DIABAIKAN-NYA - Ust. Subhan Bawazier
Pemateri : Ustadz Subhan Bawazier
Tempat : Masjid Agung Al-Azhar, Jl. Sisingamaraja, Kebayoran Baru, Jak-Sel
Tanggal : 9 Rajab 1438 H / 5 April 17
Waktu : Ba’da Isya
***
Kita bersyukur karena sampai hari ini kita masih disempatkan untuk menuntut ilmu karena derajat kita akan naik karenanya.
Dampak maksiat dapat memiliki efek yang beragam yaitu :
1. Masa lalu, maka rasa malu kita lama-kelamaan akan hilang, ketika rasa malu hilang itu berhubungan pada keimanannya karena dalam suatu hadits riwayat Ibnu Majah No. 4174, Bukhari No. 23, Bukhari No, 5653 yang berderajat shahih dimana dari Abu Bakrah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Malu itu sebagian dari Iman, dan Iman akan berada di surga. Sedangkan perkataan kotor termasuk dari perangai buruk, dan perkataan buruk akan berada di neraka.”.
2. Masa kini, diabaikan-Nya
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’.”
Diabaikan-Nya . . .
Kebayangkah ketika kita beragama untuk Allah. Tetapi Allah mengabaikan kita?
Ada sebuah ayat dimana Allah beri tahu manusia agar untuk sadar bagaimana seharusnya orang yang beriman untuk memanfaatkan waktu di atas dunia untuk akhirat.
Allah subhanahu wa ta'alla berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr : 18)
“Dan janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Q.S. Al-Hasyr : 19)
Hendaknya setiap jiwa melihat setiap perbuatannya di dunia apakah sudah bisa menjadi modal untuk akhirat kelak. Banyak orang menganggap dirinya di dunia hanyalah untuk dunia semata. Namun, islam tidak begitu dalam surat Adz-dzariya (51) ayat 56 yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.
Ketika seeorang yang beriman saja bisa tergoda dengan menganggap dirinya sudah dijauhi atau sudah tidak berbuat dosa lagi. Ingatlah bahwa teman, sahabat, keluarga, guru, pemimpin, dan semua manusia itu memiliki Iman yang naik dan turun, apalagi kalau tak beriman?
Tolong jangan kamu serupai dengan orang yang melupkan Allah. Kemudian dirimu jatuh lalu kamu berprasangka buruk kepada Allah?. Dalam sebuah hadits Qudsi, Mutafaqun ‘alaih yang berisi ,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “ Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku. Aku selalu bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatKu pada dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diriKu, dan jika ia mengingatnya perkumpulan, maka Aku mengingatnya da,lam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka . . .”
Lalu dalam sebuah hadits dimana Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “ Anak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat : Jagalah Allah, niscaya kau dapati dihadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka itu tidak akan terjadi kecuali Allah tetapkan untuk dirimu. . .”
Bukan hanya yang wajib dilakukan namun sunnah pun di rutinkan jika diri seseorang senantiasa menjauhkan dirinya dalam kemaksiatan. Berbeda dengan seorang yang selalu berbuat maksiat, jangankan yang sunnah maka yang wajibnya akan ditinggalkan.
Jikalau orang yang berilmu maka ia kan tahu kalau yang sunnah itupun harus dilakukannya.
Tak hanya sebagai pengguggur sebuah kewajiban.
Al-Muddassir (74) 1-3 yang artinya :
“Wahai orang yang berselimut!”
“Bangunlah, lalu berilah peringatan!”
“Dan agungkanlah Tuhanmu”
Ini merupakan bentuk dakwah, dimana setiap pendakwah harus selalu mengagunggkan Tuhannya . Karena nanti jika seorang menyampaikan kebaikan pada nya, namun orang yang diberi peringatan melakukan apa yang diperingati namun bukan karena Allah melainkan karena melihat orang yang menyampaikan kepadanya
Janganlah sampai kau sampaikan sesuatu karena dirimu bisa memberi hidayah, karena yang memberi hidayah ialah Allah, bukan dirimu. Karena dirimiu hanyalah bagian dari proses dari kebaikan. Ketika seorang mengerjakan suatu kewajiban dan menganggap suatu kewajiban yang dibebankan kepada dirinya hanyalah untuk menguggurkan suatu perintahNya namun ia tak berdampak pada dirinya. Boleh jadi Allah mengabaiknannya.
Kita disuruh membalikkan semua hal dan hukum kepada agama apabila didapati suatu perbedaan. Namun, masih saja ada yang mau memisahkan suatu politik dengan agama. Padahal dalam agama dari hal yang sepele diajarkan seperti buang ludah dan buang hajat.
Sampaikan (berkomunikasilah) kepada manusia sesuai kadar kemampuan akal mereka. Ada orang yang senang sekali beradu dengan logika seperti orang filsafat dan liberal. Bayangkan jika sebuah agama berdasarkan logika yang ada hanyalah kekacauan. Dalam permasalahan wudhu misalnya. Ketika seseorang telah berwudhu lalu ia kentut maka batal lah wudhunya. Mereka (pengguna logika) beranggapan yang harus dibasuh hanyalah bokongnya, mereka beranggapan apa hubungannya bokong dengan wajah (wudhu kembali dengan sempurna). Lalu kasus ketika seseorang yang sudah berwudhu yang mengenakan alas kaki (kaos kaki misalnya) kemudian dia batal. Ketika ia mengambil wudhu kembali tanpa melepaskan alas kakinya dan pada bagian kaki hanya mengusap bagian atas. Ketika mereka( pengguna logika) pasti beranggapan kenapa tak bagian bawah yang di usap? Kan kotor yang bawahnya.
Itulah sebagian contoh kekacauan apabila beragama hanya membesarkan pikiran logikanya, apalagi dalam masalah pemerintahan. Jadi, Orang Filsafat dan Liberal hanya sekadar berkata, ”Betul ya?” Salah satu azab Allah yang menyeramkan ialah mendiamkan orang yang bermaksiat kepada Allah. (diabaikanNya) Jika orang yang berilmu pasti setelah ibadahnya, maka ia akan buru’’ menghisab dirinya. Apakah dirinya telah bermaksiat atau melupakan dirinya.
Ketka sesorang mengutamakan logika apalagi pemimpin dengannya ingin menjaga keamanan dengan mengirim tentara dan polisi ke jalan. Bukan itu cara yang ampuh. Karena Allah menjelaskan bahwa sholat itu menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar jadi intinya bagaimana cara membuat orang-orang senangg sholat. Lalu bukannya membuat banyak masjid, musholla di tiap persimpangan namun kosong penghuni.
Seharusnya agama (islam ) membuat dirinya mulia, sehingga ketika menjalankan agama membuat dirinya semakin aman. Jangan seperti seorang wanita ketika baru berhijrah lalu masih mengenakan kerudung bentuk punuk onta, bentuk cone ice cream. Tidak mengapa, kita jangan mencela dia karena itu merupakan proses dari hijrah. Namun jangan sampai ketika sudah berhijab lalu bercadar malah nge-DJ. Ketika niat sudah lurus dalam menuntut ilmu maka ilmu akan mendatangimu. Jika cara salah dalam menuntut ilmu maka ilmu yang didapat tak benar Sunnah itulah yang mendatangkan cintaNya Allah
Yang namanya Kalamullah itu ma’sum, memang ayat yang sudah diturunkan oleh Allah al ma’idah ayat 3 bahwa Allah telah sempurnakan agama (Islam) ini ketika haji wada. Namun, fungsi nya itu sampai hari kiamat fungsinya sampai kiamat kelak.
Yahudi dan Nasrani tak akan rela sampai orang Islam mengikuti jalannya. Jangan kalian ikuti orang-orang yang melupakannya dirinya. Ibadah yang dilakukannya tak ada manfaat bagi dirinya jika kita mulai melupakan diri kita. Ada kala nya kita tertolong melalui orang-orang lemah disekitar kita, karena mereka senang dengan keberadaan kita. Tugas kita itu berdoa, beramal. Ada beberapa takdir yang bisa di rubah, namun ada beberapa yang tidak bisa dirubah misalnya, miskin. Bodoh tidak paham ilmu. Agama ini nasihat .Jalankan agama dengan baik. Agar setiap menjalankan Setiap ibadah yang dilakukan sudah seharusnya membuat dirinya semakin baik. Jika Allah ingin memberi hidayah kepada kita maka janganlah kita melupakan diri kita
____________________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
Website : hunter-unpad.blogspot.co.id
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g
Tempat : Masjid Agung Al-Azhar, Jl. Sisingamaraja, Kebayoran Baru, Jak-Sel
Tanggal : 9 Rajab 1438 H / 5 April 17
Waktu : Ba’da Isya
***
Kita bersyukur karena sampai hari ini kita masih disempatkan untuk menuntut ilmu karena derajat kita akan naik karenanya.
Dampak maksiat dapat memiliki efek yang beragam yaitu :
1. Masa lalu, maka rasa malu kita lama-kelamaan akan hilang, ketika rasa malu hilang itu berhubungan pada keimanannya karena dalam suatu hadits riwayat Ibnu Majah No. 4174, Bukhari No. 23, Bukhari No, 5653 yang berderajat shahih dimana dari Abu Bakrah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Malu itu sebagian dari Iman, dan Iman akan berada di surga. Sedangkan perkataan kotor termasuk dari perangai buruk, dan perkataan buruk akan berada di neraka.”.
2. Masa kini, diabaikan-Nya
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’.”
Diabaikan-Nya . . .
Kebayangkah ketika kita beragama untuk Allah. Tetapi Allah mengabaikan kita?
Ada sebuah ayat dimana Allah beri tahu manusia agar untuk sadar bagaimana seharusnya orang yang beriman untuk memanfaatkan waktu di atas dunia untuk akhirat.
Allah subhanahu wa ta'alla berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr : 18)
“Dan janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Q.S. Al-Hasyr : 19)
Hendaknya setiap jiwa melihat setiap perbuatannya di dunia apakah sudah bisa menjadi modal untuk akhirat kelak. Banyak orang menganggap dirinya di dunia hanyalah untuk dunia semata. Namun, islam tidak begitu dalam surat Adz-dzariya (51) ayat 56 yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.
Ketika seeorang yang beriman saja bisa tergoda dengan menganggap dirinya sudah dijauhi atau sudah tidak berbuat dosa lagi. Ingatlah bahwa teman, sahabat, keluarga, guru, pemimpin, dan semua manusia itu memiliki Iman yang naik dan turun, apalagi kalau tak beriman?
Tolong jangan kamu serupai dengan orang yang melupkan Allah. Kemudian dirimu jatuh lalu kamu berprasangka buruk kepada Allah?. Dalam sebuah hadits Qudsi, Mutafaqun ‘alaih yang berisi ,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “ Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku. Aku selalu bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatKu pada dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diriKu, dan jika ia mengingatnya perkumpulan, maka Aku mengingatnya da,lam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka . . .”
Lalu dalam sebuah hadits dimana Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “ Anak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat : Jagalah Allah, niscaya kau dapati dihadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka itu tidak akan terjadi kecuali Allah tetapkan untuk dirimu. . .”
Bukan hanya yang wajib dilakukan namun sunnah pun di rutinkan jika diri seseorang senantiasa menjauhkan dirinya dalam kemaksiatan. Berbeda dengan seorang yang selalu berbuat maksiat, jangankan yang sunnah maka yang wajibnya akan ditinggalkan.
Jikalau orang yang berilmu maka ia kan tahu kalau yang sunnah itupun harus dilakukannya.
Tak hanya sebagai pengguggur sebuah kewajiban.
Al-Muddassir (74) 1-3 yang artinya :
“Wahai orang yang berselimut!”
“Bangunlah, lalu berilah peringatan!”
“Dan agungkanlah Tuhanmu”
Ini merupakan bentuk dakwah, dimana setiap pendakwah harus selalu mengagunggkan Tuhannya . Karena nanti jika seorang menyampaikan kebaikan pada nya, namun orang yang diberi peringatan melakukan apa yang diperingati namun bukan karena Allah melainkan karena melihat orang yang menyampaikan kepadanya
Janganlah sampai kau sampaikan sesuatu karena dirimu bisa memberi hidayah, karena yang memberi hidayah ialah Allah, bukan dirimu. Karena dirimiu hanyalah bagian dari proses dari kebaikan. Ketika seorang mengerjakan suatu kewajiban dan menganggap suatu kewajiban yang dibebankan kepada dirinya hanyalah untuk menguggurkan suatu perintahNya namun ia tak berdampak pada dirinya. Boleh jadi Allah mengabaiknannya.
Kita disuruh membalikkan semua hal dan hukum kepada agama apabila didapati suatu perbedaan. Namun, masih saja ada yang mau memisahkan suatu politik dengan agama. Padahal dalam agama dari hal yang sepele diajarkan seperti buang ludah dan buang hajat.
Sampaikan (berkomunikasilah) kepada manusia sesuai kadar kemampuan akal mereka. Ada orang yang senang sekali beradu dengan logika seperti orang filsafat dan liberal. Bayangkan jika sebuah agama berdasarkan logika yang ada hanyalah kekacauan. Dalam permasalahan wudhu misalnya. Ketika seseorang telah berwudhu lalu ia kentut maka batal lah wudhunya. Mereka (pengguna logika) beranggapan yang harus dibasuh hanyalah bokongnya, mereka beranggapan apa hubungannya bokong dengan wajah (wudhu kembali dengan sempurna). Lalu kasus ketika seseorang yang sudah berwudhu yang mengenakan alas kaki (kaos kaki misalnya) kemudian dia batal. Ketika ia mengambil wudhu kembali tanpa melepaskan alas kakinya dan pada bagian kaki hanya mengusap bagian atas. Ketika mereka( pengguna logika) pasti beranggapan kenapa tak bagian bawah yang di usap? Kan kotor yang bawahnya.
Itulah sebagian contoh kekacauan apabila beragama hanya membesarkan pikiran logikanya, apalagi dalam masalah pemerintahan. Jadi, Orang Filsafat dan Liberal hanya sekadar berkata, ”Betul ya?” Salah satu azab Allah yang menyeramkan ialah mendiamkan orang yang bermaksiat kepada Allah. (diabaikanNya) Jika orang yang berilmu pasti setelah ibadahnya, maka ia akan buru’’ menghisab dirinya. Apakah dirinya telah bermaksiat atau melupakan dirinya.
Ketka sesorang mengutamakan logika apalagi pemimpin dengannya ingin menjaga keamanan dengan mengirim tentara dan polisi ke jalan. Bukan itu cara yang ampuh. Karena Allah menjelaskan bahwa sholat itu menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar jadi intinya bagaimana cara membuat orang-orang senangg sholat. Lalu bukannya membuat banyak masjid, musholla di tiap persimpangan namun kosong penghuni.
Seharusnya agama (islam ) membuat dirinya mulia, sehingga ketika menjalankan agama membuat dirinya semakin aman. Jangan seperti seorang wanita ketika baru berhijrah lalu masih mengenakan kerudung bentuk punuk onta, bentuk cone ice cream. Tidak mengapa, kita jangan mencela dia karena itu merupakan proses dari hijrah. Namun jangan sampai ketika sudah berhijab lalu bercadar malah nge-DJ. Ketika niat sudah lurus dalam menuntut ilmu maka ilmu akan mendatangimu. Jika cara salah dalam menuntut ilmu maka ilmu yang didapat tak benar Sunnah itulah yang mendatangkan cintaNya Allah
Yang namanya Kalamullah itu ma’sum, memang ayat yang sudah diturunkan oleh Allah al ma’idah ayat 3 bahwa Allah telah sempurnakan agama (Islam) ini ketika haji wada. Namun, fungsi nya itu sampai hari kiamat fungsinya sampai kiamat kelak.
Yahudi dan Nasrani tak akan rela sampai orang Islam mengikuti jalannya. Jangan kalian ikuti orang-orang yang melupakannya dirinya. Ibadah yang dilakukannya tak ada manfaat bagi dirinya jika kita mulai melupakan diri kita. Ada kala nya kita tertolong melalui orang-orang lemah disekitar kita, karena mereka senang dengan keberadaan kita. Tugas kita itu berdoa, beramal. Ada beberapa takdir yang bisa di rubah, namun ada beberapa yang tidak bisa dirubah misalnya, miskin. Bodoh tidak paham ilmu. Agama ini nasihat .Jalankan agama dengan baik. Agar setiap menjalankan Setiap ibadah yang dilakukan sudah seharusnya membuat dirinya semakin baik. Jika Allah ingin memberi hidayah kepada kita maka janganlah kita melupakan diri kita
____________________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
Website : hunter-unpad.blogspot.co.id
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g



Komentar
Posting Komentar