UST. NUZUL DZIKRI - SAAT SEMUA BERPALING Part 1
***
Kita akan berbicara tentang sebuah peperangan besar yang terjadi di tahun 9 Hijriyah, yakni perang Tabuk. Kita akan berbicara tentang salah satu pahlawan dari cerita perang Tabuk. Jika kita berbicara pahlawan dalam sebuah peperangan maka kita akan berpikir ia adalah seorang panglima perang, pasukan yang handal, pemanah yang gagah dll.
Tapi tidak dengan pahlawan kita yang satu ini. Justru pada perang ini ia tak punya andil (tidak ikut perang). Ia khilaf. Yaa dia khilaf. Tapi ke-khilafan-nya tersebut mengantarkan ia menjadi seorang pahlawan dari sisi yang lain. Ia menjadi inspirator bagi orang orang yang mungkin pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, pernah melakukan hal bodoh dalam hidupya. Ia adalah Ka’ab ibn Malik (Seorang anshor dan termasuk ahli suffah).
Mari kita lihat apa kunci kesalahan beliau dan bagaimana beliau menyikapi kesalahannya,
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shohihnya, Ka’ab bercerita :
“Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tidak menegur orang-orang yang absen saat itu. Sebab Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam saat itu hanya ke luar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy. Dan tanpa ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Ta`ala mempertemukan kaum muslimin dengan musuh mereka.”
Penjelasan : Total peperangan ada 28, dan Ka’ab ikut semua peperangan kecuali Badr dan tabuk. Allahu Akbar! kita sedang berbicara tentang pemuda dan sekaligus tokoh besar. Ketika terjadi perang tabuk usianya sekitar 35 tahun.
Pelajaran dari pembukaan kisah ini adalah bahwa untuk beramal sholeh, untuk berubah itu tidak cukup dengan kekuatan diri sendiri.untuk masalah ibadah lagi lagi bukan masalah power atau pengalaman namun ini masalah taufiq dari Allah. Oleh karena itu setiap kita sholat kita diperintah untuk membaca اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (Ya Allaah tunjukilah Kami jalan yang lurus) dan jika kita sudah berada di jalan yang lurus tersebut artinya “Yaa Allah Istiqomahkanlah Kami di jalan ini”. Dan inilah alasannya mengapa do’a ini اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ kita baca 17 kali dalam sehari, karena kita butuh hidayah dan kekuatan dari Allaah. Oleh karena itu syiar kita adalah لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
Ka’ab melanjutkan ceritanya,
“Saya pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam pada malam (Baiatul) Aqabah, saat itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering dikenang oleh banyak orang!”
“Saya tidak pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang saat saya absen dalam perang itu (tabuk). Demi Allah, saya tidak pernah punya dua kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu (Tabuk) saya mempunyai dua kendaraan.”
Pada saat perang tabuk, Ka’ab sedang berada di top posisi. Secara fisik dan ekonomi kuat. Beliau tidak ikut perang tabuk tanpa udzur syar’i. Dan ini termasuk ke-gentle-an para sahabat-Rodhiyallaahu ‘anhum-. Tidak banyak alasan. Lagi-lagi Ka’ab mengajarkan bahwa untuk beramal sholeh itu perlu taufiq dari Allah.
Ka’ab melanjutkan ceritanya,
“Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berterus terang kepada para sahabat. Sebab, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam akan melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas. Beliau akan menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam menjelaskan semua ini pada para sahabat.”
Penjelasan : Madinah-Tabuk berjarak 620 KM dan perang itu terjadi di puncak musim panas. Dan disaat yang sama orang munafiq menghasut agar tidak keluar kota madinah karena cuaca sedang panas-panasnya. Lalu Allah pun langsung membantah قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚلَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ (Katakanlah: "Api neraka Jahannam itu lebih panas ", jikalau mereka mengetahui, At-taubah 81).
Maka katakanlah hal yang sama kepada Para Muslimah yang enggan menutup auratnya karena alasan kepanasan. “Api neraka Jahannam itu lebih panas ".
Jalur yang akan mereka tempuh adalah tempat dimana disana banyak gunung pasir yang mudah berpindah tempat, tidak ada patokan tempat. Dan begitu sampai disana kaum muslimin harus berhadapan dengan romawi (kekuatan terbesar pada saat itu). Diwaktu yang sama di Madinnah sedang panen Kurma. Dalam riwayat disebutkan bahwa 1 onta dipakai oleh 2 orang shahabat, saking tidak ada modal. Ketika di tengah perjalanan kelaparan, onta tersebut dipotong. Akhirnya mereka jalan kaki menuju Tabuk.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sengaja menjelaskan segala keadaan di tabuk dan diperjalanannya karena beliau ingin mengetahui sejauh mana iman para shahabatnya-rodhiyallahu ‘anhum. Beliau ingin melihat siapa yang munafiq dan siapa yang mengharapkan wajah Allah.
Hidup adalah ujian. Jika kita mendengar ayat yang berbicara tentang keutamaan sahabat seperti dalam At-Taubah : 100
وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar)
Mereka mendapat jaminan surga itu tidak gratis, ada harga yang harus mereka bayar. Ada perjuangan dan kerja keras. Keimanan mereka terus diuji oleh Allah. Lalu, bagi kita yang baru berhijrah, sudah berapa kali Allaah uji keimanan kita?sudahkah kita survive diatas ujian itu? Ingatlah surat al-ankabut ayat 2
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
(Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji)
Lalu kita enggan diuji? Ingin mati langsung masuk surga? Demi Allah mustahil.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengatakan bahwa seseorang itu diuji sesuai dengan kadar keimanannya
***
RESPON ORANG BERIMAN KETIKA DIAJAK KE TABUK
Pengumuman itu disambut positif oleh kaum muslimin, mereka antusias. Gembiranya luar biasa.banyak yang ikut perang tabuk sampai tidak bisa terdata. Ada yang menyumbang harta, tenaga.
Diantara yang menyumbang harta adalah Abdurrahman ibn ‘Auf dengan 8.000 dirhamnya,Utsman ibn ‘Affan dengan 1.000 dinar dan 300 ekor unta perang,dan masih banyak lagi shahabat yg lain.
Lalu nabi bersabda (kurang kebihnya)”mulai hari ini,apapun maksiat yang dilakukan oleh utsman ibn ‘affan akan diputihkan oleh Allah” Dan di perang tabuk terjadi kompetisi antara Abu Bakar dan ‘Umar ibn Khottob. ‘Umar berpikir bahwa ia telah mengalahkan Abu Bakar karena pada hari ini ia telah menginfakkan setengah dari hartanya di jalan Allah. Namun dugaan ‘Umar salah, Abu Bakar ternyata menginfakkan seluruh hartanya di Jalan Allah.-Rodhiyallahu ‘anhumaa-
Lalu nabi bertanya kepada Abu Bakar “apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rosul-Nya.”
Ali ibn Abi Tholib diamanahi untuk menjaga kota Madinah yang didalamnya ada beberapa golongan yang tidak ikut berperang.awalnya Ali enggan, beliau ingin ikut berperang. Namun nabi berhasil membuat Ali setuju untuk menjaga Madinah.
Ada sebagian orang miskin yang minta dibawa ke tabuk, namun nabi tak punya modal untuk membawa mereka. Akhirnya mereka pulang dalam keadaan berlinang air mata. Menangis karena tidak bisa ikut perang, menangis karena tidak bisa ikut pasukkan yang kemungkinan besar akan membawa mereka pada kematian.
Sungguh malu jika kita menangis hanya karena masalah dunia.kita galau hanya karena di phk kerja?diputusin doi?
Ka’ab melanjutkan ceritanya,
Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan mereka. Tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Saya berkata dalam hati, ‘SAYA BISA BERSIAP-SIAP NANTI,KALAU AKU MAU.’ Begitulah, diulur-ulur, sampai akhirnya semua orang sudah benar-benar siap.
Akhirnya Ka’ab ditinggal oleh rombongan perang.
Penjelasan :
Itulah kunci kegagalan Ka’ab, MENGANDALKAN DIRI. Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24
وَلَا تَقُوۡلَنَّ لِشَاىۡءٍ اِنِّىۡ فَاعِلٌ ذٰ لِكَ غَدًا
(Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi)
وَاذۡكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيۡتَ وَقُلۡ عَسٰٓى اَنۡ يَّهۡدِيَنِ رَبِّىۡ لِاَقۡرَبَ مِنۡ هٰذَا رَشَدًا اِلَّاۤ اَنۡ يَّشَآءَ اللّٰهُ
(kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.)
Maka barangsiapa yang punya cita cita istiqomah, ia harus terus merasa diri kecil, merasa diri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan pertolongan Allah.
Abu Bakar pernah berdo’a
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا
أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مِنْ عِنْدِكَ مَغْفِرَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
(“Ya ALLAH, sesungguhnya aku telah menzalimi diri aku sendiri dengan kezaliman yang banyak sekali. Dan tidaklah ada yang dapat mengampunkan dosa-dosa melainkan hanya engkau. Maka berilah keampunan buatku dari sisiMU akan keampunan. Sesungguhnya ENGKAU Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”)
Kenapa nabi mengajarkan do’a ini kepada Abu Bakar, padahal Abu Bakar sosok yang luar biasa? Keikhlasannya Allah abadikan dalam surat Al-Lail, infaknya rajin. Jawabannya adalah agar kita tidak pernah mengandalkan kemampuan diri sendiri. Agar selalu minta advise kepada Allah.
Inilah alasan kenapa imam bukhori setiap hendak mencantumkan hadist pada kitabnya, beliau selalu istikhoroh. Pertanyaan bagi kita, sudah berapa kali kita istikhoroh?
Lihat para ulama, segalanya di kaitkan dengan Allah. Hatta judul buku mereka pun terkait dengan Allah. Misalnya فتح البرى. فتح artinya ‘pembukaan’ dan البرى ‘salah satu nama Allah’. Seakan akan mereka berkata “saya tidak bisa menulis buku seperti ini kalau tidak dibuka dan dimudahkan oleh Allah”.
Ka’ab melanjutkan ceritanya,
Ketika kafilah sudah pergi menuju Tabuk, masih ada harapan didalam hatinya. Ia berkata “tenang saja,saya anak muda saya kuat. Insyaa Allah saya bisa menyusul mereka”.
Tapi ada kendala yang membuat beliau tidak bisa menyusul rombongan perang. Akhirnya ia tak bisa menyusul rombongan perang itu.
Pelajaran : jangan suka menunda, menunda adalah salah satu prinsip orang gagal.
Ulama mengatakan bahwa menunda-nunda adalah salah satu bala tentara iblis.
Begitu juga dengan taubat, jangan pernah menunda taubat. Semakin kita menunda taubat semakin susah untuk taubat karena stadium kemaksiatan kita lebih parah dan menunda taubat akan berujung pada su’ul khotimah.
Ibnul Qoyyim mengatakan : kalau anda melihat pintu kebaikan ada di hadapan anda, maka masuklah dari pintu tersebut. Karena anda tidak tau kapan lagi pintu kebaikan itu terbuka lagi untuk anda.
Kalau untuk mendapatkan dunia yang hina saja kita tidak bisa menggunakan mental MENUNDA, lalu mungkinkah untuk mendapatkan akhirat kita gunakan mental MENUNDA?
Lalu kota madinah sepi. Karena rombongan perang sudah pergi ke Tabuk.
Ka’ab baru sadar bahwa yang ada di kota madinah hanya ada orang munafiq atau orang sakit. Beliau tidak menemukan orang yang seperti dirinya (sehat, dan mukmin) tinggal di kota Madinah pada saat itu, semua orang muslim yang mampu ikut berperang ke Tabuk.
Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang tinggal di madinah pada saat itu ada 4 kelompok yaitu :
1. Ali ibn Abi Tholib
2. Wanita, anak-anak, orang sakit dan yang punya udzur syar’i
3. Orang munafiq
4. Ka’ab ibn Malik bersama 2 shahabat lain yang senasib.
Ka’ab sadar, bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Beliau sedih karena disekelilingnya hanya ada orang-orang munafiq. Bagaimana dengan kita? Kok ga risih ya ketika kita dikelilingi orang-orang yang bermaksiat kepada Allah?!Siapkah kita dibangkitkan bersama orang orang yang bermaksiat kepada Allah?
Hati Ka’ab menjerit, Ka’ab menangis. Tapi ia sudah tertinggal jauh.
Insyaa Allah berlanjut hingga ke part 7



Komentar
Posting Komentar