UST. RAEHANUL BAHRAEN - BEBERAPA KESALAHAN IKHWAN-AKHWAT YANG BARU "NGAJI"


Oleh : Ustadz dr. Raehanul Bahraen (Hafizhahullah)
Sumber : https://muslimafiyah.com/beberapa-kesalahan-yang-sering-dilakukan-ikhwan-akhwat-baru-ngaji.html





***
1. Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar




 فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Janganlah merasa bangga dan sombong, dan merasa diri kita akan selamat dari dosa dan maksiat karena baru mengenal dakwah ahlussunnah.




2.Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain



 وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141)

Biasanya orang pada poin ini terlalu semangat sehingga melupakan amanah yang diberikan kepadanya. Biasanya orang-orang seperti ini mudah kendor setelah beberapa masa.




3. Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah



 يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Janganlah memaksakan diri untuk mengikuti sesuatu yang sunnah namun berbuntut pada madharat yang lebih besar.

 درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak mafsadat didahulukan daripada mendatangkan mashlahat”

Perbanyaklah berdiskusi dengan ustadz dan orang yang berilmu jika mendapatkan seuatu dalam agama yang berat dan sesak terasa jika kita jalankan.



4. Keras dan kaku dalam berdakwah



 يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” (HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmu no.69)

Terkadang seseorang langsung memberikan materi mengenai ajaran sunnah yang masih awam di masyarakat. Seharusnya ia mengambil tema tauhid dan keindahan serta kemudahan dalam islam. Bukan mengajari bahwa ini itu adalah bid'ah, isbal itu dilarang, cadar, dan banyak lagi.



5. Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar



 الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. (HR. Muslim 55/95)

Nasehat adalah menghendaki kebaikan. Dengan debat apalagi ditambah kata-kata kasar tak mungkin nasihat bisa tersampaikan. Fir'aun yang mengaku Tuhan pun harus didakwahi dengan kata lemah lembut, apalagi orang lain.




6. Menganggap orang di luar dakwah ahlus sunnah sebagai saingan bahkan musuh




 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Berbuat baiklah kepada sesama Muslim. Sampaikan salam, serta berperilaku  baik kepada mereka. Mereka tetap saudara kita dan masih berhak mendapatkan hak-hak persaudaraan.




7. Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/tokoh agama tertentu



يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Terlalu sering membicarakan masalah ini biasanya akan melalaikan seseorang dari mempelajari tauhid, akidah, akhlak, fiqh, serta hukum-hukum lainnya yang bersifat fardhu 'ain.

Seharusnya kita lebih banyak mencari kesalahan kita, merenungi dosa-dosa kita yang banyak. Ini lebih baik daripada membicarakan orang lain.



8. Tidak serius belajar bahasa Arab



وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah).

Ilmu agama dalam bahasa selain Arab sangat terbatas. Seseorang akan merasa bosan karena bahasan yang dia dalami dalam suatu bahasa hanya itu itu saja.

Dengan bahasa Arab, kita bisa mudah menghapal Al-Quran dan hadist, mudah tersentuh dengan Al-Quran, memahami buku-buku ulama. Hanya orang yang menguasai bahasa arab yang bisa merasakan manisnya menuntut ilmu.




9.  Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119)

Sangat mudah untuk seseorang yang baru mengaji dan tak memiliki lingkungan dan rekan yang mendukungnya, untuk kembali lagi ke keadaan di semula. Banyak sekali orang yang down karena permasalahan ini.




10. Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang shalih serta tengelam dengan kesibukan dunia



 تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا

 “Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas”. (HR.Muslim no 144)

Inilah masalah terbesar mengapa iman kita turun. Poin ini memiliki dampak yang sangat berbahaya, yaitu:
- merasa kepayahan karena mengenal dakwah ahlussunnah
- dakwah tak diterima orang
- merusak nama dakwah ahlussunnah
- memecah belah persatuan Islam

***
"Ih kang kurang ngerti."

Iya lah, ini versi rangkumannya. Nih versi lengkapnya https://muslimafiyah.com/beberapa-kesalahan-yang-sering-dilakukan-ikhwan-akhwat-baru-ngaji.html

Sebarkan
_______________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer