KAJIAN USTAD ABU HAIDAR - MENGANGAN-ANGANKAN KEMATIAN (Syarah Bulughul Mahram)


Pemateri : Ustadz Abu Haidar As-Sundawy (Hafizhahullah)
Tempat : Masjid Raya Cipaganti Bandung
Hari/Tanggal : Sabtu, 26 Rabiuts Tsani 1438 H



***
Hadits kedua : hukum mengangan-angankan kematian


Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:


لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي


“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa ia mengharapkannya, maka hendaknya dia berdoa, “Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.” (HR. Al-Bukhari no. 5671 dan Muslim no. 2680)


Kemudian diperkuat oleh hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dengan isi sama dan lafadz berbeda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا


“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah dia berdoa untuk mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan.” (HR. Muslim no. 2682)


Syarah perkata


 لَا يَتَمَنَّيَنَّ

Adalah larangan yang disertai penekanan. Maka jangan berdoa meminta kematian baik secara lisan maupun di dalam hati.


لِضُرٍّ نَزَلَ بِه

Kemudharatan, contohnya sakit fisik yang melahirkan penderitaan dalam jangka waktu lama.


فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا

Kalau dia harus mengangankan kematian. Harus = darurat untuk menyelamatkan agamanya, misalnya kehidupan dapat membuat dia murtad akibat siksaan, tekanan, atau godaan.


Penggunaan اللَّهُمَّ (Allahumma) dalam doa

Maknanya bukan sekadar "ya Allah" saja. Maknanya :

1. Mengedepankan Allah, mengagungkan lafadz Allah dengan meletakkan lafadz Allah didepan.

Maka ketika berdoa dengan اللَّهُمَّ wajib ada rasa pengagungan dalam diri.


2. Tabarruq  (mengharapkan berkah) kepada nama Allah. Menyebut nama Allah dalam segala hal memiliki efek dahsyat.


Diantara efek dahsyat penyebutan nama Allah :

saat makan, syaithan tidak bisa ikut makan; saat masuk rumah, membaca bismillah dan salam, maka syaithan di dalam rumah tidak akan mendapat tempat tinggal di malam hari; ketika menjelang maghrib gorden, pintu, makanan dan minum ditutup lalu disebut nama Allah maka tidak akan disentuh dan dimasuki syaithan; Masuk wc dengan membaca basmallah, akan menutup pengelihatan jin dari diri diri kita; berdoa sebelum melakukan hubungan suami-istri, kalau Allah mentakdirkan, anak hasil hubungan itu tidak dapat dimudharatkan syaithan.


3. Untuk memberi makna pengkhususan bahwa ini hanya boleh dilakukan kepada Allah Subhana wata'ala.

Kaidah "mendahulukan ma'mul dari amil' memberi makna khusus dan dipentingkan"

Kalau objek diawalkan, berarti objek dikhususkan dan dipentingkan.

Maka bila berdoa dengan "Allahumma" tetapi tidak khusyuk dan mengingat dunia, maka ada sebuah kontradiksi antara lisan dan hati kita.


  أَحْيِنِي

Hidupkan aku  = bukan tadinya mati terus dihidupkan, maknanya teruskan kehidupanku, tetapkan kehidupanku.


خَيْرًا لِي


Selama kehidupan ini lebih baik bagi diriku.

Lebih baik dari segi apa?

Syaikh Utsaimin rahiimahullah : kenapa manusia meminta dengan menyerahkan keputusan kepada Allah? Karena manusia tidak tahu apa lebih baik hidup atau mati.


Kebanyakan orang menganggap hidup lebih baik dari pada kematian, padahal belum tentu demikian. Kadang-kadang untuk orang tertentu, kehidupan lebih buruk. Contohnya orang kafir, karena semakin panjang hidupnya maka semakin banyak kedurhakaannya.


وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ


Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

QS. Al-Imran : 178


Kadang manusia tidak sabar ketika melihat orang kafir yang jahat. Mengapa Allah tidak segera mematikan dan mengazab mereka?


فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ


Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menipu mereka (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,

QS. Al-Qalam : 44


سَنَسْتَدْرِجُهُمْ

Diartikan menipu, dalam artian mereka menganggap apa yang mereka dapatkan adalah nikmat, padahal bukan.

Orang yang terus bermaksiat terus, tapi harta terus bertambah, jabatan terus meningkat, itu merupakan tipu daya dari Allah.


وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ


dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya tipu daya Ku amat tangguh.


Beda bila seseorang diangkat hanya setengah meter, dijatuhkan tidak akan separah orang yang diangkat sampai tinggi, misal 10 meter, lalu dijatuhkan. Allah memberi penangguhan kepada sebagian orang yang durhaka, tidak langsung memberikan azab. Orang kafir dahulu berdoa kepada Allah untuk membuktikan kebenaran agama Islam dengan menurunkan hujan batu atau azab yang pedih. Lalu Allah menjawab, dalam QS. Al-Anfal : 33


وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ


Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.

__________________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
Website : hunter-unpad.blogspot.co.id
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer