadah : Nama yang mencakup semua yang dicintai dan di ridhoi Allah Subhanahu Wa Taalla baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang bathin.

Menurut syaikh Utsaimin, Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti/tidak ada keraguan didalamnya.
Syarat ilmu :
1. Sesuai dengan kenyataan
2. Pasti/tidak ada ragu.
Contoh : Adanya Allah subhanahu wa taalla.



Pengetahuan terbagi menjadi 6 macam :
1. Ilmu
Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti/tidak ada keraguan didalamnya.




2. Kebodohan yang ringan - Tidak tau apa apa.
Terbagi menjadi 2 :
- Kebodohan yang tercela = tidak tau sesuatu yang penting bagi dirinya.
Contoh : seseorang tidak tau tatacara salat yang benar sesuai dalil.
- Kebodohan yang tidak tercela





3. Kebodohan yang parah (berlapis)
Memiliki 2 definisi.
   3a. Mengetahui sesuatu tapi tidak sesuai dengan kenyataan/realita.
Contoh : menjadikan orang kafir sebagai pemimpin
   3b. Tidak tau dan tidak tau kalau dirinya tidak tau.
Contoh : orang yang sulit dinasehati ketika salah dalam sholat karena merasa sudah bertahun-tahun mendirikan sholat.




4. Mengetahui sesuatu tetapi kemungkinan besar salah pengetahuannya.




5. Mengetahui sesuatu yang benar salahnya kemungkinannya 50:50 (mungkin benar, mungkin salah)
Contoh : Terasa buang angin ketika sholat dan ragu apakah sholatnya batal.




6. Mengetahui sesuatu yang kemungkinan besar adalah benar.
Contoh : berprasangka seseorang memakan makanan kita karena melihat bukti penunjang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563





Ilmu ada 2, yaitu :
1. Ilmu dhoruri, tidak perlu dipelajari (dapat diketahui tanpa belajar)
Contoh : mengetahui bahwa api itu panas


2. Ilmu nazori, tidak diketahui kecuali dengan cara belajar. Contoh : mengenal Allah subhanahu wa talla, rukun iman, cara shalat.






Kita wajib mempelajari empat permasalahan :
1. Ilmu
ارنء ىحب عل
Ilmu mengenal Allah subhanahu wa taalla, ilmu mengenal nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan ilmu mengenai agama islam.
Islam memiliki arti umum dan khusus, umum = yang dibawa semua nabi (aqidah) dari Nabi Adam 'alaihi salam hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; khusus = yang dibawa nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (aqidah dan syariah).




2. Mengamalkan Ilmu
Tujuan belajar untuk diamalkan. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tidak berbuah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”[3].[3] HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.




3. Mendakwahkan ilmu yang kita pelajari.
Mendakwahkan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dakwah bisa dengan ucapan, perbuatan dan tulisan.  Tujuan dakwah bukan untuk mencari pengikut melainkan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara sebaik mungkin. Maka, ketika sudah berusaha maksimal namun tidak ada yang menerima dakwah kita, bukan berarti dakwah kita dikatakan gagal.





4. Sabar dalam berbagai gangguan dari mencari ilmu, mengamalkan dan berdakwah.

الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih utama dan yang berikutnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Apabila agamanya kokoh, semakin beratlah ujiannya, dan jika dalam agamanya ada kelembekan, dia diuji sesuai dengan agamanya. Tiada henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai melepaskannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi (no. 2398) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.)




Dalil mengapa kita harus menjalankan 4 hal tersebut.
Q.S. Al-Ashr : 1-3
وَٱلْعَصْرِ ﴿١﴾
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ ﴿٢﴾
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ ﴿٣﴾

(1) "Demi masa."
(2) "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,"
(3) "kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Maka sesungguhnya hanya orang beriman lah yang tidak merugi, dan cara untuk beriman haruslah dengan berilmu.

Sabar sendiri ada 3 macam :
1. Sabar untuk taat
Contoh : shalat, puasa
2. Sabar untuk tidak melakukan maksiat
3. Sabar terhadap takdir Allah azza wa jalla.

#ResumeKajian
_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer