KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN #2 - Ust. Abu Haidar (Kitab Syarah Riyadhus Shalihin)


Ahad, 12 Rajab 1438 H / 9 April 2017 M

Bertempat di : Masjid Al Furqon - Jl. Jurang, Bandung

Bersama : Ustadz Abu Haidar As-Sundawy-Hafizhahullah

Pukul : 09.00-11.00



***
Hadits ke-5

dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ.”


“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca al-Qur-an bagaikan buah utrujjah, baunya semerbak dan rasanya sedap. Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur-an bagaikan kurma yang tidak berbau namun rasanya manis. Dan perumpamaan seorang munafik yang membaca al-Qur-an, bagaikan raihaanah baunya sedap dan rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca al-Qur-an, bagaikan hanzhalah tidak mempunyai bau dan pahit rasanya.”

Shahih al-Bukhari (VI/115) Kitaab Fadhaa-ilil Qur-aan bab Itsmu Man Raa’-ya bi Qiraa-atil Qur-aan au Ta-akkala bihi au Fakhara bihi dan Shahih Muslim (I/549) Kitaabush Shalaatil Musaafiirin bab Fadhilatu Haafizhil Qur-aan, lafazh hadits ini dari riwayat Muslim.


Berkata syaikh utsaimin rahimahullah, hadits ini dituliskan oleh mualif ketika menerangkan keadaan manusia ketika membaca Al-quran. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut 2 golongan yang membaca alquran, yaitu 


1. Orang mukmin 

a. Orang mukmin yang membaca Al-quran diibaratkan buat utrujjah yang wangi dan manis. Makna manis yaitu jiwa dan hati nya baik, sedangkan makna wangi adalah didalam dirinya ada kebaikan untuk orang lain. Maka, orang seperti inilah yang patut dijadikan teman.


Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة


“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


Dalam potongan hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim juga disebutkan keutamaan bermajelis (duduk bersama orang mukmin dan berdzikir),


Allah berkata, ”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, hanya sekadar ikut duduk). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).” HR Bukhari, no. 6408; Muslim, no. 2689.


b. Orang mukmin yang tidak membaca al quran, di ibaratkan buah kurma yang tidak ada wangi nya tetapi rasanya manis. 

Maknanya, jiwanya ada kebaikan tetapi karena tidak membaca Al-Qur'an maka dia tidak bisa memberi manfaat bagi orang banyak. 


Makna tidak membaca Al-Qur'an yaitu tidak tau tata cara membaca Al-Qur'an dan tidak mempelajarinya. 


Ada kadar dari orang mukmin yang membaca Al-Qur'an, yaitu: 

      i. Orang yang membaca alquran tetapi tidak paham artinya. Ini bukan sia-sia, tetap ada 10 pahala setiap hurufnya.

      ii. Orang yang membaca dan paham tetapi tidak mengamalkan. 

     iii. Orang yang membaca, paham dan mengamalkan.

     iv. Orang yang membaca, memahami, mengamalkan dan mendakwahkan isi alquran tersebut. 

     v. Orang yang membaca, memahami, mengamalkan, mendakwahkan isi alquran tersebut dan membela nya. Dalam artian ketika alquran di hinakan dan disalah tafsirkan (istihza')


Allah Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya:


وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا


Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam. [an-Nisa’/4:140].


     vi. Orang yang membaca, memahami, mengamalkan, mendakwahkan isi alquran tersebut, membela, serta sabar dalam menerima risiko ketika mengajarkan alquran. 


Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’am: 112)


Keenam poin inilah yang menyebabkan seseorang terhindar dari kerugian, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Asr. 4 kriteria orang yang tidak mendapat kerugian (azab dan murka Allah) : 1. Iman (tercakup didalamnya adalah ilmu), 2. Amalan buah dari ilmu tersebut, 3. Saling mewasiatkan kebenaran, 4. Adanya risiko dakwah yang harus dihadapi dengan sabar.


2. Orang Munafik

a. Perumpamaan orang munafik yang membaca alquran seperti buah rihanah yang aromanya wangi tetapi rasanya pahit. Jadi dia bermanfaat bagi orang lain tetapi dirinya buruk, karena semua amalnya diniatkan untuk dunia.


b. Yang paling buruk adalah orang munafik yang tidak membaca alquran, dirinya busuk dan tidak memberikan manfaat kepada orang lain.

____________________
©Hunter Unpad 2017
Line@ ID : @vql7648g
Website : hunter-unpad.blogspot.co.id
https://line.me/R/ti/p/%40vql7648g

Komentar

Postingan Populer